Produksi Padi NTB Merosot di Awal 2024

0

Mataram (Suara NTB) – Produksi padi di Provinsi NTB pada awal tahun 2024 ini mengalami penurunan yang cukup tajam akibat perubahan iklim. Bahkan produksi belum sebanding dengan kebutuhan. Kondisi ini tentu rawan memicu kenaikan harga dan  iflasi.

Sebagaiamana diketahui, harga beras di pasaran belakangan ini mengalami kenaikan cukup tinggi tembus hingga Rp16.000/kg untuk medium. Bahkan di pengecer harga beras mencapai Rp18.000/Kg. Tingginya harga beras ini menjadi keluhan masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga.

Jika dilihat data Badan Pusat Statistik (BPS) , perkiraan produki padi di NTB pada Bulan Januari sebesar 29.032 ton Gabah Kering Giling (GKG), pada Bulan Februari sebesar 31.536 ton GKG atau total produksi padi pada dua bulan awal tahun 2024 sebesar 60.568 ton.

Jika dibandingan dengan produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya, pada Januari 2023, produksi padi NTB sebesar 36.438 ton (GKG), dan Februari 2023 produksi sebesar 150.184 ton GKG. Atau total produksi pada Januari-Februari 2023 sebesar 186.622 ton GKG.

Sementara itu, kebutuhan beras di NTB dalam keadaan normal setiap bulannya mencapai 40.000 ton, hingga 50.000 ton. Atau sekitar 600.000 ton setiap tahun. Sehingga dapat dipastikan produksi padi pada awal tahun 2024. Melihat kondisi ini, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Drs. Wahyudin.,MM  mengatakan, pada Januari-Februari 2024 ini produksi gabah dan beras hanya sebagian kecil di wilayah tertentu di NTB, sehingga potensi produksinya tidak banyak.

Padahal di Januari, Februari sampai Maret potensinya untuk menambah produksi. Namun melihat kondisi cuaca kemarau panjang membuat masa tanam mundur. “Januari Februari (2024) memang kecil (produksi), Untungnya masih punya stok, stok produksi yang lama, yang dari kegiatan dari penanaman sebelumnya (tahun 2023). Stok itu ada dimana? Ada di Bulog dan sebagian di pedagang-pedagang pengepul itu,” ujar Wahyudin, Senin, 19 Februari 2024.

Stok-stok tersebut yang sekarang dikeluarkan karena banyak permintaan. Maka soal harga beras ini hukum ekonomi pasti berlaku. Ketika produksi dan stok kurang, harga akan mengalami penyesuaian. Bulog NTB pada tahun 2023 menargetkan serapan stok beras sebanyak 200 ribu ton, meskipun target serapan tersebut terus disesuaikan mengingat kondisi cuaca ekstrem atau elnino Panjang yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi padi.

Menurut Wahyudin, jika harga beras terus-terus naik, maka dampaknya otomatis akan mempengaruh inflasi, akibat daya beli masyarakat menurun, apalagi masyarakat yang berpenghasilan tetap. Untuk mengantisipasi dampak kenaikan beras ini, BPS NTB menyarankan dilakukan operasi pasar (OP) dari masing masing pemerintah kabupaten/kota. Selain mendorong bantuan pangan. (bul)