Musim Haji 2024, AKHI NTB Persiapkan Petugas Haji

0
Pelaksanaan Seminar Nasional Kesehatan Haji di Asrama Haji Mataram, Minggu, 3 Desember 2023. (Ekbis NTB/ham)

Musim haji tahun 2024 masih jauh. Namun, petugas haji, mulai dari kesehatan hingga layanan ibadah haji mulai dari sekarang dipersiapkan. Salah satunya, untuk petugas kesehatan haji mulai dari sekarang dipersiapkan. Namun, sebelum mulai mempersiapkan siapa petugas kesehatan yang akan bertugas harus melalui proses seleksi yang telah ditetapkan.

Dalam mempersiapkan petugas kesehatan haji, Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia (AKHI) Provinsi NTB menggelar seminar untuk persiapan rekrutmen petugas kesehatan haji tahun 2024 di Aula Bir Ali II Asrama Haji NTB, Minggu, 3 Desember 2023.

Kegiatan ini sebagai tempat berbagai pengalaman selama menjadi petugas kesehatan haji. Sekaligus peserta dari berbagai profesi kesehatan, seperti dokter, bidan, perawat dan lainnya memiliki gambaran mengenai tugas yang akan dikerjakan selama menjadi petugas kesehatan haji

Fasilitator Pelatihan Untuk Petugas Haji pada Kementerian Kesehatan RI, dr. Erwin Syah, menjelaskan pelaksanaan seminar ini membuka wawasan bagi calon petugas kesehatan haji mengenai peran dan fungsi. ‘’Biar ada gambaran, saya (calon petugas, red) cocoknya di mana,” ujarnya memberikan penjelasan.

Para calon petugas haji, ujarnya, nantinya bisa memiliki gambaran kondisi Tanah Suci, sehingga ada persiapan yang matang sebelum keberangkatan. Ratusan calon peserta yang mengikuti seminar ini terdiri dari tenaga kesehatan yang pernah bertugas maupun belum sama sekali. Dalam hal ini, pihaknya memberikan apresiasi pada AKHI NTB yang telah menggelar seminar, sehingga mampu memberikan gambaran dan wawasan mengenai kondisi di Tanah Suci Mekkah, Madinah, Jedaah saat ibadah haji.

Selama memberikan pelayanan kepada jamaah haji, ujarnya, petugas harus lebih bisa memahami karakter para jamaah di kelompok terbang (kloter) yang ditugaskan. Di mana, ratusan jamaah yang dilayani memiliki karakter yang berbeda, sehingga petugas harus lebih sabar. Menurutnya kendala yang sering dihadapi seperti karakteristik jamaah. ‘’Ada yang tak tahu penggunaan toilet, ada yang sudah dikasih, tahu tapi lupa. Ada juga yang ngeyel,” ujarnya.

Adanya perbedaan karakteristik tersebut, tambahnya, petugas diminta untuk bisa memberikan edukasi kepada jamaah, karena dengan jumlah petugas yang ada disebut belum ideal untuk memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah. “Tapi kan petugas itu dari Pemerintah Saudi Arabia. Beruntung dari satu kloter ada lima petugas. Yaitu satu  petugas dari Kementerian Agama sebagai ketua kloter, satu sebagai pembimbing ibadah dan tiga tenaga kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Nasional Kesehatan Haji H. Suganda mengatakan jumlah calon petugas yang datang mengikuti  seminar yaitu sebanyak 500 orang, baik secara langsung atau lewat zoom. Menurutnya,sebelum masa pemberangkatan calon jamaah haji, akan ada rekrutmen petugas kesehatan. “Mereka akan mengikuti proses seleksi sesuai dengan kompetesi masing-masing. Setelah terpilih nanti akan ada pelatihan secara kompetensi,” tegasnya.

Di sisi lain, Ketua AKHI NTB, H. Lalu Sahrun, menyebutkan idealnya jumlah petugas haji yang ikut diberangkatkan ke Tanah Suci yaitu sebanyak dua dokter dan empat orang perawat. Dengan jumlah ini pelayanan kepada jamaah haji di Tanah Suci bisa lebih maksimal. “Ini tergantung dari kebijakan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. Asosiasi dipusat itu sudah mengusulkan tapi kan tergantung dari regulasi pemerintah. Kalau sekarang kan satu dokter dan dua perawat,” ucapnya.

Jumlah ideal petugas ini sangat diharapkan agar pelayanan bisa lebih maksimal. Apalagi, jamaah haji di NTB banyak yang sudah lanjut usia (lansia) sehingga membutuhkan pelayanan yang maksimal. “Jamaah lansia itu dibagi dua. Jamaah haji lansia tanpa komorbid dan jamaah dengan komorbid. Jadi itu yang harus dipersiapkan oleh teman-teman petugas,” ucapnya. (ham)