Investasi Tumbuh Merata

0

DINAS Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB mengklaim investasi di NTB tumbuh merata. Namun, investasi ini ada yang nilainya besar, dan banyak juga yang nilainya kecil.

Kalau saya jangan melihat angka investasi dari angka yang dihasilkan. Penyumbang realisasi investasi itu berapa? Jadi yang saya maksudkan itu, beberapa sektor notabene jumlah sedikit, tapi menyumbang nilai yang sangat besar. Salah satunya adalah sektor tambang, ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPMPTSP Provinsi NTB Wahyu Hidayat, S.STP., di Kantor Gubernur NTB, Kamis, 22 Februari 2024.

Diakuinya, sektor tambang di NTB itu sudah mendominasi cukup lama dan nilai investasi yang ditanamkan juga tidak kecil. Bahkan, 1 perusahaan tambang di NTB itu bisa menangani ratusan hingga ribuan UMKM daripada investasi sektor yang lainnya.

Menurutnya, UMKM itu termasuk investasi, yakni UMKM dengan nilai investasi di bawah Rp5 miliar dan jenisnya banyak. Selain itu, angka pendapatan yang dihasilkan juga kecil. Sementara di satu sisi, Kementerian Investasi mendorong investasi di level UMKM, karena UKM ini langsung dirasakan.

Sementara dari tambang dan lain sebagainya perputaran uangnya bukan langsung di masyarakat, tapi dari pabrik, proyek dan sejenisnya.

Jadi sekarang ini jumlah investasi yang tumbuh di daerah merata. Tapi didominasi oleh UMKM dan sebagainya. Misalnya di Kota Bima itu sektor Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sementara sektor besar disuplai oleh Penanaman Modal Asing (PMA), terangnya.

Pihaknya juga sepakat dengan arahan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengarahkan investasi itu ke non tambang. Hal ini sejalan juga dengan arahan dengan pemerintah pusat, bagaimana mulai tahun 2024, penyumbang dari nilai investasi itu lebih banyak non tambang.

Investasi di luar non tambang langsung menyentuh ke masyarakat. Ini berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Sementara kalau investasi tambang lebih banyak ke luar, tapi kalau non tambang uangnya berputar di tengah masyarakat. Cuma yang menjadi tantangan adalah jumlah investasi tambang hanya sedikit, sementara kalau UMKM cukup banyak, tegasnya lagi.

Sejalan dengan program terbesar pemerintah pusat di tahun 2024 adalah 1 UB Usaha Besar bisa mendongkrak atau bermitra dengan UMKM yang ada di sekitarnya. Pihaknya mencontoh PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) didorong selaku UB didirong bisa bermitra dengan UMKM yang di sekitarnya sebanyak-banyaknya. Jadi hasil keuntungan dari UB itu dimanfaatkan untuk menghidupkan investasi di sektor UMKM. Jadi mutar di situ. Sektor yang satu bisa mendukung sektor yang lain, terangnya.

Mengenai ringkasan capaian kegiatan pelaksanaan penanaman modal di Provinsi NTB Tahun 2023, bulan Oktober sampai dengan Desember Tahun 2023 sebesar Rp13.947.573.427.888. Jumlah ini terdiri dari PMDN sebesar Rp 11.124.178.692.468,- dan PMA sebesar Rp2.823.394.735.420,-

Target nilai investasi yang harus dipenuhi dalam RPJMD tahun 2023 sebesar Rp17.814.195.235.806,- sedangkan Pemerintah Pusat menetapkan target nilai investasi untuk NTB sebesar Rp 22.800.000.000.000.

Realisasi tertinggi pada periode Oktober – Desember 2023 Kabupaten Sumbawa Barat mencapai realisasi tertinggi sebesar Rp11,958 triliun disusul Kabupaten Dompu sebesar Rp777,206 miliar dan Kota Mataram Rp 448,353 miliar. Realisasi terendah pada periode Oktober – Desember 2023 dimiliki oleh Kota Bima sebesar Rp1,707 miliar disusul Kabupaten Bima Rp12,406 miliar kemudian Kabupaten Sumbawa sebesar Rp26,393 miliar.

Kontribusi sektor ESDM, Sektor ESDM mencatat realisasi tertinggi pada Oktober sampai dengan Desember 2023 sebesar Rp8,280 triliun. Posisi kedua adalah sektor perindustrian sebesar Rp4,044 triliun dan disusul sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebesar Rp1,175 triliun. Realisasi terendah pada Oktober sampai dengan Desember 2023 dimiliki oleh sektor pendidikan Rp 0 disusul sektor keuangan Rp446,339 juta dan sektor kesehatan, obat dan makanan sebesar Rp. 5,248 miliar. (ham)