Pameran Repatriasi

0
H.Lalu Gita Ariadi (Suara NTB/ist)

Oleh :
Lalu Gita Ariadi

JELANG penutupan, saya berkesempatan hadiri Pameran Repatriasi ( pemulangan ke tanah air ) benda-benda bersejarah asal Lombok yang dikembalikan Pemerintah Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia. ( Galeri Nasional Indonesia, 10 Desember 2023 ).

Ada rasa penasaran, sehingga ingin cepat-cepat ke ruang pameran. Disambut Plt Kepala Museum dan Cagar Budaya Nasional – Bapak Ahmad Mahendra, didampingi Kadis Dikbud NTB ( Dr. Aidy Furqon ) dan Kepala Museum NTB ( Ahmad Nuralam ), saya bergegas menuju ruang pameran yang alhamdulillah dipenuhi penonton dari kalangan generasi muda, dewasa hingga orang-orang tua yang mungkin terpanggil dan penasaran dengan barang-barang bersejarah yang secara bertahap kembali ke tanah air.
Dengan sangat telaten Bang Ahmad Mahendra dan teman-teman Galeri Nasional, memandu menceritakan item-item pameran. Diawali ikhtiar, komunikasi dan kebijakan-kebijakan terkait repatriasi antara Pemerintah Belanda dan Indonesia.

Tercatat dalam sejarah, Prof. Muhammad Yamin sejak tahun 1951 berjuang agar benda bersejarah hasil jarahan Belanda waktu menjajah dikembalikan ke Indonesia. 21 tahun kemudian baru ada secercah harapan. Tahun 1972 keropak Negarakertagama kembali ke tanah air. 1978, Arca Prajnaparamita dan sejumlah pusaka dikembalikan dari Belanda. Repatriasi ini, awal babak baru mencairnya dialog kebudayaan dan sejarah antara Belanda dan Indonesia yang sempat membeku akibat konflik di era revolusi kemerdekaan.

Empat dekade berikutnya, tahun 2015, repatriasi inisiasi warga terjadi. Erica Baud ( cicit buyut ) Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.C. Baud ( memerintah 1833 – 1836 ), mengembalikan tongkat milik Pangeran Diponogoro. Pengembalian tongkat ini, melengkapi koleksi milik Pangeran Diponogoro yang tersimpan di Galeri Nasional setelah sebelumnya ada tombak, pelana kuda dan sebuah payung yang tiba tahun 1978. Februari 2020 keris Pangeran Diponegoro berjuluk “Naga Siluman” kembali ke tanah air setelah sempat menghilang dan ditemukan kembali tahun 2019. Dialog tentang repatriasi kian intens dilakukan.
Juli 2022, Pemerintah Indonesia meminta pengembalian 8 koleksi benda sejarah yaitu : Al Qur’an Teuku Umar, Keris kerajaan Klungkung, Arca Singhasari, pusaka Kerajaan Luwu, Pusaka Kerajaan Lombok, koleksi seni Bali Pita Maha, tali kekang kuda Pangeran Diponegoro dan fosil Homo Erectus temuan Eugene Dubois.

Juli 2023, upaya repatriasi kian menemukan titik terang antara lain dengan dikembalikannya : Archa Singhasari yg tiba 17.8.2023. pusaka Kerajaan Lombok dan Keris Kerajaan Klungkung tiba tgl 9.11.2023 sehari sebelum pemilik keris yaitu Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada rangkaian peringatan Hari Pahlawan 2023.

Beberapa arca besar dan benda-benda bersejarah hasil repatriasi tersaji di ruang pamer. Di ruang depan, ada Arca Prajnaparamita, Dewi yang duduk di atas lapik padma ( teratai ) dengan sikap duduk vajraparyanka. Disampingnya, ada Arca Durga Mahisasiramardani. Dalam mitologi Hindu, Dewi Durga adalah isteri Dewa Siwa yang muncul untuk mengalahkan raksasa berwujud seekor kerbau ( mahisa ).

Disampingnya ada Arca Mahakala yang merepresentasikan Dewa Siwa yang kedua tangannya memegang gada dan belati. Disampingnya, ada Arca Nandiswara yang secara ikonografi digambarkan seperti Dewa Siwa yang hanya bertangan dua. Terakhir ada Arca Ganesha yang dalam ajaran Hindu dipercaya sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan dan penyingkir rintangan. Dalam mitologi Hindu, Ganesha adalah anak dari Dewa Siwa dengan Dewi Parwati. Ganesha digambarkan bertubuh manusia, berkepala gajah, membawa kapak, tasbih, mangkuk berisi ilmu pengetahuan yang dihisap oleh belalainya.

Di ruang pamer selanjutnya, terpampang benda-benda bersejarah milik Pangeran Diponegoro seperti : Tombak Kiai Rondhan, pelana kuda “Kiai Gentayu”, tingkat “Kiai Tjokro” dan keris “Kiai Nogo Siluman”. Keris ini oleh Kolonel Jan Baptist Cleerent pernah dihadiahkan kepada Raja Williem I (1831) setahun setelah Perang Pangeran Diponogoro berakhir ( 1825 – 1830 ). Keris ini kemudian disimpan di Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden ( KKZ ) kemudian berpindah ke Museum Volkenkunde Leiden.

Di ruang pameran lebih dalam, dengan penjagaan fisik yg ketat lengkap dgn monitor CCTV, ada benda bersejarah koleksi kerajaan Klungkung dan Kerajaan Lombok yg dijarah dan dibawa ke Belanda. Antara lain : Keris Pusaka Klungkung yg bilahnya bergelombang berbahan nikel, gagangnya bertabur batu permata serta berlapis emas dgn wrangka kayu dan gading.
Dari Lombok, tercatat Belanda menjarah sebanyak 230 Kg emas, 7.000 Kg perak, perhiasan berlian, ratna mutu manikam, batu mulia, emas batangan dll dalam bentuk perhiasan-perhiasan dan asesoris upacara agama. Seperti : mangkuk, piring, kotak tembakau, kotak sirih, sendok, cawan, kain, cincin tangan dan kaki, gelang kaki, gagang keris gerantim, perhiasan telinga, tempat jimat, bros berlian, keris dll. Penjarahan dilakukan pasca jatuhnya Istana Cakranegara pada 18 November 1894.

Ekspedisi Belanda ke Lombok yg dipimpin Mayjen J.A. Vetter dan Mayjen P.P.H. Van Ham memicu meletusnya peperangan. Berawal dari serangan terhadap Puri Cakranegara pada 25 Agustus 1894. 100 an tentara KNIL tewas. Termasuk Mayjen Van Ham yang kuburannya ada di Setra Karang Jangkong. Makam Van Ham ini dipelihara dengan baik dan sering dikunjungi wisatawan dari Belanda yang mengaku anak cucu, cicit, buyut keturunan Mayjen Van Ham.

Masih penasaran dengan benda-benda bersejarah yang sudah direpatriasi ? Kami sedang ikhtiarkan dan koordinasi agar benda-benda bersejarah tersebut kembali ke Lombok untuk dipamerkan agar dapat dilihat anak cucu kita………
Insyaallah, Aamiin YRA.