Konsumsi BBM dan LPG Non Subsidi di NTB Naik Signifikan

0

Mataram (Suara NTB) – Banyaknya event yang digelar di NTB pada 2023 lalu, mulai dari event lokal, nasional hingga internasional mendongkrak peningkatan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG non subsidi. Area Manager Comm Rel amp CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengatakan, penggunaan BBM non subsidi penggunaanya meningkat hingga 29 persen dari 2022 ke 2023.

Dengan adanya kenaikan ini, artinya kesadaran masyarakat untuk menggunakan BBM yang berkualitas dan ramah lingkungan semakin banyak. Hal ini terbukti naiknya konsumsi BBM non subsidi jenis pertamax turbo dari 2022 ke 2023. “Untuk BBM non subsidi dari 2022 penggunaannya sebesar 463 KL (kilo liter) dan 2023 naik jadi 601 KL. Sangat tinggi, salah satunya karena banyak event di Mandalika,” ujar Ahad Rahedi, Rabu, 21 Februari 2024.

Disatu sisi, kendaraan masyarakat NTB sudah mulai menggunakan BBM yang sesuai dengan kendaraan mereka. Ditambah dengan adanya penurunan harga serentak diikuti semua SPBU se-Indonesia. Untuk di Jatimbalinus, Pertamax 92 turun dari harga sebelumnya Rp 13.350 menjadi Rp 12.950 per liter berlaku di Jawa Timur, untuk di Bali dan Nusa Tenggara turun menjadi Rp13.200 dari harga sebelumnya Rp13.650.

Pertamax Green 95 menjadi Rp 13.900 dari harga sebelumnya Rp 14.900 per liter, Pertamax Turbo menjadi Rp 14.400 dari Rp 15.350 per liter. Sementara sektor Gasoil (bahan bakar mesin diesel) untuk Dex Series, Dexlite turun harga menjadi Rp 14.550 dari sebelumnya Rp 15.550 per liter, dan Pertamina Dex turun harga menjadi Rp 15.100 dari sebelumnya Rp 16.200 per liter.

“Kita apresiasi masyarakat NTB atas kesadarannya, menerapkan gaya hidup berkualitas tentunya dengan mengkonsumsi BBM yang lebih berkualitas,” katanya. Lebih lanjut, tak hanya penggunaan BBM non subsidi meningkat. Penggunaan LPG non subsidi ikut meningkat, seperti bright gas, LPG 12 kg dan gas kalengan meningkat dari 2022 ke 2023 hingga 4 persen. Artinya masyarakat di NTB mau sadar untuk menggunakan LPG yang benar-benar sesuai dengan hak mereka. “Kalau yang LPG non subsidi dari 2022 sebesar 4704 Metrik Ton (MT), jadi 4892 Metrik Ton di 2023. Cukup signifikan peningkatan keduanya,” jelasnya. (bul)