Harta Lombok yang Mengetarkan, Museum Upayakan Bisa Dipamerkan di Lombok

0
Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam mengunjungi Museum Nasional di Jakarta untuk melihat harta karun Lombok yang dipamerkan. (Suara NTB/ist)

Jakarta (Suara NTB) – Peninggalan bersejarah dari Lombok yang dikembalikan ke Indonesia sudah tiba di Museum Nasional. Harta karun peninggalan bersejarah ini pun sudah bisa disaksikan langsung oleh masyarakat, khususnya pengunjung Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam, S.H., M.H., sudah melihat secara langsung kondisi harta bersejarah dari NTB di Jakarta ini.
“Menyaksikan harta Lombok yang dipamerkan di Galeri Nasional di Jalan Merdeka Timur adalah suatu di niatkan dari Mataram. Sampai di pameran repatriasi masih pagi sekitar jam 8.30 WIB, belum buka dan saya harus menunggu karena akan dibuka pada pukul 10.00 WIB. Masyarakat Jakarta (mungkin juga dari daerah lain) sama menunggu di kursi restoran sebelah selatan ruang pameran. Mahasiswa Warga Negara Asing juga ada yang datang dengan antusias,” ujarnya pada Suara NTB, Selasa, 5 Desember 2023.

Setelah melakukan register online, ujarnya, para pengunjung harus menitip tas, koper atau barang bawaan di lokasi yang sudah ditetapkan.
Petugas keamanan, tambahnya, meminta pengunjung men-scan barcode, setelah itu diberikan stiker warna oranye. “Karena pagi dan pertama, kami dimasukkan dalam rombongan 1. Ada gelombang ke 2 dan 3 dengan stiker yang berbeda pula,” terangnya.

Saat masuk di lobi pertama, ujarnya, terlihat patung Ganesa, Paramita yang memiliki estetik dengan ragam corak hiasan yang detail dan halus. Dari penjelasan pemandu patung tersebut adalah bagian yang dikembalikan Pemerintah Belanda tahun 2023 ini.

Setelah itu, tambahnya, para pengunjung diarahkan masuk ke dalam ruang Pameran 2. Ruang pameran ini berisi hampir semuanya adalah harta karun Lombok hasil rampasan perang. “Di awal ada keris kelingking dan keris Diponegoro.
Yang menarik dari ruangan ini kita dilarang merekam dan memotret,” tambahnya.

Dari ruang pameran 2, yang mendominasi adalah isi fitrin hijau. “Ini Masterpice dari pameran repatriasi. Berlian dipotong sangat presisi dan menghasilkan kilauan warna serta menakjubkan. Dibingkai dengan emas yang diukir dan dibentuk di semua sisinya. Harta ini menunjukkan betapa tingginya identitas budaya yang dahulu kita miliki,” ujarnya menggambarkan.

Selain itu, ungkapnya, yang tak kalah menarik adalah kotak tembakau yang dihiasi permata dan terbuat dari emas. “Ada juga yang terbuat dari perak. Luar biasa dan menimbulkan kekaguman,” tambahnya.

Untuk itu, tegasnya, pameran ini sangat dibutuhkan karena ini menyambungkan kepingan dari kebudayaan Lombok yang dibawa sampai negeri Belanda.

Dalam hal ini, pihaknya menyayangkan kalau harta karun Lombok ini hanya bisa melihatnya di Jakarta. Bagaimana tidak, untuk melihat peninggalan hasil kebudayaan sejarah Lombok masyarakat butuh pengorbanan yang banyak.
*Kita berharap masyarakat NTB dapat menyaksikan dari dekat dengan cara Museum Nasional memamerkan ke NTB setidaknya tahun depan. Belanda mengembalikan semua harta karun tersebut, karena pertimbangan etis lah mereka mengembalikan ke Pemerintah Indonesia,” terangnya.

Terlebih banyak pengunjung yang datang adalah siswa SMP. Mereka dengan antusias membawa buku serta bolpoin ke dalam ruang pameran dengan guru mereka. “Andai kata aktivitas ini juga kita bisa saksikan di Mataram pasti bangga rasanya memperkenalkan peninggalan kebudayaan kita kepada generasi NTB,” harapnya. (ham)