Perubahan Iklim Pengaruhi Pertanian Petani di Loteng Ikuti Sekolah Lapang Iklim

0

Mataram (Suara NTB)– Kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan perekonomian dinilai sudah semakin menurun. Salah satu penyebab penurunan pada sektor pertanian adalah akibat adanya perubahan iklim yang tidak menentu. Hal tersebut memberikan dampak besar bagi keberalangsungan pada sektor pertanian.

Perubahan iklim yang terjadi saat ini dipengaruhi sejumlah unsur iklim dan komponen alam yang erat kaitannya dengan pertanian, yaitu naiknya suhu udara yang berdampak pada unsur iklim lainnya, terutama kelembapan dan dinamika atmosfer. Selain itu, berubahnya pola curah hujan dan semakin meningkatnya intensitas kejadian iklim ekstrem seperti  El-Nino dan La-Nina.

Terjadinya perubahan iklim tersebut berdampak langsung pada pergeseran musim yang menyulitkan para petani menetukan masa tanam dan masa panen bagi tanaman mereka. Selain itu, fluktuasi suhu dan kelembapan udara yang semakin meningkat dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman.

Karena itulah BMKG bersama Konsepsi melalui program Aksi Ketahanan Iklim Inklusif berbasis komunitas bekerjasama dengan Islamic Relief Swedia atas dukungan pendanaan dari ForumCIV. Swedia memfasilitasi pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim di Lombok Tengah.

Direktur Konsepsi Dr. Mohammad Taqiuddin mengatakan, ada dua desa yang mengikuti Sekolah Lapang Iklim ini yaitu petani tadah hujan di Desa Segala Anyar dan Desa Sukadana, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

“Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu wilayah lumbung pangan nasional yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi terhadap dampak negatif perubahan iklim, khususnya pada sektor pertanian,” ujarnya saat pembukaan SLI, Rabu 21 Februari 2024 kemarin.

Hal ini ditegaskan pula oleh Bappenas dalam peta jalan aksi pembangunan berketahanan iklim dimana Kabupaten Lombok Tengah menjadi fokus super prioritas aksi  pembangunan berketahanan iklim di sektor pertanian.

Salah satu bentuk adaptasi dampak negatif perubahan iklim adalah penyelengaraan Sekolah Lapang Iklim ditingkat masyarakat petani. Di mana Kabupaten Lombok Tengah sebagian besar lahan pertaniannya merupakan tadah hujan sebagai upaya untuk membangun ketahanan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I NTB Nuga Putrantijo mengatakan, egiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digelar merupakan salah satu bentuk adaptasi dampak negatif perubahan iklim. Tujuan spesifik dari penyelenggaraan SLI tahun ini adalah untuk memastikan kapasitas para petani yang umumnya bertani dengan metode konvensional dapat berubah menjadi petani yang sadar dan terampil membaca tanda-tanda iklim, sehingga dapat memutuskan kapan jadwal menanam, jenis bibit yang akan ditanam dan perlakuan apa yang tepat untuk pertanian para petani.

Kegiatan SLI diselenggarakan dalam tiga hingga empat kali pertemuan. Pada setiap pertemuan, sebelum memulai materi akan dilakukan pengamatan agroekosistem seperti pengamatan pertumbuhan tanaman, perkembangan OPT dan juga pengamatan curah hujan karena di lahan pengamatan ini, BMKag akan menempatkan satu alat penakar hujan standar BMKG untuk mengamati curah hujan setiap harinya.

“Melalui SLI, para petani maupun penyuluh diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani apabila terjadi perubahan iklim ekstrem. Sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang dalam usaha tani maupun usaha perikanan yang dikembangkannya,” ujarnya.(ris)