Januari hingga November 2023, 105 Kejadian Bencana Alam di NTB, Banjir Paling Banyak

0
Kendaraan saat melintas di Jalan Catur Warga Kota Mataram yang tergenang setelah hujan mengguyur Kota Mataram dengan intensitas yang cukup tinggi pada Senin, 4 Desember 2023 dini hari kemarin. (Suara NTB/ris)

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB mencatat pada periode 1 Januari – 30 November 2023 telah terjadi bencana alam di daerah ini sebanyak 105 kejadian. Dari jumlah tersebut, bencana yang paling sering terjadi yaitu bencana banjir atau banjir bandang dengan 54 kejadian.

Kepala Pelaksana BPBD NTB H. Ahmadi mengatakan, selain bencana banjir atau banjir bandang, bencana yang cukup banyak terjadi di NTB lainnya yaitu tanah longsor 19 kejadian, cuaca ekstrem/angin puting beliung 20 kejadian, kekeringan 9 kejadian di kabupaten/kota terdampak, kebakaran hutan dan lahan sebanyak tiga kejadian.

“Adapun  gelombang pasang atau rob dari Januri hingga November belum tercatat adanya kejadian,” kata Ahmadi dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Sesuai dengan laporan BMKG bahwa pada dasarian I Desember 2023 (1 – 10 Desember 2023) diperkirakan hujan berpeluang terjadi di seluruh wilayah NTB. Curah hujan dengan intensitas tinggi (>150 mm/dasarian) berpeluang terjadi disebagian wilayah Lombok Tengah dan Lombok Barat bagian utara  dengan peluang 30 – 50 persen.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat Suci Agustiarini mengatakan, di sebagian wilayah Sumbawa bagian barat dan Bima bagian utara (sekitar Tambora) terdapat peluang curah hujan dengan intensitas 100-150 mm/dasarian. Hujan dengan intensitas 50-100 mm/das berpeluang terjadi diseluruh pulau Lombok, sebagian Bima bagian barat, Sumbawa Barat, dan sebagia Sumbawa bagian barat dengan peluang  di atas 50 persen.

Pada masa peralihan menuju musim hujan 2023/2024, masyarakat perlu mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, angin kencang yang dapat terjadi secara tiba – tiba dan bersifat lokal.

“Di beberapa wilayah yang memiliki peluang hujan degan katagari tinggi perlu mewaspadai terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya,” sarannya.

Aliran massa udara di wilayah Indonesia masih didominasi oleh angin timuran terutama wilayah Indonesia bagian selatan sekitar NTB.  Aliran massa udara diprediksi masih didominasi oleh angin timuran dengan kecepatan yang melemah. Analisis terakhir menunjukkan MJO akan aktif  di fase 4 dan 5 di wilayah Indonesia pada awal hingga akhir dasarian I Desember 2023.

MJO adalah Madden Julian Oscillation yang erupakan aktivitas intra seasonal yang terjadi di wilayah tropis yang dapat dikenali berupa adanya pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang biasanya muncul setiap 30 sampai 40 hari. MJO berkaitan dengan aktivitas konveksi/potensi awan hujan di wilayah Indonesia. (ris)