Catatan Hari Pers Nasional, HPN & Port to Port

0

Oleh :  H. Lalu Gita Ariadi

SETIAP tanggal 9 Februari kita peringati sebagai  Hari Pers Nasional ( HPN ).  Rekan-rekan pers dari berbagai penjuru tanah air berkumpul di daerah yang ditunjuk sebagai tuan rumah HPN.

Tahun 2016, NTB berkesempatan  sebagai tuan rumah HPN. Acaranya ramai, berlangsung out door. Di Pantai Kuta Mandalika. Presiden RI – Bapak Ir. H. Joko Widodo hadir. Didampingi para menteri kabinet, Ketua PWI Pusat Bapak Margiono ( kini almarhum ),  tokoh-tokoh pers, pelaku industri media lokal – nasional,   Gubernur NTB saat itu Dr. TGH Muhammad Zainul Majdi – TGB dan ribuan jurnalis se nusantara.

Meski 8 tahun telah berlalu, HPN 2016 menjadi sesuatu yang saya anggap penting untuk tetap dikenang, dikawal dan di perjuangkan. Kenapa ? Di HPN 2016, untuk pertama kali muncul wacana resmi pembangunan port to port dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Kayangan Labuhan Lombok.

Dalam pidato sambutannya saat itu, Presiden RI merespon usulan titipan aspirasi masyarakat NTB melalui Ketua PWI Margiono. Masyarakat NTB berharap hadirnya jalan baru sebagai jalan alternatif. Jalan eksisting yang menghubungkan barat dan timur Pulau Lombok terasa sudah sangat padat sehingga mengganggu arus penumpang maupun distribusi logistik kebutuhan  lokal dan nasional.

Presiden RI pun, merespon dengan sangat baik titipan aspirasi tersebut agar dibangun jalan antara Pelabuhan Kayangan hingga Pelabuhan Lembar.

Mengapa titipan aspirasi disampaikan Ketua PWI ? Karena, setiap tuan rumah HPN biasanya seakan dapat bonus pembangunan infrastruktur non infrastruktur sesuai kebutuhan daerah dari event berkumpulnya jurnalis dan industri pers nasional dengan Presiden yang selalu hadir membuka HPN. Bonus pembangunan itu sebagai kenang-kenangan tuan rumah HPN yang diinisiasi PWI untuk akselerasi pembangunan di suatu daerah.

Namun di balik semua itu, sesungguhnya ada cerita menarik tentang pengusulan pembangunan port to port ini. Pada saat rapat persiapan HPN, ada usulan untuk memberi nama ruas jalan by pass 2 dari Giri Menang Square ( Bundaran ) ke Bundaran memasuki Kota Mataram. Ruas jalan ini baru saja selesai dibangun dan ingin diberi nama salah seorang tokoh pers nasional.

Kebetulan, saya ( saat itu Assisten Ekonomi dan Pembangunan Setda NTB ) memimpin rapat tersebut berdua dengan Ketua PWI Pusat. Dengan bercanda tapi serius saya katakan tidak setuju dengan usulan pemberian nama jalan tersebut dengan nama tokoh pers. Alasannya, pertama sudah ada rencana untuk suatu saat nanti penamaan  menggunakan nama tokoh / pahlawan lokal. Kedua, sejatinya rekan-rekan PWI belum berkeringat di ruas jalan yang akan disematkan nama tokoh pers nasional tersebut. Jangan-jangan tokoh persnya akan bangkit protes tidak setuju namanya disematkan jadi nama jalan yang ahistory. Candaan saya saat itu.

Namun demikian, saya bisa setuju nama suatu ruas jalan disematkan nama tokoh pers nasional bila PWI berkeringat dulu dengan berupaya membantu kami suarakan kebutuhan masyarakat NTB yang butuh jalan alternatif timur – barat Pulau Lombok yang sudah sangat padat.

Tolong Bang Margiono besok di laporan pembukaan HPN sampaikan titipan aspirasi ini agar kiranya di respon Presiden RI. Bila direspon dan ruas jalan port to port terbangun, jangankan nama tokoh pers nasional, nama jalan Margiono pun rasanya tidak apa-apa. Lagi-lagi sambil saya bercanda. Spontan Bang Margiono menjawab. Sanggup dan siap. Akan saya sampaikan dalam laporan  saya di acara pembukaan HPN. Kata Bung Margiono, disambut tepuk tangan peserta rapat. Bapak H. Sukisman Azmy saat itu Ketua PWI NTB ( kini anggota DPD RI ) sebagai saksinya.

9 Februari 2016, aspirasi Pembangunan Port to Port : Pelabuhan Lembar – Pelabuhan Kayangan tersampaikan oleh Ketua PWI Pusat dengan baik.  Direspon oleh Presiden RI juga dengan sangat baik.

Menteri PUPR dan jajarannya secara tehnis kemudian menindaklanjuti arahan Presiden RI tersebut dengan melakukan Feasibility Study ( FS ). Jalan eksisting 94,68 KM memang memiliki beberapa titik kemacetan ( pasar tumpah ) dan persimpangan yang mengakibatkan waktu tempuh antar pelabuhan menjadi lama. Potensi hambatan samping, setidaknya ada di Pasar Narmada, Mantang, Jelojok, Terare, Paok Motong, Aikmel, Apitaik dan Pasar Labuan Lombok.

Awalnya, rencana pembangunan akan dilakukan di sisi utara jalan eksisting. Berdasarkan FS, rencana ini mungkin kurang layak karena pembangunannya akan menggerus banyak lahan produktif yang menjadi sumber pangan dan komoditi holtikultura daerah ini.

Kini, bila sisi utara diniliai tidak layak tentu alternatif pembangunannya adalah di sisi selatan jalan eksisting. Bahkan bila di bangun di sisi selatan, sesungguhnya jalan port to port itu “sudah terbentuk”. Tinggal disambung, ditingkatkan kapasitas dan kualitasnya. Jaraknya pun bisa lebih pendek menjadi sekitar 80 – 85 KM. Bukankah jalur Lembar – Giri Menang Square sudah terbentuk ? Tinggal di lebarkan atau ada jalan akses baru?

Ruas Giri Menang Square ke Bundaran Bandara sudah ada tinggal dimantapkan. Dari Bundaran Bandara ke Bundaran Songgong ( b pass 3 ) sudah mulus. Di tengah-tengahnya bypass 3 ini, di sekitar Desa Pengengat / Sengkol, disodet ke arah timur bisa disambung menyisir pantai kemudian tembus ke Labuan Lombok. Dibutuhkan sodetan kurang lebih 10 – 15 KM sehingga gagasan port to port yang digagas 8 tahun yang lalu bisa terwujud. Ini harus dikawal dan terus diperjuangkan agar konektivitas jaringan jalan Pulau Lombok kian memadai.

Bila ruas sisi selatan ini terbangun, akan mendorong pembangunan dan pengembangan wilayah. Daerah-daerah yang selama ini marjinal bisa jadi akan tumbuh sebagai episentrum baru pengembangan perekonomian masyarakat. Kantong-kantong kemiskinan akan bisa diintervensi melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi. Disparitas pembangunan wilayah antara utara dan selatan tidak lagi ada gap yang menganga.

Sembari menunggu “the dream comes true”, semua berpacu waktu. Tanggal 22 Desember 2023 ada peristiwa bersejarah. Seperti kata-kata mutiara, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.  Sebagai rangkaian peringatan HUT ke-65 Provinsi NTB, telah dilakukan pemberian nama-nama ruas jalan strategis di daerah dengan menyematkan nama-nama Gubernur NTB yang pernah berkiprah, berjasa dan telah meninggal dunia.

Ruas jalan dari Bundaran Kota Mataram menuju Giri Menang Square, disematkan nama Gubernur NTB Pertama – Bapak HR. Ruslan Tjakraningrat. Dari  Giri Menang Square ke arah Bundaran Bandara , disematkan nama Gubernur NTB kedua – HR. Wasita Kusumah. By pass dari Bundaran Bandara ke Bundaran Songgong disematkan nama H. Gatot Suherman Gubernur NTB ketiga. Pada saat aktif sebagai Gubernur NTB, H. Gatot Suherman melalui Operasi Tekad Makmur Gogo Rancah ( GORA ) banyak berjibaku di area seputaran bypass 3 ini di Desa Truwai, Sengkol dan desa-desa sekitarnya.

Pada saatnya nanti, bila ruas sodetan 15 KM dari Desa Pengengat / Sengkol ke timur selesai terbangun bisa jadi nama Almarhum H. Warsito – Gubernur NTB keempat sebagai nama jalan bypass penyambung port to port. Wallahualam.