Pemprov NTB Instruksikan Perbanyak Operasi Pasar Beras

0

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Perdagangan (Disdag) NTB dalam upaya menekan lonjakan harga beras menyiapkan operasi pasar di seluruh Kabupaten/Kota. Operasi pasar ini akan dilaksanakan hari ini di BRIDA NTB.

Harga beras dipasaran saat ini sudah termasuk tinggi, baik untuk medium maupun premium. Harganya berada di posisi Rp16.000-17.000/Kg.

“Berasnya dari Bulog, karena hanya beras Bulog yang bisa HET (Harga Eceran Tertinggi) sekarang. kami saat ini seluruh di kabupaten/kota dinas perdagangan sudah kami instruksikan untuk melakukan operasi pasar,” ujar Kepala Disdag NTB, Baiq Nelly Yuniarti, Rabu, 21 Februari 2024. Menurutnya, tren kenaikan harga beras ini menjadi kekhawatiran semua pihak. Dan harus ada solusi dan langkah-langkah strategis yang diambil.

Nelly mengatakan, tingginya harga beras di pasaran disebabkan beberapa faktor. Pertama, karena faktor cuaca. Seharusnya pada Februari hingga April sudah memasuki musim panen raya. Sayangnya tahun ini justru mundur, bahkan hingga Maret kemungkinan belum ada panen raya, terkecuali di beberapa wilayah-wilayah tertentu saja.

Kendati demikian, kondisi iklim seperti ini tidak hanya terjadi didaerah NTB, bahkan terjadi secara nasional. “Karena kondisi suplai berkurang sehingga mempengaruhi harga di pasar.  Kedua beras premium itu naik, konsumen beras premium turun ke kelas medium. Itu yang membuat permintaan semakin banyak,” tambahnya.

Hal itu yang mempengaruhi situasi di pasaran saat ini. Karenanya, negara “memaksa” agar Bantuan Pangan (Bapang) terus digelontorkan. Dengan disalurkan kembali bantuan pangan berupa beras sebanyak 10 Kg untuk masing-masing kartu keluarga (KK), mengurangi konsumsi di masyarakat sehingga harga pasar terjaga. Penyaluran bapang ini di NTB sudah disalurkan tahap pertama, karena pemberian bapang dilakukan selama 6 bulan kepada masyarakat kurang mampu.

“Kami berharap pemerintah dengan adanya pembagian bantuan pangan itu akan mengerem masyarakat bawah untuk mencari beras dulu di pasar. Sehingga harga beras tetap terkendali,” tambahnya. Beras Bapang merupakan beras impor yang didatangi pemerintah dengan tujuan memenuhi stok pangan yang berkurang. Bahkan NTB pun harus menerima beras impor tersebut meskipun NTB adalah sentra produksi pangan nasional.

“Kita sangat bergantung saat ini dengan beras yang didatangkan sama Bulog dari luar. Harus kita akui itu. Makanya ini pengalaman kita, pelajaran kita. Kalau punya stok (beras/gabah) jangan dijual semua ke pengusaha untuk keluar daerah. Ini pelajaran juga buat petani-petani kita. Supaya dijual gabahnya untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah,” demikian Nelly. (bul)