Diduga Tak Mampu Kembalikan Uang Perusahaan, Karyawan Retail Modern Nekat Gantung Diri

0
Ilustrasi gantung diri (Suara NTB/ist)

Praya (Suara NTB) – Seorang karyawan retail modern AM (23) asal Desa Persiapan Monggas Bersatu Kecamatan Kopang, membuat geger warga setempat. Lantaran nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Kuat dugaan korban mengakhiri hidupnya lantaran tak kuat memikul beban persoalan pekerjaan yang tengah dihadapinya. Oleh pihak keluarga, korban diputuskan untuk langsung dimakamkan.

Kapolsek Kopang, AKP Bambang Sutrisno dalam keterangannya, Jumat, 1 Desember 2023, menjelaskan, aksi nekat korban bermula sekitar pukul 06.00 Wita. Saat ini korban meminta izin untuk pergi ke kamar mandi ke istrinya. Sekitar setengah jam lamanya, korban berada di dalam kamar mandi namun tak kunjung keluar.

Merasa ada yang aneh, istri korban berinisiatif untuk mengecek ke dalam kamar mandi. Begitu masuk ke kamar mandi, istri korban kaget bukan main. Setelah melihat tubuh suaminya tergantung dengan ikat pinggang terikat di lehernya. Sontak, istri korban pun berteriak melihat kejadian itu.

Warga yang mendengar teriakan istri korbn pun berdatangan. Tanpa pikir lama, warga langsung menurunkan tubuh korban. Tidak lama berselang aparat kepolisian bersama tim medis Puskesmas Muncan datang ke lokasi kejadian guna melakukan olah TKP, sekaligus memastikan penyebab kematian korban.

“Dari hasil pemeriksaan korban meninggal karena kurangnya atau terputus suplai oksigen yang disebabkan karena adanya ikatan di bagian leher korban. Dan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Sehingga kesimpulan memang mengarah ke bunuh diri dengan cara gantung diri,”jelasnya.

Belum diketahui pasti penyebab korban sampai nekat gantung diri. Namun dari keterangan istri dan pihak keluarga lainnya, korban diduga mengalami depresi. Lantaran korban tidak mampu mengembalikan uang perusahaan tempatnya bekerja yang pernah digunakannya.

Dengan berbagai pertimbangan, pihak keluarga korban menolak dilakukan outopsi dan, menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai sebuah musibah. Sehingga polisi memutuskan tidak melanjutkan proses penyelidikan penyebab kematian korban. “Pihak keluarga menerima dengan ikhlas kejadian itu. Untuk itu, keluarga menolak dilakukan proses autopsi,”tutup mantan Kapolsek Jonggat ini. (kir)