Panen Bulan Maret Pengaruhi Harga Beras di Pasaran

0

Mataram (Suara NTB) – Harga beras di pasar tradisional terpantau sudah mulai sedikit terjadi penurunan. Hal ini salah satunya karena faktor dimulainya panen padi di sebagian area pertanian di NTB. Meskipun belum panen raya, namun stok beras di masyarakat hari hasil panen sudah mulai terpenuhi.

Berdasarkan data perkembangan harga rata-rata bahan pokok per 7 Maret 2024 terlihat harga beras medium di NTB antara Rp15.000 – 16.000 per kg. Sementara beras premium Rp15.750 hingga 17.667 per kg tergantung merek.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB Baiq Nelly Yuniarti mengatakan, pihaknya sudah melihat harga beras berangsur turun meskipun belum banyak. Harga beras yang beransur turun akan berdampak pada terkendalinya inflasi daerah.

“Alhamdulillah kita sudah mulai panen meskipub tidak panen raya. Tapi dengan adanya panen di sejumlah titik, itu sudah mempengaruhi harga beras,” kata Baiq Nelly Yuniarti kemarin.

Ia meminta masyarakat agar tetap tenang dan tak panik dengan harga beras ini. Sebab selain sudah mulai musim panen,  pemerintah bersama Bulog juga masih tetap konsisten melakukan operasi pasar (OP). Tidak hanya di pasar-pasar tradisional, namun juga ke desa-desa dan kelurahan.

“Penyelenggara memang menggunakan kupon untuk membatasi desak-desakan. Kami akan terus melakukan OP sehingga tak perlu khawatir. Cuma nanti titik-titiknya akan pindah,” katanya.

Dalam pelaksanaan OP katanya, masyarakat biasanya dibatasi membeli satu hingga dua pcs beras SPHP ukuran 5 Kg. Pembatasan dilakukan agar beras murah ini merata di masyarakat. “Kemarin kita mencoba sasar Lombok bagian selatan dulu karen kekeringannya kan di sana seperti di Ekas, Kuta, dan lainnya,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah mengatakan, di semua kabupaten/kota di NTB sudah mulai panen. Bahkan awal Maret ini menjadi pintu masuk panen raya.

Sesuai dengan data kerangka sampel area Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, ada potensi panen yang cukup besar. Di NTB luas area potensi panen mencapai 39.825 hektare dengan produksi mencapai 204.352 ton GKG.

“Daerah-daerah yang besar area panennya itu di wilayah Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Barat. Kalau di Pulau Sumbawa meliputi Kabupaten Bima, Sumbawa dan Dompu,” ujarnya.

Lalu Mirza mengatakan, akibat El Nino ini, petani terlambat melakukan penanaman padi hampir dua bulan, sehingga panen raya menjadi ikut mundur. Jika di tahun lalu panen raya digelar bulan Februari, namun tahun ini panen raya di bulan Maret hingga akhir Juni.

“Sekali lagi kita ini sudah mulai panen. Sebenarnya bisa kita bilang kita tidak usah takut dulu lah terhadap stok di dalam daerah, karena kita sudah mampu untuk menjaga di daerah sendiri,” tegasnya.(ris)