Cabai Rawit Jadi Primadona dan Pemicu Inflasi

0
Miftahurrahman. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram studi tiru ke Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat yang empat kali berturut-turut mendapatkan penghargaan tim pengendali inflasi daerah (TPID) Award dari pemerintah pusat. Cabai rawit menjadi primadona dan pemicu inflasi.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram, Miftahurrahman mengatakan, perjalanan  studi tiru bersama kabupaten/kota se-NTB dan Bank Indonesia ke Kabupaten Tasiklamaya, Jawa Barat  untuk melihat keberhasilan memperoleh penghargaan TPID Award dari pemerintah pusat sebanyak empat kali berturut-turut.

Pihaknya melihat inovasi-inovasi serta terobosan yang dilakukan secara berkelanjutan terutama pengembangan hortikultura yang dikembangkan oleh anak muda. “Kita mencoba melihat inovasi-inovasi yang mungkin bisa dikembangkan di Kota Mataram,” kata Miftah ditemui pada Jumat, 26 Januari 2024.

Miftah mengakui, cabai rawit masih menjadi primadona dan pemicu inflasi di kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Namun demikian, studi tiru ini memberikan gambaran sistem pengembangan pertanian hortikultura.  Salah satu petani milenial di Kabupaten Majalengka patut ditiru karena berhasil mengembangkan pertanian secara modern. Keberhasilannya ini membuat sejumlah negara takjub seperti Amerika, Taiwan, dan Australia mengundangannya untuk mempresentasikan pengembangan pertanian modern tersebut. “Bahkan Pak Presiden Jokowi sering mengundang petani milenial ini ke Istana Negara,” katanya.

Sebagai upaya menekan inflasi kata Miftah, pendekatan yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa produksi, distribusi, pasokan, dan aspek lainnya harus terjaga dengan baik.

Pihaknya berharap pengembangan teknologi pertanian ini dapatkan diimplementasikan di Kota Mataram sehingga dapat menekan laju inflasi terutama cabai rawit.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kota Mataram, Arifuddin menjelaskan, pada bulan Desember 2023, Kota Mataram mengalami inflasi tahunan year on year sebesar 3,04 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 115,79 lebih tinggi dari bulan November 2023 (inflasi 2,96 persen). Inflasi tahunan ini menunjukkan telah terjadi kenaikan IHK dari bulan Desember

2022 sebesar 112,37 menjadi 115,79 di bulan Desember 2023, yaitu sebesar 3,04 persen.

Inflasi tahunan Kota Mataram lebih tinggi dari angka inflasi gabungan dua kota NTB

(inflasi 3,02 persen) dan nasional (inflasi 2,61 persen).

Akan tetapi, inflasi tahun kalender bulan Desember 2023 sebesar 3,04 persen, lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi tahun kalender bulan Desember 2022 sebesar 6,18 persen. Demikian pula, pada bulan Desember 2023, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,29 persen, lebih rendah dari angka gabungan dua kota NTB yakni, inflasi 0,35 persen dan nasional inflasi 0,41

persen. “Jadi inflasi Kota Mataram lebih rendah dibandingkan inflasi nasional,” kata Arif.

Dikatakan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan peningkatan indeks pada sebelas kelompok pengeluaran. Dari sebelas kelompok pengeluaran, sembilan kelompok mengalami inflasi dan dua kelompok mengalami deflasi. Kelompok yang mengalami inflasi dari yang terbesar adalah transportasi sebesar 1,23 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,55 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,28 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,15 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,15

persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,05 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen dan kelompok pendidikan sebesar 0,00 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi adalah kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,04 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,12 persen.

Arif menambahkan, sepuluh besar komoditas penyumbang inflasi bulan Desember 2023 adalah angkutan udara, cabai merah, bawang merah, tomat, emas perhiasan, cabai rawit, apel, kacang panjang, tempe dan ayam goreng.  “Namun laju inflasi bulan Desember 2023 tertahan oleh turunnya harga daging ayam ras, tongkol diawetkan, cumi-cumi, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, udang basah, beras, ayam hidup, salak, kangkung dan minyak goreng,” jelasnya.

Menurutnya, intervensi dilakukan Pemkot Mataram bersama Bank Indonesia melalui pasar rakyat dan gelar pasar murah cukup efektif menekan kenaikan harga. (cem)