DKP NTB Ingatkan Pemda Siapkan Cadangan Pangan

0
H. Abdul Azis (Suara NTB/alfan)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Ketahanan Provinsi NTB, H. Abdul Azis., SH., MH.,  mengkhawatirkan produksi komoditas pangan, terutama beras pada tahun 2024 ini akan terganggu sebagai dampak cuaca ekstrem sejak tahun lalu. Karena itu, diingatkan kepada pemerintah daerah untuk menyiapkan cadangan pangan.

Abdul Azis mengatakan, data produksi dan luas lahan tanam secara teknis tersedia di Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB. Namun, menurutnya, secara kasat mata di beberapa daerah yang menjadi sumber produksi pangan, khususnya padi sampai saat ini banyak yang belum melakukan penanaman.

“Bisa dilihat, di Pulau Sumbawa masih luas lahan yang belum ditanami. Terlambat tanam karena ketersediaan air yang kurang sebagai dampak elnino. Kemudian di Lombok Timur, Lombok Tengah, juga masih luas lahan yang kita lihat belum tanam,” katanya. Pada semester I tahun 2024 ini, Abdul Azis mengatakan tidak menutup kemungkinan terjadi penurunan produksi.

Karena itu, mantan Sekda Kabupaten Sumbawa Barat ini mengingatkan, pemerintah daerah dari Tingkat provinsi hingga kabupaten/kota harus melakukan pengamanan pangan. Menyediakan cadangan pangan untuk mengantisipasi berbagai dampak dari kurangnya produksi pangan. “Kita sudah sering sampaikan soal pentingnya cadangan pangan ini. Kabupaten kota di NTB ini ndak dengar kita, mana kabupaten kota punya cadangan pangan. Harus punya cadangan pangan,” katanya.

Harus ada penganggaran untuk cadangan pangan. Kabupaten/kota harus membeli padi petani saat panen. Bisa dititip di Bulog, di PUPM, atau pihak lain yang menjadi mitra. Minimal kata Abdul Azis, masing-masing kabupaten/kota menyediakan cadangan pangan 50 ton. Maka menurutnya aman untuk mengatasi berbagai potensi dampak kekurangan produksi.

Pemprov NTB sendiri saat ini sudah memiliki cadangan pangan 100an ton. Walaupun targetnya minimal harus ada 200 ton. Cadangan pangan ini bisa dimanfaatkan dalam situasi-situasi tertentu. Misalnya, untuk menangani bencana seperti banjir yang terjadi di Bima. “Beras ini yang paling penting untuk disediakan cadangannya. Kalau cabai, bawang, tomat, masih bis akita siasati. Sebab kita kalau belum makan nasi merasa belum makan, walaupun sudah banyak mengkonsumsi non nasi,” ujarnya.

Abdul Azis juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga berbagai kemungkinan dengan mengisi lumbung-lumbung pangannya secara mandiri. Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk tetap menggalakkan diversifikasi pangan (memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsi sehingga tidak terfokus pada satu jenis saja). Misalnya, beras bisa diganti dengan mengonsumsi jagung, ubi, talas. Sehingga tidak sangat tergantung dengan konsumsi nasi. (bul)