Pemkot Bima Libatkan Tim Terpadu Berantas Peredaran Rokok Ilegal

0
Suasana kegiatan sosialisasi pemberantasan cukai rokok ilegal, di aula utama kantor Pemkot Bima pada, Jum'at, 1, Desember 2023.(Suara NTB/Ist)

Kota Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bima terus berupaya dalam memberantas peredaran rokok tanpa cukai atau ilegal dengan melakukan operasi secara berkala yang melibatkan aparat penegak hukum (APH) yang tergabung dalam tim terpadu.

Demikian disampaikan Penjabat (Pj) Walikota Bima Ir. H. Mohammad Rum, M.T saat membuka sosialisasi pemberantasan cukai rokok ilegal, di aula utama kantor Pemkot Bima pada, Jum’at, 1 Desember 2023.

“Tim terpadu untuk memberantas peredaran rokok ilegal di Kota Bima sudah dituangkan dalam keputusan Walikota Bima. Tinggal bergerak saja,” katanya.

Ia mengatakan sosialisasi ini bertujuan untuk mencegah dan mengurangi peredaran rokok ilegal. Kemudian meningkatkan kesadaran masyarakat dan pembasmian rokok ilegal serta membantu para petani agar harga tananam tembakau menjadi stabil.

“Harapannya semua pihak bisa meneruskan point penting dalam sosialisasi ini. Terutama bisa memerangi bersama peredaran rokok ilegal di Kota Bima,” ujarnya.

Pj Walikota yang akrab disapa Aji Rum ini mengaku tanaman tembakau merupakan salah satu komoditas tinggi yang termasuk barang kena cukai. Bahkan dipungut dengan cara legal berdasarkan ketentuan dan aturan yang berlaku.

“Selain itu, hasilnya dibagikan lagi ke daerah penghasil cukai hasil tembakau yang disebut dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT),” ujarnya.

Ia mengaku DBHCHT yang diperoleh Pemkot Bima sebesar Rp18.084.671.906. Dana tersebut dialokasikan untuk program pada tiga bidang, yakni bidang kesejahteraan masyarakat 50 persen, bidang kesehatan 40 persen.

“Kemudian yang bidang penegakkan hukum 10 persen yang difokuskan untuk pemberantasan rokok ilegal yang marak beredar di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Aji Rum juga mengaku di Kota Bima ada beberapa wilayah atau lokasi pertanian tembakau antara lain di Kelurahan Nitu, Kelurahan Oi Fo’o, Kelurahan Lampe, Kelurahan Jatibaru dan Kelurahan Kolo. Meski demikian, hasilnya tidak banyak sehingga Kota Bima belum bisa dikatakan daerah penghasil tembakau.

“Akan tetapi, tingkat pengguna tembakau di Kota Bima sangat tinggi, yang menjadikan sebagai salah satu daerah lalu lintas peredaran rokok ilegal,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat Kota Bima untuk tidak memperjual belikan rokok tanpa cukai karena ilegal. Pasalnya memerangi atau memberantas peredaran rokok ilegal tanggungjawab semua pihak, bukan saja Pemerintah dan aparat penegak hukum.

“Saya harapkan kepada masyarakat agar segera melaporkan ke pihak berwajib jika menemukan ada oknum yang masih jual-beli rokok ilegal,” pungkasnya. (uki)