Beli Obat Keras, MBH Ditangkap Polisi

0

Mataram (Suara NTB) – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Mataram, mengamankan seorang pelaku berinisial MBH (25) yang diduga sebagai pengedar Hexymer yang tergolong dalam obat-obatan daftar Gevaarlijk atau berbahaya. “MBH kami tangkap di rumahnya karena memesan obat berbahaya ini secara online (dalam jaringan),” kata Kasat Narkoba Polresta Mataram AKP I Gusti Ngurah Bagus Suputra, Kamis, 1 Februari 2024.

Dikatakannya, peredaran obat penenang untuk orang dengan gangguan kejiwaan ini tentu sangat berbahaya. Karena akan merusak sistem syaraf yang mengakibatkan penyalahguna obat-obatan itu gila. “Penggunaan obat ini sangat berbahaya, karena akan merusak sistem syaraf,” sebutnya.

Dia menjelaskan, di kasus ini MBH terungkap memesan obat itu secara online. Pengungkapan atas kasus inipun terendus dari hasil pengawasan bea cukai yang menginformasikan adanya paket kiriman masuk ke wilayah NTB berisi obat berbahaya. “Barangnya masuk melalui jasa ekspedisi. Dari hasil penelusuran, terungkap paket ada di kantor wilayah Mataram,” ujar dia.

Tindak lanjut informasi, kepolisian pada Sabtu, 27 Januari 2024 siang bergegas menuju kantor ekspedisi tersebut dan menemukan paket bertulis “skincare” dengan nama pengirim “beautyshop”. “Penerimanya perempuan, alamat Kopang, Kabupaten Lombok Tengah,” ucapnya. Setelah mendapatkan izin dari pihak ekspedisi, paket kiriman dalam bentuk kotak tersebut dibuka dan ditemukan berisi puluhan strip Tramadol bersama 10 butir Hexymer dalam kemasan klip plastik bening dan meminta pihak ekspedisi menghubungi penerima.

“Karena tidak juga datang sampai Senin, 29 Januari 2024 kami tunggu, kami langsung merapat ke alamat penerima di Kopang,” kata dia. Pada saat dilakukan penelusuran, terungkap pemilik pesanan itu merupakan istri dari dari MBH. Penyidik pun langsung melakukan penggeledahan di rumah MBH dan kembali menemukan 5 butir Hexymer yang tersimpan di laci meja rias dalam kamar pelaku.

“Saat kita interogasi MBH mengakui bahwa paket berisi Tramadol dan Hexymer ini barang pesanannya,” ujarnya. Tindak lanjut penggeledahan, MBH bersama barang bukti Tramadol dan Hexymer dibawa ke Polresta Mataram. “Jadi, setelah kami lakukan pengujian barang di Labfor Polda Bali, dipastikan bahwa kedua merek obat ini tergolong obat berbahaya, Tramadol dan Hexymer warna kuning,” ucap dia.

Sebagai tersangka, MBH disangkakan dengan Pasal 435 Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya paling berat 12 tahun penjara dan denda paling banyak Rp5 miliar. Berdasarkan hasil pemeriksaan lebih lanjut, MBH mengaku sudah empat kali melakukan pemesanan obat daftar G ini melalui “marketplace”.  Bahkan setiap membeli tramadol, dia mendapatkan bonus berupa Hexymer. “Setiap beli Tramadol, saya dapat bonus Hexymer dan yang saya beli itu ada 300 butir Tramadol, 10 butir Hexymer ini bonusnya,” pungkasnya. (ils)