Klaster Kacang Mete KLU, Jadi Desa Devisa Pertama di NTB

0
Petani mete di KLU mendapat pendampingan program Desa Devisa untuk memasuki pasar ekspor kacang mete. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Petani mete di Kabupaten Lombok Utara (KLU) ditunjuk menjadi Klaster Kacang Mete pada program Desa Devisa oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor Indonesia (Indonesia Exim Bank). Klaster ini sekaligus menjadikan Lombok Utara sebagai Desa Devisa Pertama di NTB.

Petani penerima program, langsung diberikan pendampingan dan pelatihan untuk mendukung budidaya, pengolahan hingga pemasaran (ekspor). Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH., Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti AP., M.Si., Kepala Departemen Jasa Konsultasi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, Nila Meiditha, Kepala Diskoperindag dan UMKM KLU, H. Haris Nurdin S.Sos.

Bupati KLU, Djohan Sjamsu, S.H., mengatakan Program Desa Devisa merupakan peluang bagi para petani kacang mete di KLU untuk mampu mengembangkan kualitas hasil pertaniannya. Melalui program ini, ia optimis komoditas kacang mete yang dihasilkan petani KLU dapat dikembangkan, sehingga memiliki nilai jual tinggi untuk kesejahteraan petani.

“Pesan saya agar potensi KLU yang ada bukan hanya mete saja, tapi masih banyak lagi (komoditas pertanian lain). Di antaranya vanili, porang dan kakao. Untuk itu diperlukan kemauan masyarakat untuk mengelola dan berinisiatif untuk mengembangkan potensi tersebut,” ujar Djohan.

Menurut dia, banyaknya potensi pertanian yang dimiliki daerah, memberi ruang pengembangan ekonomi di masyarakat. Kendala yang dihadapi saat ini, salah satunya kemauan dari masyarakat, serta adanya dukungan program pendukung dari instansi pemerintah dan lembaga keuangan. “Saya menyambut dengan baik program ini, karena manfaatnya akan sangat baik bagi kemajuan daerah ke depannya,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Departemen Jasa Konsultasi LPEI, Nila Meiditha, menyampaikan adanya kolaborasi yang baik antara pemerintah provinsi dan kabupaten akan dapat mempercepat pengembangan potensi di daerah. KLU dipilih dalam Program Desa Devisa karena keberadaan kacang mete memiliki keunggulan.

“Kacang mete yang berasal dari KLU memiliki ukuran yang lebih besar dan dengan rasa yang lebih gurih dibandingkan dengan daerah lain,” ujar Nila.

Selain keunggulan bahan baku, dipilihnya KLU sebagai lokasi pendampingan Desa Devisa tidak lepas dari keberadaan tenaga pendamping yang berperan ganda. Yakni selain sebagai petani, juga sebagai pemasok pertanian dan perkebunan.

“Peran pendamping juga terlibat dalam pelestarian dengan penanaman komoditi kacang mete di kaki Gunung Rinjani dan mendukung petani penyandang disabilitas,” tambahnya.

Kesempatan yang sama, Kepala Dinas  Perdagangan Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti menyampaikan terdapat banyak potensi ekspor dari komoditas di NTB. Hanya saja, ekspor yang dilakukan tidak tercatat di dinas teknis Provinsi NTB karena produk keluar melalui daerah lain di Indonesia.

Ia mengapresiasi, program Desa Devisa yang dipelopori LPEI mulai dilakukan di NTB. Transaksi komoditi lokal melalui Provinsi NTB ke depan diyakini akan mendorong peningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing produk di pasaran.

“Kami meminta para petani komoditi yang akan melakukan ekspor untuk melakukan koordinasi dengan Dinas Perdagangan, sehingga tercatat secara resmi dan mendapatkan SKA dari daerah,” harapnya.

Kacang mete KLU telah berhasil diekspor ke New Zealand dan akan ke Singapura, hal tersebut membuktikan bahwa kualitas kacang mete KLU baik, selain komoditi tersebut pemerintah sedang berusaha mendorong vanili organik, yang telah mendapatkan permintaan ekspor sebanyak 23 ton untuk NTB.

Luas lahan komoditi kacang mete di KLU sebanyak 6581 hektar dengan produksi sebesar 764 ton, hal tersebut yang perlu dipikirkan nantinya kemana akan dipasarkan dan akan diolah kembali.  “Permintaan terus bertambah, untuk itu kita perlu memperbanyak hasil pertanian dengan kualitas yang baik,” imbuhnya. (ari)