2024, NTB Targetkan 2,5 Juta Wisatawan Berkunjung

0
Wisatawan mendarat di senggigi menggunakan kapal cepat dari Bali. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menargetkan kunjungan wisatawan tahun 2024 sebanyak 2,5 juta wisatawan, baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Target 2,5 juta wisatawan tahun depan dihitung realistis dengan target dan kunjungan wisatawan tahun 2023 ini. Kepala Dinas Pariwisata NTB Jamaludin Malady menyebut tahun 2023 ini target kunjungan wisatawan ke NTB sebanyak 2 juta wisatawan. Dari target kunjungan ini,  data terakhir baru mencapai 1,7 juta kunjungan wisatawan.

“Tersisa satu bulan di tahun ini untuk mencapai target 2 juta. 2023 ini saja kita belum nyampe target 2 juta, ini sudah bulan Desember. Kemarin baru 1,7 juta terakhir, target kita tahun depan jangan terlalu tinggi dari 2 juta ini, naik 2,5 juta lah tahun 2024,” ujarnya. Jamaludin menambahkan, Pada tahun 2024 nanti, banyak event yang akan dilaksanakan untuk menarik wisatawan, terutama wisman datang ke Lombok dan Sumbawa. Dengan harapan tidak ada musibah lagi seperti pandemi COVID-19 sehingga tidak menghambat akan kedatangan wisatawan.

Belum tercapainya target kunjungan wisatawan ini, tambahnya, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya, jumlah penerbangan di NTB saat ini masih terbilang sedikit. “Tetapi ketika penerbangan banyak di 2024 masuk ke NTB dari Australia, Timur Tengah dan beberapa negara lainnya. Saya yakin bisa saja kita mengharapkan akan sampai 5 juta kunjungan wisatawan kalau penerbangannya sudah banyak, dan harus ada penerbangan dari seluruh Nusantara dulu,” katanya.

Sementara ini, persoalan penerbangan ini menjadi penghambat arus wisatawan masuk NTB. Karena frekuensi penerbangan yang masih sedikit. Begitu juga dengan harga tiket pesawat yang terbilang cukup tinggi dari dan ke Lombok. Karena itu, menjadi ranah pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan untuk mendukung daerah-daerah yang menjadi destinasi wisata super perioritas.

NTB (Mandalika) salah satunya dari lima destinasi wisata super perioritas selain Sumatera Utara (Danau Toba), Sulawesi Utara (Likupang), Jawa Tengah (Borobudur), dan Nusa Tenggara Timur (Labuan Bajo). “Dari seluruh destinasi wisata super perioritas ini, kami merasa iri. Karena NTB saja yang penerbangannya nggak banyak. Yang lainnya bagus bagus penerbangannya, makanya maju. Kita jauh tertinggal penerbangannya dari tetangga kita Labuan Bajo (NTT),” imbuhnya.

Untuk diketahui, pada tahun ini hingga Oktober 2023 sudah terealisasi 1,7 juta wisatawan. Wisatawan ini masuk dari beberapa pintu masuk, melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BZAM), Pelabuhan Lembar, Kayangan, Gili Mas, maupun dari Bangsal Lombok Utara. “Sebenarnya mereka (wisatawan) mau ke sini (NTB, red), tapi karena mahal pesawatnya. Sudah turun pesawat bawa koper besar-besar, sudah capek, begitu naik pesawat ke Lombok mahal lebih mahal daripada ke Jakarta. Ini yang menjadi persoalan. Karena itu kita berharap kepada Kementerian Perhubungan dalam hal ini,” terangnya.

Jamaludin menambahkan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah dengan melobi langsung para pemilik maskapai penerbangan agar membuka jalur-jalur penerbangan dari dan ke NTB, atau memperluas rute penerbangannya. “Pemerintah daerah kita sudah melobi sampai kepada owner maskapai penerbangan ini. Tapi maskapainya meminta disubsidi besar. karena itu kita realistis saja soal target kunjungan wisatawan,” demikian Jamaludin. (bul)