Jumat Salam Disperin NTB di Semoyang, Masyarakat Mengadu Sulit Pemasaran Tenun, Melon hingga Cabai

0
Kepala Dinas Perindustrian NTB dan jajaran, disambut Kepala Desa Semoyang, Zulkarnaen saat melakukan kegiatan Jumat Salam, 26 Januari 2024.(Suara NTB/bul)

Praya (Suara NTB) – Dinas Perindustrian Provinsi NTB melaksanakan kegiatan Jumat Salam di Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Jumat, 26 Januari 2024. Seperti biasa dalam kegiatan Jumat Salam (Jumpai Masyarakat Selesaikan Aneka Persoalan Masyarakat) ini, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE., ME., dampingi beberapa Kepala Bidang, diantaranya Plh. Sekretaris sekaligus Kabid Pembangunan Sumber Daya Industri Lalu Luthfi, M.Si, Kabid Kerja sama Arifin, M.H. Kepala Balai Kemasan Produk Daerah Drs. Agus Supriyanto, Apt beserta rombongan melakukan audiensi dengan perangkat dan masyarakat Desa Semoyang.

Jumat Salam digelar di Aula Kantor Desa Semoyang. Rombongan Disperin NTB diterima langsung oleh Kepala Desa Semoyang, Zulkarnaen, perangkat desa dan puluhan warga  Desa Semoyang termasuk tokoh agama dan tokoh masyarakat. Dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Perindustrian, Nuryanti menyampikan bahwa kegiatan Jumat Salam adalah program strategis Pj. Gubernur NTB, Drs. H. Lalu. Gita Ariadi.,M.Si dengan menggerakkan seluruh armada di Pemprov NTB untuk menyerap aspirasi masyarakat, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Pada kegiatan Jumat Salam Dinas Perindustrian Provinsi NTB kali ini, elemen masyarakat Desa Semoyang menyampaikan sejumlah persoalan dan kebutuhan. Diantaranya, permintaan bantuan peralatan pendukung industri tenun. Ditengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan mempengaruhi kegiatan pertanian saat ini, sebagian masyarakat Desa Semoyang mulai menekuni aktivitas menenun di rumah.

Namun disisi lain, hasil produksi menenun masyarakat menghadapi persoalan susahnya mendapatkan pasar. Hasil tenunan masyarakat akhirnya hanya menjadi pajangan. Masyarakat kemudian menggunakan jasa makelar untuk memasarkan hasil tenunan di Semoyang. Namun, harga jual produk hasil tenunan sangat tidak sebanding dengan lamanya proses pengerjaan yang memakan waktu hingga 5 hari untuk satu lembar kain tenun.

Harga beli jual tenun dari makelar berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu perlembar. Sementara makelar ini menjualnya dengan harga yang cukup tinggi. Masyarakat sangat mengharapkan pemerintah provinsi memfasilitasi pemasaran hasil tenun. Penenun di Semoyang juga mendapat kabar adanya sentra pemasaran produk UMKM, yaitu NTB Mall. Namun mereka tidak mengetahui tata caranya mengakses jaringan ke NTB Mall. Yang diketahui justru, masuk produk di NTB Mall aturannya ribet.

Selain menyampaikan keluhan sulitnya pemasaran tenun, persoalan lain yang juga disampaikan adalah susahnya pemasaran produk hortikultura yang dikembangkan di Semoyang. Diantaranya cabai dan melon. Pada saat produksi tinggi, petani justru tidak mendapatkan harga yang layak. Sehingga mereka mengharapkan Solusi untuk meningkatkan nilai jual, salah satunya dengan industrialisasi seperti memproduksi jus melon. Dan membuat pengeringan cabai.

Menanggapi hal-hal yang dikemukakan perwakilan masyarakat Desa Semoyang ini, Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti menyampaikan beberapa solusi yang bisa dilakukan. untuk kesulitan memasarkan tenun, Dinas Perindustrian akan memfasilitasi pemasaran ke stakeholder yang bergerak di industri fashion. Selain itu, para IKM tenun di Desa Semoyang juga dipersilahkan memanfaatkan galeri yang disiapkan di Kantor Dinas Perindustrian Provinsi NTB.

Ada juga alternatif yang disiapkan, Nuryanti meminta dilakukan pendataan jumlah tukang jahit yang ada di Desa Semoyang untuk diberikan pelatihan konveksi standar. Dengan harapan, hasil-hasil tenun masyarakat sekitar bisa dijadikan bahan baku untuk mengembangkan fashion yang dikombinasikan.

Dengan Solusi ini, Nuryanti meyakini, peluang pasar produk-produk fashion akan lebih terbuka. Dan harganya akan jauh lebih tinggi ketimbang menjual hanya sekedar hasil tenun.

Sementara untuk produksi cabai, Nuryanti mengatakan, justru hal ini aneh. Beberapa kuliner legend di NTB, seperti Ayam Rarang, Ayam Taliwang, Sate Pusut, justru merasa kekurangan bahan cabai. Untuk memenuhi kebutuhan cabai, IKM-IKM kuliner ini bahkan mendatangkan cabai dari Thailand secara konsisten. “Padahal pasar lokal saja terbuka, bahkan harus mendatangkan cabai dari luar negeri. Kenapa malah kita kesusahan pasar. Nanti kita coba berikan pelatihan dan pendampingan untuk pengeringan cabai supaya awet dan dapat dipasarkan. Dan kita akan linknya petani dengan IKM-IKM kuliner kita,” tambahnya.

Sementara untuk melon, Nuryanti mengatakan, akan mencoba mendukung pengembangan industri jus. Agar melon kualitas C dan D bisa ditingkatkan nilai tambahnya. “Untuk persoalan pemasaran cabai dan melon ini, kita akan coba linknya dengan anak-anak muda kreatif yang tergabung dalam Koin (Komunitas Industri),” demikiian Nuryanti. (bul)