Pengujian di Pringgasela, Nilai UKBI Jadi Dasar Guru Tingkatkan Kemahiran Berbahasa Siswa

0

Mataram (Suara NTB) –  Pengujian Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi siswa SDN 3 Pringgasela dan SMPN 1 Pringgasela dilaksanakan pada Kamis, 1 Februari 2024. Sebanyak 30 peserta SD dan 270 siswa SMP melaksanakan UKBI hingga tuntas. Sebelumnya, pada 24 Januari 2024 lalu, sosialisasi dan pendaftaran UKBI telah dilakukan juga dengan pendampingan KKLP UKBI Kantor Bahasa Provinsi NTB.

Dalam pengujian ini, kendala utama yang dialami oleh siswa adalah sinyal dan kesalahan mendaftar. Siswa yang telah dengan antusias mendaftarkan diri harus mengeluarkan energi lebih dengan melakukan penyegaran lama berkali-kali. Namun demikian, kendala ini tidak menyurutkan semangat mereka. Dengan sigap, tim UKBI dan guru-guru pendamping mengawasi pengujian dan membantu menyelesaikan kendala yang dialami siswa.

“Anak-anak tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga belajar teknologi. Satu kali kayuh, dua pulau terlampaui,” tutur Syamsul selaku Kepala SMPN 1 Pringgasela.

Ia menyatakan tindak lanjut atas pengujian ini akan segera dilakukan. Baginya, nilai anak-anak harus menjadi dasar bagi guru bahasa Indonesia meningkatkan kemahiran berbahasa siswa.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Kepala SMPN 1 Pringgasela, Zulkarnaen, selaku Kepala SDN 3 Pringgasela juga ingin pengujian bagi anak SD, paling tidak di Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur, harus lebih masif.

“Itulah mengapa kami mengumpulkan tiap ketua gugus untuk hadir di SDN 3 Pringgasela Selatan. Kami ingin tidak hanya siswa SDN 3 Pringgasela Selatan saja yang mengikuti UKBI, tetapi seluruh siswa di gugus 2, bahkan siswa di seluruh gugus di Pringgasela,” ujar Zulkarnaen.

Menanggapi hal tersebut, tim segera mengoordinasikan pengujian UKBI bagi siswa SD di Kecamatan Pringgasela. Pengujian kemudian disepakati akan dilaksanakan pada tanggal 19 dan 20 Februari 2024 dengan target uji sedikitnya sebanyak 800 siswa SD. Siswa yang akan mengikuti tes adalah siswa kelas 5 dan 6 yang dirasa memerlukan pendampingan literasi yang lebih intensif. (ron)