BMKG: Suhu Panas di NTB Dampak Hujan Tak Merata

0

Mataram (Suara NTB)-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara di NTB terasa panas, karena dampak curah hujan yang tidak merata pada musim hujan awal 2024. Hujan tidak merata di NTB dalam beberapa hari terakhir ini, kata Prakirawan BMKG Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Anggi Dwita di Mataram, Kamis.

Ia mengatakan suhu udara terasa panas baik siang maupun malam hari tersebut lebih karena adanya kondisi cuaca yang dominan cerah berawan di sebagian besar Pulau Lombok serta hujan yang tidak merata di NTB dalam beberapa hari terakhir.
“Sehingga intensitas radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi meningkat,” katanya.

Sementara itu, suhu udara di wilayah NTB mencapai 23 derajat celsius hingga 34 derajat celsius. Sedangkan angin bertiup dengan bervariasi lebih dominan dari arah barat-utara dengan kecepatan angin mencapai 35 kilometer per jam. “Cuaca di wilayah NTB pada umumnya cerah berawan hingga hujan lebat,” katanya.

Sebelumnya, Prakirawan BMKG NTB Bastian Andarino mengatakan pada dasarian III Februari 2024 (21 29 Februari 2024) diprakirakan curah hujan dengan intensitas lebih 20 -50 milimeter/dasarian dengan probabilitas kejadian lebih 90 persen berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah Provinsi NTB kecuali wilayah Bima bagian timur dengan peluang kurang dari 10-40 persen.

Kemudian peluang curah hujan lebih 100 milimeter per dasarian berpeluang terjadi di Bima bagian utara dengan probabilitas kejadian 30 70 persen. Peluang curah hujan dengan intensitas lebih 150 milimeter/dasarian dengan probabilitas kejadian sebesar 10-40 persen berpeluang terjadi di Tambora. “Potensi curah hujan tinggi di wilayah NTB pada akhir Februari ini nihil,” katanya.

BMKG juga menyatakan sebagian besar wilayah NTB terpantau telah memasuki musim hujan 2023/2024, masyarakat perlu mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat disertai angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat lokal, banjir dan tanah longsor.

“Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya,” katanya. (ant)