Anggaran Penanganan Minim, 553 Warga di Bima jadi Korban Gigitan Anjing, 3 Meninggal

0
Ilustrasi

Bima (Suara NTB) – Kasus gigitan anjing liar di wilayah Kabupaten Bima belum hilang. Proses penanganannya dianggap belum maksimal. Salah satu kendala yang dihadapi yakni anggaran yang dialokasikan melalui APBD dianggap masih minim.

Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Bima, Bulan Januari-November 2023, tercatat ada 553 warga yang menjadi korban gigitan anjing. Bahkan 3 korban diantaranya meninggal dunia.

“Sepanjang tahun 2023, ada 553 kasus gigitan anjing liar di Kabupaten Bima dan 3 korban meninggal dunia,” kata Kabid Keswan Disnakeswan, Kabupaten Bima, Taufik Walhidayah, Kamis, 7 Desember 2023.

Taufik mengatakan ratusan kasus gigitan anjing gila tersebut hampir merata tersebar pada 18 Kecamatan di Kabupaten Bima. Namun kasusnya sebagian besar terjadi di wilayah Kecamatan Donggo, Langgudu, Sape, Sanggar dan Ambalawi.

“Kasus gigitan tersebar merata 18 Kecamatan, namun kebanyakan ada di wilayah 5 Kecamatan,” ujarnya.

Sementara tiga warga meninggal dunia akibat gigitan anjing liar lanjut dia, masing-masing warga Kecamatan Sanggar bernama Sudirman. Kemudian Hasnun, warga Kecamatan Ambalawi serta Galang, warga Kecamatan Madapangga.

“Tiga warga ini meninggal dunia karena lamban mendapat tindakan medis setelah digigit anjing,” katanya.

Ia mengaku pihak keluarga menyepelekan luka gigitan yang dialami korban, sehingga enggan membawa korban ke Puskesmas atau RSUD. Padahal di semua Puskesmas sudah disiapkan penanganan hingga disediakan juga vaksinasi.

“Setelah kondisinya parah baru berobat. Rata-rata gejala yang dialami korban gigitan, takut cahaya dan air hingga dan sering muntah,” ujarnya.

Dalam menekan kasus gigitan, Taufik mengaku pihaknya tetap intens memberikan edukasi kepada warga. Terutama memberikan pemahaman langkah-langkah pencegahan dan penanganan pertama apabila menjadi korban gigitan anjing liar.

“Yang kita lakukan menekan kasusnya, intens sosialisasi pencegahan, serta mengingatkan masyarakat agar tidak melepaskan liarkan anjing yang menjadi penjaga hama babi tanaman jagung,” ujarnya.

Meski begitu penanganannya tersebut belum berjalan optimal dan maskimal. Mengingat anggaran penanganan yang dialokasikan dalam APBD Kabupaten Bima sangat minim. Beruntungnya ada bantuan berupa vaksin dari Pemerintah Pusat.

“Alokasi anggaran untuk penanganan sangat minim. Kalaupun ada, hanya untuk kebutuhan operasional saja,” pungkasnya. (uki)