Persoalan TPAR Kebon Kongok Telah Ada Solusi

0
Truk pengangkut sampah milik DLH Kota Mataram membuang sampah ke landfill baru di TPAR Kebon Kongok baru-baru ini. Walikota Mataram H. Mohan Roliskana memastikan permasalahan TPAR Kebon Kongok telah memiliki jalan keluar. Kendati demikian, perlu kembali duduk bersama dengan Pemprov NTB dan Pemkab Lobar. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram meminta masyarakat tidak perlu khawatir dengan penutupan Tempat Pengolahan Akhir (TPA) regional Kebon Kongok di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Penyelesaian masalah lahan dipastikan telah ada solusi.

Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana dikonfirmasi pekan kemarin mengapresiasi langkah bersama yang dilakukan bersama Kabupaten Lombok Barat meninjau lokasi Tempat Pengolahan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok. Landfill yang tersedia masih bisa dioptimalkan sebelum Pemkot Mataram mampu mengelola secara mandiri. “Lahan yang ada masih bisa dimanfaatkan dulu,” kata Walikota.

Dari hasil pengecekan lapangan dinilai sudah memiliki jalan keluar. Kendati demikian, perlu kembali duduk bersama dengan Pemprov NTB, Pemkab Lombok Barat, dan Pemkot Mataram. “Iya, sudah ada jalan keluarnya,” katanya.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang mengatakan, peninjauan terhadap lokasi landfiil di TPA Regional Kebon Kongok sebagai bentuk jawaban tentang keberadaan TPA tersebut. Perluasan lahan telah dilakukan pertemuan antara Pemkab Lobar, Pemkot Mataram dan Pemprov NTB untuk memastikan kondisinya sehingga menskenariokan alternatif-alternatif untuk menangani permasalahan sampah di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Dari hasil peninjauan di lapangan bahwa lokasi landfill yang baru ada tanah 3 hektar yang memungkinkan untuk dilakukan perluasan kapasitas TPA. Hal ini telah ditindaklanjuti oleh Pemprov NTB dengan melakukan appraisal terhadap pembebasan lahan tersebut. “Jadi ada proses administrasi terhadap hal itu berupa sertifikat. Saya kira itu menjadi urusan administratif,” kata Martawang.

Untuk penambahan perluasan diakui ada permintaan dari masyarakat sekitar agar pengembangannya tidak menggunakan teknologi landfill baru, tetapi menggunakan teknologi yang bisa memberikan rasa nyaman bagi masyarakat. Artinya, dengan kondisi ini masyarakat tidak perlu resah dan menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada pemerintah untuk mencarikan solusi terbaik dalam penanganan persampahan ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi mengatakan, pemilihan sampah di Kota Mataram telah dibangun tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Kecamatan Sandubaya. Pemilihan sampah bisa mencapai 96 ton per hari dari 200 ton produksi sampah setiap harinya. Sisanya 110 ton akan dibuang ke TPAR Kebon Kongok bukan berupa residu karena belum bisa tercover oleh TPST Sandubaya, sehingga direncanakan kembali untuk membangun TPST di Kebon Talo, Kecamatan Ampenan. “Jadi kebutuhan 110 ton ini bisa diproduksi di TPST Kebon Talo nantinya,” kata Denny.

Selain pemilahan sampah menggunakan teknologi, pihaknya juga mensosialisasi kepada masyarakat agar melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga sebelum dibawa ke TPST. Hal ini akan membantu pemerintah mengurangi pembuangan sampah ke TPAR Kebon Kongok. “Saya kira komitmen pemilihan sampah ini juga sama-sama dilakukan oleh Pemkot Mataram dan Pemkab Lombok Barat,” ucapnya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram, Miftahurrahman menambahkan, teknologi pengolahan sampah di TPAR Kebon Kongok menjadi bagian yang dipikirkan. Pihaknya belum memutuskan teknologi yang tepat karena perlu mendiskusikan kembali dengan berbagai pihak. “Itu belum. Kita sedang mencari formulasi saja,” jawabnya. (cem)