Cuaca ekstrem dan Target Produksi Pangan Harus Terjaga

0
Petani di Lobar sedang menanam padi menggunakan teknologi agar bisa bertahan pada cuaca yang ekstrem. (Ekbis NTB/dok)

Perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem di seluruh dunia. Dampak dari cuaca ekstrem ini sangat berpengaruh terhadap sektor pertanian secara luas. Belakangan ini cuaca tidak menentu. Seharusnya musim hujan, namun, masih banyak wilayah atau kawasan pertanian yang hujannya belum merata. Hal ini berpengaruh terhadap pola tanam petani dan berdampak pula pada hasil panen. Dibutuhkan teknologi pertanian yang bisa membuat petani tetap sumringah saat cuaca ekstrem, karena hasil pertanian melimpah.

BEBERAPA dampak cuaca ekstrem yang sering terjadi dan tantangan yang dihadapi oleh sektor pertanian  di antaranya, kekeringan yang berkepanjangan dapat memiliki dampak yang signifikan pada pertanian. Kurangnya air dapat mengurangi produksi tanaman, mengganggu siklus pertumbuhan, dan mengurangi kualitas hasil panen.

Gelombang panas yang ekstrem dapat menyebabkan stres panas pada tanaman. Tanaman yang terkena panas berlebihan dapat mengalami kerusakan pada struktur sel dan proses fotosintesis, mengurangi pertumbuhan dan hasil panen.

Tanaman yang rusak dapat mengalami penurunan hasil panen atau bahkan kehancuran total. Di sisi lain, NTB adalah lumbung pangan. Namun cuaca ekstrem telah menggeser pola tanam, awal musim tanam menjadi telat bahkan sampai sekarang masih banyak daerah yang belum berproduksi.

NTB juga menyiapkan target produksi untuk menjaga stabilitas stok dan harga pangan. Seharusnya, mitigasi dilakukan dengan rekayasa tanam dan tanaman yang lebih tahan pada cuaca ekstrem, sehingga produksi tidak terganggu.

Penjabat (Pj) Gubernur NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., dalam beberapa kesempatan mengingatkan agar tetap menjaga NTB sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Pola tanam dan ketersediaan pupuk hingga obat-obatan harus tetap ada, sehingga hasil panen padi bisa mencapai target.

Selain mampu memenuhi kebutuhan pangan untuk lokal NTB, juga harus mampu mengirimkan beras ke daerah lain. Cuaca yang tidak bersahabat juga menjadi salah satu faktor mengapa keseriusan dalam memperhatikan pola tanam hingga pengairan, agar tanaman padi bisa dipanen sesuai dengan target. Apalagi di satu sisi, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menugaskan Pj Gubernur memperhatikan ketersediaan pangan, seperti beras, cabai dan lainnya, termasuk memasok untuk daerah lain.

Bahkan, terkait masalah pupuk bersubsidi, Pj Gubernur mengakui dalam pertemuan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan para penyuluh di Lombok Tengah belum lama ini, sudah menyampaikan persoalan yang dihadapi. Menurutnya, pupuk tidak boleh menjadi permasalahan petani, khususnya pada musim tanam. Alokasi pupuk pada musim tanam kemarin 130 ribu ton dan sudah diusulkan tambahan 116 ribu ton  tahun 2024 ini.

Hal ini tentu menjadi semangat bagi para petani dalam menanam padi dan tidak terpengaruh dengan kondisi masalah pupuk, karena pemerintah siap memenuhi apa yang menjadi kebutuhan petani.

Bagi petani, cuaca belakangan ini tidak menentu. Mereka juga berusaha agar tanaman padi atau tanaman lainnya tetap hidup dan menghasilkan, karena petani sudah mengeluarkan dana besar untuk bercocok tanam.

Amaq Naya, salah satu petani di Lombok Barat mengaku saat bercocok tanam berusaha agar tidak gagal tanam. Selain memperhatikan masalah air irigasi agar sawah tetap terairi, benih atau bibit tanaman menjadi prioritas. Tentunya, mereka berusaha agar bibit tanaman yang ditanam juga bisa lebih tahan ketika air sedang sedikit, khususnya saat musim hujan tidak menentu.

Baginya, ketika menanam tanaman, misalnya jagung, padi, mentimun, pihaknya lebih banyak membeli bibit yang sudah tersertifikasi atau produk dari perusahaan benih. Meski biaya yang dibutuhkan membeli bibit cukup mahal, biaya operasional juga mahal, namun hasil yang diperoleh juga maksimal.

Menurutnya, ketika membeli benih, selain ada perlindungan saat mulai menanam, pertumbuhan tanaman juga bisa lebih baik dibandingkan dengan benih yang harus disemai sendiri. Hal ini yang memacu dirinya dan petani lain yang biasa menanam di wilayah Penarukan, Kecamatan Gerung, lebih baik membeli bibit yang sudah teruji. Meski demikian, pihaknya mengharapkan ada teknologi pertanian di daerah ini yang lebih murah bagi petani, namun hasil yang diperoleh juga maksimal.

Upaya keras juga dilakukan Pemkab Lombok Barat (Lobar) yang bertekad mempertahankan surplus pangan di tengah kondisi cuaca ekstrem yang kerap melanda daerah setempat. Cuaca ekstrem ini tak dipungkiri berpengaruh terhadap produksi pangan, termasuk padi. Surplus hasil panen yang sebelumnya bisa mencapai 30 ribu ton tiap tahun menurun menjadi sekitar 20 ribu ton.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distan Lobar Muhamad Taufik,SP.,M.Ling., menerangkan langkah antisipasi dampak fenomena iklim ekstrem ini telah dilakukan pihaknya. Melalui berbagai program seperti pembangunan sumur bor, irigasi, embung, bantuan peralatan dan lainnya. Baik yang didanai dari sumber dana DAK, APBN, dan lainnya.”Ini salah satu langkah strategi yang sudah kami lakukan mengantisipasi dampak fenomena iklim ekstrem,” jelasnya, Minggu, 11 Februari 2024.

Pasalnya belajar dari tahun lalu, dampak cuaca ekstrem di Lobar cukup mempengaruhi hasil panen petani. Kendati angkanya masih di bawah 10 persen yang terdampak elnino dari luas tanam 34 ribu hektar, itu cukup berpengaruh terhadap produksi gabah. Pihaknya pun terus memantau melalui petugas POPT di masing-masing kecamatan.

Hal ini, jelasnya, juga berpengaruh terhadap surplus beras yang dihasilkan Lobar tiap tahunnya. Dengan kondisi luas taman di Lobar, ada yang satu kali tanam, dua kali taman, tiga kali tanam, produksinya masih surplus. “Dengan asumsi pertumbuhan pendduduk Lobar 1 persen, kita masih bisa surplus sekitar 20 an ribu ton,” ujarnya.

Terdapat penurunan dari sebelum-sebelumnya bisa mencapai 30 ribu ton surplus per tahunnya. Penurunan ini di samping disebabkan dampak cuaca ekstrem, juga dipengaruhi oleh pengurangan lahan dan lainnya. “Itu yang menyebabkan semakin lama semakin berkurang (surplus), kalau dulu-dulu kan sempat mencapai 30 an ribu ton,” sebutnya.

Cuaca ekstrem ini menjadi salah satu tantangan pihaknya bisa mempertahankan capaian surplus produksi gabah ke depan.

Sementara itu, Kepala Dikpangan Lobar Damayanti Widyaningrum menjelaskan cuaca ekstrem memang melanda daerah Lobar, khususnya pada tahun 2023. Begitupula memasuki musim awal tahun ini, masih terjadi gejala cuaca ekstrem. Akan tetapi kalau melihat dari Prognosa Neraca Pangan stok pangan strategis khususnya beras masih aman hingga Desember nanti. Pihaknya telah menghitung prognosa pangan dari Januari-Desember, masih aman.  “Dari hitungan kami untuk kebutuhan beras aman sampai Desember,”jelasnya.

Namun tentunya dampak bencana baik akibat cuaca ekstrem, berpengaruh terhadap produksi surplus pangan. Artinya surplus tersebut bisa saja berkurang. Kemudian berdampak terhadap kenaikan harga. Akan tetapi itu bisa diantisipasi melalui langkah-langkah yang telah disiapkan Pihaknya bersama OPD lainnya.

Pihaknya  meminta ke OPD terkait agar melakukan langkah antisipasi terhadap dampak fenomena iklim ini. Bagi petani perlu ada perlakuan-perlakuan bercocok tanam dalam kondisi iklim tertentu dengan mencari varietas -varietas yang tahan kekeringan atau air. “Dan petani juga sudah diajarkan bagaimana menanam pada kondisi iklim yang ekstrem,” ujarnya. (ham/her)