Ratusan Inovasi di Brida NTB Berkaitan dengan Pertanian

0
Lalu Suryadi (Ekbis NTB/ris)

BADAN Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi NTB telah menciptakan banyak inovasi yang sebagian besar adalah untuk menunjang aktivitas pertanian. Hingga kini lebih dari 230 inovasi yang dilahirkan oleh masyarakat Bersama Brida untuk memudahkan usaha di berbagai sektor.

Plt. Kepala Brida NTB Lalu Suryadi, S.P., M.M., mengatakan, inovasi yang ada di Brida salah satunya dihajatkan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah pertanian. Sektor pertanian di tengah ancaman cuaca ekstrem menjadi tantangan tersendiri, sehingga diperlukan inovasi untuk mempertahankan atau bahkan untuk meningkatkan produktivitas.

“Ada 230-an prototipe yang ada workshop itu sebagian besar itu adalah peralatan yang berbasis pertanian. Mulai dari peralatan budidaya sampai peralatan pasca-panen,” kata Lalu Suryadi kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Beberapa inovasi yang telah dilahirkan di Brida antara lain pertanian dengan sistem smart farming. Pola pertanian seperti ini menggunakan irigasi tetes, kemudian suplai pupuk untuk tanaman sudah bisa diatur melalui aplikasi di smartphone.

Inovasi lainnya yaitu mesin pengolah biji coklat, pemecah jagung, alat pengering komoditas pertanian, dan lain sebagainya. Dari semua prototipe inovasi itu, sebagiannya sudah diaplikasikan ke petani. Artinya tak hanya menjadi pajangan di Brida, namun sudah digunakan di lapangan oleh petani untuk memudahkan aktivitas pertanian.

“Bahkan untuk potensi tembakau, di Brida sudah ada perlatan di Brida yang berkaitan dengan tambakau, misalnya untuk mencacah tembakau. Alat-alat perajangnya sudah ada, kemudian pengering tenaga surya sudah ada. Termasuk inovasi oven tembakau dengan bahan bakar tongkol jagung. Di Brida itu sudah ada kompornya,” ujarnya.

Ia mengatakan, arah pengembangan inovasi daerah selama ini yaitu bagaimana membuat sejumlah peralatan pengolahan pangan agar bahan baku pertanian bisa diolah di dalam daerah. Sebab salah satu problem pertanian NTB yaitu yang berkaitan dengan nilai tambah atau di pasca-panen.

Yang paling jelas terlihat yaitu pertanian tanaman pangan jagung. Produksi jagung NTB yang melimpah tak serta merta langsung dinikmati oleh konsumen dalam daerah.

Jagung yang banyak beredar di supermarket di Kota Mataram misalnya didatangkan Semarang. Jagung asal NTB dibawa ke Semarang dengan harga yang murah, kemudian dijual kembali ke NTB dengan harga yang lebih mahal.

“Jagung kita dijual murah. Itu artinya petani kita ini tak mendapatkan nilai tambahnya. Yang dapat nilai tambahnya adalah masyarakat di Jawa karena mereka yang mengolah,” katanya.

Pihaknya juga mendorong masyarakat agar mengubah produk jagung menjadi aneka olahan pangan meskipun dengan peralatan sederhana. Hal itu akan bisa meningkatkan nilai tambah di tengah tantangan pertanian yang semakin kompeks.(ris)