Pemangku Kepentingan Didorong Komitmen Implementasi Revitalisasi Bahasa Daerah

0
Peserta Rapat Koordinasi Antarinstansi dan Diskusi Kelompok Terpumpun Penyusunan Model Pembelajaran Bahasa Daerah Sasak, Samawa, dan Mbojo berfoto bersama pada Rabu, 31 Januari 2024.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Kegiatan Rapat Koordinasi Antarinstansi dan Diskusi Kelompok Terpumpun Penyusunan Model Pembelajaran Bahasa Daerah Sasak, Samawa, dan Mbojo telah selesai diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi NTB pada Rabu, 31 Januari 2024.

Sesuai dengan salah tujuan kegiatan, telah dihasilkan rumusan kebijakan dan komitmen bersama seluruh peserta kegiatan yang mewakili pemerintah daerah kabupaten dan kota se-NTB.

Pada penutupan kegiatan, Kepala Kantor Bahasa NTB, Puji Retno Hardiningtyas, menyatakan kegiatan ini menghasilkan Pedoman Pembelajaran Bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo yang telah direviu, Petunjuk Teknis Pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) termutakhir, dan rekomendasi rumusan kebijakan yang telah ditandatangani oleh perwakilan pemangku kebijakan di sepuluh kabupaten dan kota di Provinsi NTB.

“Kami harap, pedoman yang telah disusun dan direviu untuk kedua kalinya ini telah mengakomodasi kebutuhan para guru master yang akan mengimbaskan materi sebagai bahan pengayaan pembelajaran bahasa, aksara, dan sastra Sasak, Samawa, dan Mbojo kepada peserta didik masing-masing. Tentu saja, pedoman ini juga dapat menjadi acuan dan referensi dalam pembelajaran muatan lokal di sekolah dan komunitas literasi dan sastra di Provinsi NTB,” ujarnya.

Pihaknya menekankan, esensi Revitalisasi Bahasa Daerah bukan hanya sekadar selebrasi dalam FTBI semata. “Kami sangat yakin Bapak dan Ibu tidak akan membiarkan bola panas revitalisasi berhenti di tangan guru master, tetapi berlanjut ke tangan ribuan anak-anak kita dengan pengimbasan yang masif dan menyeluruh. Kelestarian dan pengembangan bahasa daerah menjadi tujuan utama kita bersama,” paparnya.

Puji Retno melanjutkan bahwa kegiatan ini juga menghasilkan rumusan kebijakan yang telah disepakati bersama dengan bukti penandatanganan setiap pengambil kebijakan di setiap kabupaten. Sebagaimana yang telah disebut dalam rekomendasi kebijakan, Revitalisasi Bahasa Daerah memiliki tujuan akhir agar para penutur muda, menjadi penutur aktif bahasa daerah dan mempelajari bahasa daerah dengan menyenangkan; menjaga kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah dengan penuh sukacita.Selain itu, menciptakan ruang kreativitas dan kemerdekaan untuk mempertahankan bahasa daerahnya; dan menemukan fungsi serta ranah baru dari sebuah bahasa dan sastra daerah.

“Kesadaran ini yang harus terus dibangun dalam diri seluruh pelaksana teknis maupun penentu kebijakan di daerah. Pewarisan bahasa, aksara, dan sastra Sasak, Samawa, dan Mbojo wajib dilakukan secara terstruktur melalui pembelajaran di sekolah serta dilakukan secara integratif, kontekstual, dan adaptif, baik melalui muatan lokal maupun ekstrakurikuler. Selain itu, diperlukan juga pewarisan bahasa daerah melalui pembelajaran di komunitas,” jelas Puji.

Berbagai pernyataan, baik harapan maupun ajakan yang disampaikan oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB merupakan suatu dorongan untuk aksi nyata atas komitmen seluruh pemangku kepentingan. Adapun hasil rekomendasi dan kebijakan kegiatan ini sebanyak 19 butir yang menekankan dukungan, sinergi, dan implementasi pemerintah daerah sebagai pemangku kepentingan di Provinsi NTB.

Kegiatan penutupan dirangkai dengan kesepakatan komitmen bersama, sambutan Kepala Kantor Bahasa NTB, pembacaan hasil rumusan kebijakan, dan penandatanganan komitmen bersama. Ke depannya, tahapan kegiatan ini akan dilanjutkan dengan Pelatihan Guru Master Revitalisasi Bahasa Daerah dan bermuara pada Festival Tunas Bahasa Ibu.

“Sebanyak 251 guru master telah kita tentukan jumlahnya dari setiap kabupaten dan kota. Pembagian ini disesuaikan dengan jumlah target terimbas dan antusiasme setiap daerah. Kami menunggu kabar baik yang menunjukkan keterlibatan dan apresiasi atas upaya pelestarian dan pengembangan bahasa, aksara, dan sastra Sasak, Samawa, dan Mbojo dari pemerintah dan guru-guru di daerah,” tutup Puji Retno. (ron)