Jadi Daya Tarik Wisata Sejarah, Jembatan Gantung Peninggalan Kolonial Belanda di Desa Kebon Ayu

0
Jembatan gantung Gerung peninggalan kolonial Belanda ini berpotensi jadi daya tarik wisata sejarah. (Ekbis NTB/ist)

LOMBOK Barat (Lobar) kaya akan destinasi wisata. Tidak saja pemandangan laut, alam, pegunungan. Namun daerah Patut Patuh Patju ini juga memiliki beragam potensi wisata sejarah, budaya dan kerajinan tenun. Seperti yang ada di Desa Taman Ayu. Desa berlokasi dekat ibu kota ini, mempunyai wisata budaya, tenun dan wisata sejarah Jembatan Gantung yang merupakan peninggalan sejarah masa Kolonial Belanda.

Jembatan yang memiliki panjang 116 meter dan lebar 4 meter ini tidak hanya menjadi penghubung antara daerah Nyiur Lembang yang masuk kawasan Kecamatan Lembar dengan Desa Kebon Ayu dan Dusun Kebon Jurang Desa Mesanggok yang masuk Kawasan Kecamatan Gerung. Namun jembatan ini memiliki daya tarik tersendiri karena menjadi salah satu bukti sejarahnya peninggalan zaman penjajahan. Area jembatan gantung yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai akses penghubung, akan tetapi dipakai sebagai saluran irigasi.

Gua yang ada di Pantai Pink Lombok Timur yang disebut sebagai Gua Jepang dalam kondisi tidak terawatt. (Ekbis NTB/ham)

Kepala Desa Kebon Ayu, Jumarsa menjelaskan tentang potensi warisan sejarah jembatan ini. Dari pengakuan pelaku sejarah, katanya, jembatan gantung sudah ada sejak tahun 1932. Jembatan yang terbuat dari besi ini Jambatan ini juga didesain sebagai penyalur air. Itu dapat dilihat pada bagian bawah badan jembatan terdapat air mengalir menuju irigasi pertanian masyarakat.

“Selain potensi budaya dan tenun ikat, Desa Kebon Ayu juga memiliki potensi alam khususnya pertanian,” terang Jumarsa.

Melihat potensi Sungai Dodokan yang cukup luas, kata Jumarsa, pihaknya kini tengah mengembangkan wahana air dengan menyediakan beberapa “perahu bebek” dengan tarif Rp. 10.000,-/jam.“Ini menjadi daya tarik tersendiri minimal untuk wisatawan lokal. Apalagi di atasnya ada jembatan bersejarah,” katanya.

Sementara itu, pihak Pemda akan memperbaiki jembatan gantung peninggalan zaman Kolonial Belanda ini. Jembatan yang konon sudah ada sejak tahun 1932 tersebut diperbaiki, lantaran banyak bagian jembatan yang rusak.

Selain fungsi jembatan ini sebagai akses warga, juga menjadi saluran irigasi yang dibangun membentang pada bagian bawah jembatan tersebut. Jembatan yang diketahui memiliki panjang 116 meter dan lebar 4 meter tersebut, juga bisa menjadi salah satu daya tarik wisata.

Bupati Lobar, Hj Sumiatun bersama Sekda, Kadis PU dan beberapa jajaran OPD lainnya sudah turun mengecek kondisi jembatan tersebut. Pihaknya akan berupaya mencari jalan untuk merenovasi jembatan gantung yang dinilainya menjadi salah satu peninggalan sejarah dan cagar budaya.

Lebih-lebih jembatan itu dibangun sejak zaman kolonial Belanda. “Bagaimana pun itu (Jembatan Gantung) harus dipelihara dengan baik, sebagai peninggalan sejarah dan cagar budaya di daerah kita,” jelas Sumiatun.

Menurutnya, jembatan gantung bersejarah ini satu-satunya dimiliki Lobar. Bahkan di Lombok. Namun, selama ini jembatan ini minim diperhatikan. Jauh sebelumnya ia ingin merenovasi Jembatan ini. Karena itulah, ia pun berupaya kali ini bisa direnovasi. Sebab diharapkan jembatan ini bisa jadi destinasi wisata,  sehingga wisata di Lobar lebih banyak pilihan.

Lebih-lebih penataan kawasan di jembatan sudah bagus. Tinggal kata dia, dirapikan dan di tata. “Mudah-mudahan bisa kita upayakan, namun kembali ke kemampuan kita. Tapi kami upayakan agar bisa ditangani, terutama yang rusak-rusak bisa diperbaiki agar perjalan kaki aman,” jelasnya.

Sementara itu, Kadis PUPR Lobar, I Made Arthadana mengatakan, ia mendampingi Wabup turun mengecek jembatan gantung tersebut. Saat turun, Wabup meminta agar bagian-bagian yang rusak dari jembatan itu diperbaiki.

“Perintahnya Bu Wabup segera dilakukan perbaikan agar bisa difungsikan maskimal. Karena ibu wabup menilai itu adalah bagian peninggalan sejarah, dan di Dikbud tercatat sebagai cagar budaya,” ujarnya.

Jembatan itu bisa difungsikan untuk mendukung wisata.Pihaknya pun menindaklanjuti dengan menugaskan tim melakukan pengecekan terhadap kondisi jembatan. Setidaknya, itu bisa diperbaiki bagian-bagian yang butuh perbaikan untuk bisa mendukung fungsi jembatan.

Pihaknya berharap desain segera selesai, sehingga diharapkan bisa pembiayaan di APBD perubahan tahap I. Kemudian dilanjutkan pada APBD murni 2024. Sebab jembatan ini memang dipakai sebagai akses warga, baik bersepeda dan pejalan kaki. “Ke depan kami harapkan bisa jadi ikon,” imbuhnya.

Belum Jadi Destinasi Wisata

 Sejumlah bukti peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) belum menjadi destinasi wisata. Sebut saja, meriam peninggalan Jepang di Tanjung Ringgit, gua-gua juga peninggalan para penjajah di Pantai Pink dan sekitarnya.

Hal ini tidak dinafikan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lotim, Widayat saat dikonfirmasi Ekbis NTB. Dia menjelaskan, objek-objek peninggalan sejarah itu merupakan ranahnya bidang kebudayaan yang kini masuk dalam nomenklatur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud).

Menurut Widayat, kondisi peninggalan bersejarah tersebut saat ini sebagian besar belum terawat sehingga pihak Dispar belum berani untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata. Katanya, kalau sudah kondisinya bagus dan terawat  baru kemudian bisa dijual dengan menghadirkan wisatawan mengunjunginya. “Destinasi itu kalau sudah bagus baru kita jual, kalau masih acak-acakan malu kita jadikan destinasi,” terangnya.

Diakui, keberadaan objek wisata peninggalan sejarah itu merupakan salah satu potensi wisata. Akan tetapi, Dispar akan bisa masuk setelah tertata dengan baik. “Masa ya, kondisi masih berantakan begini kita jual,” imbuhnya.

Bukti-bukti peninggalan zaman dulu  itu dianggap saat ini belum memiliki daya tarik karena belum memiliki keunikan. Ketika sudah ada sentuhan keunikannya maka baru kemudian disebut sebagai daya tarik wisata. “Bagaimana manajemen dan seterusnya itu dibagusin,” demikian ucapnya.

Kepala Dinas  (Kadis) Dikbud Lotim, Izzudin yang dikonfirmasi terpisah menyampaikan sesungguhnya yang paling mendasar pada objek budaya peninggalan sejarah tersebut adalah belum adanya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Peninggalan Kebudayaan tidak bisa teridentifikasi dan terdaftar secara nasional kalau tidak ada TACB. Usulan pembentukan TACB ini disampaikan sejak tahun 2022 dan  tim ini katanya baru beberapa waktu lalu dibentuk. “Bahkan sekarang pemerintah provinsi memanfaatkan TACB-kita untuk membantu,” sebutnya.

Saat ini, TACB sedang bergerak melakukan identifikasi. Tahun 2024 mendatang ada dua objek peningkatan sejarah, yakni Rumah Adat Sembalun dan Gua Jepang di Tanjung Ringgit.Tempat yang memiliki nilai sejarah tersebut coba didaftarkan terlebih dulu ke pemerintah pusat untuk kemudian akan dipelihara lebih lanjut. Tempat yang didaftarkan tersebut menjadi tempat Cagar Budaya. “Kita upayakan terdaftar begini sehingga dapat perhatian oleh pusat,” paparnya.

Penataan dan perbaikan apa saja yang akan dilakukan di lokasi cagar budaya itu nantinya akan dilakukan oleh para ahli. Tidak boleh mengubah volume dan bentuknya. Tim ahlilah yang menentukan, sehingga tidak keluar dari bentuk aslinya.

Diakui, jumlah tempat peningkatan sejarah tersebut cukup banyak di Kabupaten Lombok Timur dan kondisinya saat ini tidak dinafikan masih terbengkalai. Karenanya, setelah nantinya terdaftar menjadi caagar budaya maka pastinya akan menjadi destinasi wisata budaya yang akan banyak dikunjungi wisatawan. (her/rus)