Harapan Demokrasi yang Subur di Tahun Pemilu

0
Hikmah Altway

Oleh: Dra. Hikmah Altway, M.Pd.

(Calon Legislatif Partai NasDem, Dapil Ampenan No.3)

Membaca Undang-undang tentang pemilihan umum (pemilu), dijelaskan bahwa pemilu merupakan suatu cara yang demokratis dalam menentukan seseorang untuk memegang atau menduduki jabatan politik melalui pemilihan secara bebas, rahasia, jujur, dan adil yang berlandaskan azas umum.

Sebagaimana yang diketahui bahwa saat ini kita tengah berada di dalam tahun pemilu, di mana kita dapat menyampaikan aspirasi sebagai hak dan kewajiban.

Menjadi harapan bagi semua warga negara agar tercipta Pemilu yang berkualitas, sehingga kita memperoleh pemimpin yang diharapkan. Ukuran Pemilu yang berkualitas adalah adanya kebebasan warga negara dalam mengekspresikan hak-hak dasarnya.

Dalam pesta demokrasi yang sedang berlangsung saat ini, kompetisi yang adil dan transparan akan menghasilkan derajat keterwakilan yang berimbang, artinya keterwakilan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tentu saja diharapkan para calon pemimpin berlaga secara sportif dengan metode pendekatannya masing-masing. Pada kesempatan ini pula, masyarakat akan mendengar Visi dan Misi dari masing-masing kandidat tersebut.

Kami coba membaca untuk memahami ketentuan para calon angota DPRD Kabupaten/Kota, sehingga kami memahami bahwa para pengusung Partai tentu sebagai mana layaknya berkompetisi dalam rangka memenangkan kandidatnya masing-masing.

Menurut pendapat kami sebagai calon legislatif dari partai NasDem Dapil Ampenan nomor 3 (Hikmah) dan mengingat latar belakang kami seorang muslimat, maka kami selalu melihat, membaca, dan membandingkan kriteria pemimpin yang kami pilih yaitu bertaqwa kepada sang Khalik, seperti dalam Surah Shad (Al Quran Nulkarim) ayat 26 yang berbunyi:

“Hai, Daud, Sesungguhnya kami jadikan kamu halifah(penguasa) dimuka bumi Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”

Jadi siapanpun menjadi pemimpin dan dalam level apapun perlu memiliki karakter kepemimpinan.

Menurut pendapat kami, di samping ketentuan di atas, seorang pemimpin juga perlu memiliki:

  1. Visi berdasarkan keimanan yang kuat (surat Al Anbiya ayat 73)
  2. Mampu menegakkan keadilan (Surat Shad ayat 26)
  3. Memiliki sifat amanah (Surat An Nisa ayat 58)
  4. Menjunjung tinggi musyawarah. Pemimpin selalu mengutamakan musyawarah sebelum membuat keputusan. Musyawarah dalam membuat keputusan lebih baik dan mengurangi resistensi serta menimalkan dampak negatif (Surat Asy-Syura ayat 38)

Adapun bunyi dari QS Asy-Syura: 38, sebagai berikut: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Selanjutnya, kalau kita cermati pendapat para ahli tafsir bahwa dalam Surat An Nisa itu saja sudah jelas perintah Allah SWT kepada para pemimpin. Adapun salah satu daripada ahli tafsir dimaksud ialah Min Fathil Qadir Syaikh DR. Muhammad Sulaimman Al Asygar, bahwa Surat An Nisa ayat 58, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil.”

Kalimat ini mencakup seluruh manusia dalam menunaikan segala amanat dan yang paling pertama adalah bagi para pemimpin dan penguasa.

Wajib bagi mereka menemukan amanat dan mencegah kezaliman dan senantiasa berusaha menegakkan keadilan yang telah dilimpahkan atas amanat yang telah mereka pikul dalam kebijakan-kebijakan mereka, dan termasuk di dalam perintah ini juga selain mereka, sehingga mereka wajib menemukan amanat yang mereka punya dan senantiasa berhati hati dalam menyampaikan kesaksian dan kabar berita.

Wallahu a’lam bishawab. (*)