Ketika Wisatawan Belanda Ramai ke Lombok Mencari Jejak Leluhurnya

0
Gerbang masuk sekaligus pembatas wilayah Kota Tua Ampenan, Kota Mataram.(Ekbis NTB/dok)

NTB memiliki banyak peninggalan sejarah yang masih ada. Selain peninggalan sejarah berupa masjid kuno, pura dan lainnya, masih ada peninggalan yang masih dikelola maksimal. Jejak -jejak sejarah berupa bangunan peninggalan kolonial dinilai memiliki prospek bagus ke depan. Bagi anak cucu para tentara Jepang atau Belanda banyak mengunjungi objek-objek wisata di Indonesia, termasuk di NTB untuk mengenang saat leluhur mereka mendapat tugas oleh negara bertugas di Indonesia.

JIKA kita menelusuri Kota Tua Ampenan, di kanan kiri banyak peninggalan bangunan di era kolonial. Sampai sekarang, bangunan yang ada masih kokoh berdiri. Bahkan, banyak juga yang dirobohkan untuk kepentingan bisnis atau alasan membahayakan keselamatan orang yang berada di sekitar bangunan. Tidak sedikit pula yang dibangun ulang agar peristiwa sejarah di masa lalu tidak dilupakan oleh generasi masa mendatang.

Jamaluddin (Ekbis NTB/ham)

Begitu juga, tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan masa kolonialisme, seperti meriam peninggalan Belanda, gua Jepang dan meriam di atasnya sangat layak dijual dan dikembangkan oleh pemerintah daerah. Sementara kita tahu bersama jika banyak objek wisata bersejarah yang berkaitan dengan peninggalan zaman kolonial ‘’cenderung’’ terabaikan. Tidak sedikit di antara peninggalan bersejarah tersebut menjadi bahan jarahan pihak tertentu untuk kepentingan pribadi.

Sebut saja, peninggalan gua Jepang di Sekotong, Lombok Barat (Lobar) dan Tanjung Ringgit – Lombok Timur, makam Van Ham di Cakranegara, jembatan gantung Lembar dan lainnya selama ini masih cenderung terabaikan dari sisi promosi pariwisata. Padahal, potensi ini sangat besar dan memiliki prospek cerah untuk mengembangkan wisata yang satu ini.

Sebagai contoh, jika berkunjung ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat, maka yang paling populer adalah gua Jepang di Ngarai Sihanok dan jam gadangnya. Begitu juga di Sulawesi Selatan, benteng Fort Rotterdam, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Belakangan ini, wisatawan dari Belanda belakangan ini intens datang ke Lombok, trennya bisa dilihat dari kunjungannya di hotel yang ada di Kota Mataram. Banyak di antara mereka menginap di hotel-hotel yang selama ini dekat dengan peristiwa masa lampau, khususnya zaman kolonial. Sementara kita tahu, banyak peninggalan zaman Belanda atau Jepang yang masih ada di NTB.  Mereka datang ke sini dengan nuansa yang berbeda, yaitu ingin napak tilas kembali jejak leluhur mereka saat berada di Lombok ratusan tahun silam.

Wakil Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), I Made Agus Ariana mengungkapkan hal ini. Pemilik Arianz Hotel mengaku seringkali kedatangan tamu-tamu dari Belanda. Mereka menginap, lalu berwisata menjejak lokasi-lokasi yang masih menyimpan bukti sejarah orang-orang Belanda yang pernah tinggal di Lombok di masa penjajahan.

“Banyak tamu asing yang menginap di hotel di Mataram banyak banget dari Belanda. Saya selalu tanya kalau mereka menginap di hotel ini (Arianz Hotel) . Jadi mereka napak tilas cerita-cerita tentang sejarah tentang leluhurnya. Di Mataram mereka sempat mencari track record kakek nenek buyutnya yang pernah tinggal di Mataram,” ungkap Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) ini.

Tempat-tempat yang kerap kali menjadi destinasi wisata wisatawan asal Belanda di antaranya, tempat kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar Kota Mataram, seperti di Ampenan, Mayura dan Narmada di Lombok Barat, Tete Batu Lombok Timur. Mereka mencari sisa-sisa Sejarah nenek moyangnya yang masih tertinggal. “Mereka datang ke Lombok sudah bukan untuk menikmati keindahan alam saja, tetapi sejarah yang tertinggal di Mataram, Lombok,” ujarnya pada Ekbis NTB pekan kemarin.

Menurut Agus, fenomena wisatawan ini sangat bagus jika disambut dengan mengembangkan wisata historical atau wisata sejarah. Pemerintah daerah bisa memetakan titik-titiknya di mana jejak – jejak Sejarah, dan dapat membuat monumen sesuai peninggalan sejarahnya.

Misalnya, makam Van Der Ham yang merupakan jenderal dari Belanda yang pada saat itu pernah memimpin tentara Belanda di NTB melawan para pejuang di Mataram. Saat itulah Van Ham tewas melawan rakyat yang menentang adanya penjajahan.

Van Ham   datang ke Lombok pada bulan Agustus tahun 1894 dan saat ini makamnya ada di Mataram, tepatnya di pemakaman Hindu, Karang Jangkong.

Menurut Agus, makam Jenderal Van Der Ham bisa dijadikan salah satu dari destinasi wisata bersejarah di Mataram. Ini bisa memiliki nilai jual yang bisa mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara.  Apalagi Lombok juga memiliki sejumlah situs sejarah dan benda-benda peninggalan zaman kolonial Belanda.

“Mungkin ada baiknya Dinas Pariwisata mencari tahu tentang sejarah-sejarah Belanda di Lombok. Bisa digali informasinya. Dan jadikan itu sebagai referensi untuk membangun destinasi wisata sejarah,” sarannya.

Mengembangkan wisata sejarah memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dan berkelanjutan, selama dilakukan dengan cara yang profesional, partisipatif, dan berwawasan lingkungan. Nilai ekonomi mengembangkan wisata dapat meliputi:

Dari sisi pendapatan daerah, ujarnya,  wisata sejarah dapat meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata, baik melalui pajak, retribusi, tiket masuk, maupun sumbangan. Pendapatan daerah ini dapat digunakan untuk membiayai pembangunan dan pelayanan publik di daerah tersebut.

Begitu juga dengan pemberdayaan masyarakat. Wisata sejarah dapat memberdayakan masyarakat setempat, baik sebagai pelaku usaha pariwisata, penjaga dan pemandu wisata, pengrajin dan penjual suvenir, maupun pelestari budaya dan sejarah. Pemberdayaan masyarakat ini dapat meningkatkan kesejahteraan, keterampilan, kesadaran, dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan sejarah dan budaya mereka.

Pengembangan ekonomi kreatif. Wisata sejarah juga dapat mengembangkan ekonomi kreatif di daerah tersebut, baik melalui pengembangan produk dan jasa pariwisata yang inovatif, unik, dan berkualitas, maupun melalui pengembangan industri kreatif yang terkait dengan sejarah dan budaya, seperti seni, musik, film, literatur, dan media. Pengembangan ekonomi kreatif ini dapat meningkatkan daya saing, nilai tambah, dan citra daerah.

Inilah yang menjadi tugas dari pemerintah daerah tidak hanya mengembangkan objek wisata alam, budaya atau kesenian. Namun, bagaimana mengekspose sejarah masa lampau dan menjualnya pada wisatawan mancanegara. Selain itu, adanya wisata bersejarah ini menjadi pelajaran bagi generasi muda yang ada di daerah ini, jika di masa lalu, Lombok menjadi salah satu daerah di Indonesia yang tidak bebas dari penjajahan, sehingga generasi muda tahu dan menghargai pengorbanan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi NTB Jamaluddin, S.Sos., M.T. Menurutnya, objek wisata bersejarah yang ada di daerah ini memiliki potensi besar mendatangkan banyak wisatawan mancanegara dan domestik. Hal ini selalu menjadi  bahan promosi wisata bersama agen perjalanan wisata di dalam dan luar negeri.

Meski demikian, ungkapnya, dalam menata objek wisata bersejarah ini, pihaknya tidak memiliki kewenangan, karena tidak ada bidang yang khusus menangani masalah objek wisata bersejarah.

‘’Meski kami tidak memiliki bidang khusus yang menangani ini, kami tetap mempromosikan bersama travel agent, jika ada tempat bersejarah yang dapat dikunjungi oleh wisatawan di NTB,’’ ujarnya menjawab Ekbis NTB, Sabtu, 2 Desember 2023.

Menurutnya, pihak yang memiliki kewenangan dalam melakukan penataan objek wisata bersejarah adalah di Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB.

 ‘’Di kita (Dispar, red) ini, mungkin untuk promosi dengan budaya, destinasi, kita selalu melakukannya. Orang datang ke NTB selain ke pantai, pegunungan atau melihat atraksi budaya, mereka juga mencari tempat wisata bersejarah, seperti Kota Tua Ampenan, Museum Negeri NTB. Bahkan, banyak wisatawan asing datang ke museum untuk melihat peninggalan sejarah. Kalau kami (Dispar, red) hanya mempromosikan tempat-tempat tersebut melalui travel agent bersama teman-teman di Bidang Pemasaran. Itu yang bisa kita lakukan,’’ terangnya.

Terkait hal ini, pihaknya mengingatkan pemerintah kabupaten/kota yang terdepan dalam menata dan mempromosikan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah sejarah masa lampau, termasuk di zaman kolonialisme. Dalam hal ini, setiap peristiwa sejarah dibuat story telling, sehingga mampu menjadikan wisatawan paham dengan apa yang terjadi di masa lampau.

‘’Itu luar biasa. Seperti Putri Mandalika, bagaimana awalnya, sehingga menjadi Nyale. Hal ini perlu dikembangkan oleh Dinas Pariwisaa kabupaten/kota. Itu yang diceritakan, sehingga seperti itu,’’ sarannya. (bul/ham)