”Long Weekend”, Angka Kunjungan Wisatawan di Lombok Meningkat

0
Wisatawan domestik saat menawar suvenir di pesisir Pantai Hotel Jayakarta, Senggigi pekan kemarin (Suara NTB/ris)

Mataram (Suara NTB) – Libur Panjang long weekend di momentum Isra Mi’raj dan Tahun Baru Imlek kemarin memiliki pengaruh terhadap angka kunjungan wisatawan ke Lombok. Meski demikian, peningkatan angka kunjungan dinilai belum sesuai ekspektasi pelaku wisata. Salah satu penyebabnya kemungkinan karena sebentar lagi Indonesia akan memasuki pemungutan suara Pemilu.

Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IGHMA) NTB Lalu Kusnawan mengatakan, peningkatan okupansi di momentum long weekend antara 30 – 40 persen di Lombok. Pelaku usaha tentu gembira dengan peningtakan jumlah okupansi ini, meskipun tak terlalu signifikan.

“Saya lihat sekitar 30 – 40 persen ada peningkatan. Seharusnya mungkin ini bisa lebih karena empat hari kan, Kamis sampai Minggu. Cuman mungkin karena suasana mau Pemilu, itu mungkin yang membuat tak seperti yang kita harapkan,” ujar Lalu Kusnawan kepada Suara NTB akhir pekan kemarin.

Menurutnya, di kalender tahunan terlihat sejumlah momentum yang bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berlibur. Pada masa-masa itulah, persiapan menjadi konsen bersama misalnya menyangkut kebersihan, penataan destinasi dan lain sebagainya.

“Bagus kalau kita jadikan jargon green tourism. Ketika kita berwisata, kita tak menambah sampah dan tetap menjaga kebersihan,” katanya.

Begitu juga dengan wisata Tiga Gili (Trawangan, Meno dan Air) ada kenaikan di momentum long weekend ini. Namun wisata Gili sering tak terpengaruh dengan hari libur dalam negeri, karena destinasi ini banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara yang memiliki siklus kunjungannya sendiri.

“Kalau 2000-an sehari ada masuk ke Gili. Tapi yang harus menjadi catatan, itu bukan karena long weekend ya. Kalau wisatawan mancanegara kan tak tergantung long weekend,” katanya.

Terkait dengan angka kunjungan wisatawan dan hunian hotel, Lalu Kusnawan melihat sangat penting adanya database atau satu sistem yang bisa merekam data kunjungan dari bulan ke bulan di Provinsi NTB. Sehingga jika ada sistem tersebut akan lebih mudah bagi pemerintah dan pelaku wisata Menyusun strategi pariwisata.

“Jangan sampai kita salah menganalisa, sehingga tak pernah ketemu antara demand dan suplay-nya,” ujarnya.

Instrumen untuk menghitung atau menysun database wisatawan yang datang ke NTB sudah tersedia, misalnya di bandara dan di pelabuhan yang ada di setiap kabupaten/kota. “Data flight di bandara ada, di fast boat juga ada datanya. Dia warga negara mana misalnya terlihat di manifest. Tinggal sekarang keinginan kita untuk mewujudkan database itu. Itu sangat penting untuk menyambungkannya dengan program wisata di daerah kita,” ujarnya.(ris)