Pegiat Sejarah dan Budaya Berharap Pemda Kembangkan Wisata Sejarah di Lombok

0
Ali Akbar (Ekbis NTB/ist), Ahmad Sugeng (Ekbis NTB/ist)

SAAT ini, wisata sejarah atau Heritage Tourism menjadi salah satu tren pariwisata yang berkembang. Tak terkecuali di Lombok, NTB.

Salah seorang pegiat Lombok Heritage and Science Society (LHSS), Ahmad Sugeng mengatakan, potensi wisata sejarah di Lombok sangat menjanjikan, karena selain dianugerahi beberapa tempat yang punya nilai sejarah yang tinggi. Wisata sejarah juga merupakan peluang wisata alternatif dari wisata mainstream lainya.

“Wisata sejarah akan memberikan pengalaman yang lebih personal kepada para wisatawan, karena wisata sejarah itu sifatnya personalize. Dalam arti tidak dilakukan dalam kelompok yang besar (mass tourism),” kata Ahmad Sugeng.

Adapun beberapa wisata sejarah yang ada di Lombok, seperti Kota Tua Ampenan yang pernah menjadi tempat tinggalnya seorang ilmuwan besar yang memberikan kontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan dunia, yakni Alfred Russel Wallace.

Kemudian Kota Cakranegara, yang dikenal oleh dunia sebagai tempat ditemukannya Kitab Negara Kertagama dan telah diakui sebagai memori dunia UNESCO.

“Belum lagi Kota Mataram dengan berbagai cerita sejarahnya. Ada kisah Kerajaan Mataram Lombok yang pernah berjaya di abad 19 atau sejarah tentang Pemerintahan Kolonial Belanda yang masih menyisakan beberapa bangunan-bangunan,” ujar Gegen, sapaan akrabnya. “Belum lagi tempat-tempat lain di Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara,” tambahnya.

Menurut Gegen, semua tempat wisata sejarah yang ada di Lombok khususnya, mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi wisata sejarah berbasis kearifan lokal.

Tentu, hadirnya wisata sejarah tersebut akan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar “Wisata sejarah adalah wisata berkelanjutan yang akan tetap ada sampai kapan pun,” ucapnya.

Mengenai pengembangan potensi wisata sejarah, Gegen mengaku, pihak pemerintah daerah belum menaruh perhatian lebih terhadap keberadaan wisata sejarah tersebut. Karena keberadaan wisata sejarah ini masih belum setenar wisata mainstream lainnya.

“LHSS sendiri beberapa kali melakukan mapping di sejumlah destinasi wisata di kota tua Ampenan dan Mataram,” lanjutnya.

Kendati demikian, Gegen tetap berharap, agar Pemda bisa menginventarisir dan memberikan perhatian lebih kepada spot-spot wisata sejarah tersebut.

“Bentuk perhatian itu bisa berupa pengajuan spot-spot atau situs-situs itu sebagai objek cagar budaya, atau paling tidak di spot-spot itu bisa dipasangi plank nama dan keterangan sejarahnya,” harapnya.

Untuk awal, lanjut Gegen, ia mencontohkan Pemerintah Kota Mataram bisa segera menetapkan kawasan Kota Tua Ampenan sebagai zonasi cagar budaya. Karena dengan intervensi pemerintah, keberadaan bangunan-bangunan di Kota Tua Ampenan bisa lebih terjaga.

“Dengan adanya zonasi cagar budaya itu, orang tidak akan sembarang membangun dan mengubah fisik bangunan yang sudah ada, karena setiap pembangunan di zonasi cagar budaya harus sesuai dengan master plan yang telah ditetapkan,” tandasnya.

Pegiat LHSS lainnya, Ali Akbar mengatakan, untuk menggali potensi pariwisata butuh dukungan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, pemangku kepentingan, pihak swasta dan tentu juga masyarakat.

“Untuk pengembangan (wisata sejarah) sudah ada progress dari tahun ke tahun. Namun belum optimal. Belum ada grand design atau blueprint yang detail menyangkut sustainable of heritage tourism di Lombok,” jelasnya.

Akbar mengaku, soal pengembangan wisata sejarah di Lombok, belum mendapat perhatian dari pemerintah. Namun dalam kondisi seperti ini, pihaknya tetap berupaya berkomunikasi dengan pihak pemerintah.

“Teman-teman dari Lombok Heritage sedang berupaya membangun sinergi tersebut dengan semua pihak,” bebernya.

Sebagaimana diketahui, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sudah menetapkan poin-poin tertentu untuk pengembangan sustainability dari heritage tourism.

Sustainable Development Goals ada 17. Namun untuk pariwisata mencakup 3 aspek, yakni Environment, Social cultural, dan Economic. “Jadi harus ada keberlanjutan dalam 3 aspek tersebut,” tutupnya.

Sebagai informasi, belakangan ini semakin banyak wisatawan asing yang menginap di hotel di Mataram. Kebanyakan adalah wisatawan asal Belanda.  Disebut-sebut, mereka datang ke Lombok tidak sekedar berlibur, menikmati keindahan alam. Justru banyak yang datang hanya sekedar untuk menelusuri kembali jejak nenek moyang mereka tempo dulu. Selama berada di Lombok.  (ris)