Kendalikan Harga, Bank Indonesia Siapkan Operasi Pasar Cabai

0

Mataram (Suara NTB) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB akan melakukan operasi pasar murah (OPM) cabai untuk mengendalikan inflasi dari komoditas hortikultura ini. Rencananya, operasi pasar akan dilakukan di Kota Mataram pada 11-14 Desember 2023 ini. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry A Harahap melalui Deputy Bidang Ekonomi Moneter, Winda Putri Listya mengatakan, cabai menjadi salah satu komoditas yang berpotensi menyumbang inflasi akibat kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.

“Kemarin kita diundang rapat sama pak Pj. Gub saat rapat dengan Kemendagri, gula (gula pasir) ndak masuk sebagai komoditas strategis yang justru mendapat perhatian. Malah cabai sebenarnya yang dikhawatirkan sampai dengan penghujung tahun akan berkontribusi cukup signifikan menyumbang inflasi. Karena bukan hanya di NTB saja persoalan cabai ini,” kata Winda di ruang kerjanya.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan pemerintah daerah ingin mengajak masyarakat untuk bersama – sama melakukan pengendalian harga cabai. “Kita sudah lakukan gerakan tanam, kasi bantuan bibit. Tapi apakah itu masih terus dipertahankan, apakah itu menjadi habit (kebiasaan baik), ini yang sebenarnya terus diperhatikan,” imbuhnya.

Operasi pasar dengan cabai rencananya akan terus digencarakan oleh Bank Indonesia, bersama stakeholder. Cabai yang digunakan adalah cabai produksi petani kluster binaan Bank Indonesia di Kabupaten Lombok Barat. Tentu harga jual cabai saat operasi pasar sesuai harga jual dari tingkat petaninya langsung.

Kendati demikian, lanjut Winda, sebagaimana arahan Dewan Gubernur Bank Indonesia, bahwa pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan seperti skema pemadam kebakaran. Tetapi harus menggunakan strategi yang sifatnya structural.

“Kita sedang jajaki penguatan sarana prasarana mulai dari hulu sampai hilir. Karena isunya musim hujan, komoditas hortikultura harganya fluktuatif. Perlu kita pikirkan selama musim hujan bagaimana supaya ketersediaannya tetap ada,” katanya.

Salah satu alternatif yang direkomendasikan adalah penyediaan mesin CAS (Controlled Atmosphere Storage)  merupakan sistem yang mengkombinasikan teknologi pendingin dengan teknologi pengkondisian udara (O2, CO2, N2, Ethylene dan RH) sebagai alat penyimpan produk komoditi hortikultura dalam jangka waktu yang lebih panjang dari metode konvensional. Mesin CAS dapat mengawetkan berbagai komoditas seperti bawang merah, cabai, buah-buahan, sayuran, dan lainnya hingga 3 sampai 6 bulan.

“Kalau soal ketidaksiapan karena tingginya beban operasional, di Sumatera Utara di Kabupaten Dairi sebagai kabupaten yang tidak kaya, tapi bisa mengelola stok komoditasnya dengan CAS, bisa itu,” imbuhnya. Secara umum, lanjut Winda, ada tiga agenda besar masyarakat yang harus menjadi perhatian bersama seluruh pihak terkait dalam kaitannya mengendalikan inflasi. Pertama, Natal dan tahun baru (Nataru), disambung dengan kegiatan pesta demokrasi (pemilu), dan puasa / lebaran (Idul Fitri) pada kwartal I tahun 2024.

“Kalau kita tidak prepare (siap-siap), berat, berat Q I (Quartal I 2024). Ini PR kita bersama, supaya langkah strategis TPID dan program-program GNPIP bisa dijalankan bersama. Risiko (inflasi karena kenaikan harga) yang kita khawatirkan di Q I 2024 bisa kita minimalisir,” tandas Winda. (bul)