Sandang Predikat Perusahaan Sehat Sejak 2021, Perumdam Loteng Berpotensi Raup Laba Rp 3 Miliar Lebih

0
RKAP Perumdam Tiara Loteng digelar, Rabu kemarin. Selain sebagai sarana evaluasi, RKAP juga menjadi forum untuk menyusun rencana kerja perusahaan tahun depan. (Suara NTB/ist)

Praya (Suara NTB) – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Ardhia Rinjani (Tiara) Lombok Tengah (Loteng) menorehkan catatan apik. Dengan berhasil menyandang status perusahaan sehat dari Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan NTB secara beruntun selama tiga tahun terakhir. Terhitung sejak tahun 2021 hingga 2023 ini.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Perumdam Tiara Loteng, Bambang Supratomo, S.IP., dalam Rapat Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), di Swiss Belcourt Hotel Tanak Awu, Rabu (29/11) kemarin. Membaiknya manajemen perusahaan menjadi salah satu factor pendorong bertumbuhnya pendapatan usaha dari Perumdam Tiara Loteng. Dari Rp 39,9 miliar tahun 2022 lalu menjadi Rp 45,1 miliar di tahun ini.

Kenaikan pendapatan tersebut berpotensi meningkatkan besaran laba bersih perusahaan tahun ini. Dari Rp 1,2 miliar pada tahun lalu menjadi diatas Rp 3 miliar pada tahun ini. Terlebih selama tahun 2023 ini, manajemen Perumdam Tiara Loteng bisa melakukan berbagai efisien pada pos biaya tidak langsung maupun biaya langsung. “Prediksi laba bersih tahun ini diangkat Rp 3,6 miliar,”ungkap Bambang.

Kendati menunjukkan perkembangan yang positif, Perumdam Tiara Loteng juga masih dihadapkan dengan berbagai tantangan dan persoalan. Baik itu terkait kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih butuh peningkatan. Hingga persoalan kondisi jaringan pipa yang rata-rata sudah uzur. Kondisi tersebut secara tidak langsung berdampak pada kemampuan serta kualitas pelayanan kepada pelanggaran Perumdam Tiara Loteng itu sendiri.

“Utamanya jaringan pipa, kita punya jaringan pipa itu dibangun sekitar tahun 1976 silam. Kondisi ini membuat pipa banyak yang sudah kropos dan bocor. Akibatnya, dari total kapasitas produksi sekitar 555 liter perdetik, terjadi kehilangan debit air sekitar 33 persen. Sehingga secara tidak langsung berdampak pada kemampuan pemenuhan air bersih ke pelanggan,” jelasnya.

Terhadap kondisi tersebut pihaknya terus melakukan berbagai upaya perbaikan dan pembenahan kondisi jaringan pipa yang ada secara berkala. Guna menekan potensi kehilangan debit air tersebut. Supaya debir air yang bisa disalurkan ke sekitar 52 ribu pelanggan saat ini bisa maksimal.

“Masih banyak persoalan dan tantangan yang harus dijawab. Untuk itu, dukungan dari pemerintah daerah sangat diharapkan. Baik itu dukungan secara langsung maupun secara tidak langsung, melalui regulasi yang bisa memacu optimalisasi kinerja Perumdam Tiara Loteng kedepanya,” tegas Bambang.

Lebih lanjut Bambang menambahkan, seiring dengan perubahan status dari perusahaan daerah ke perusahaan umum daerah, maka tahun ini pihaknya akan mulai menyetorkan deviden ke Pemkab Loteng untuk yang pertama kalinya. Nilainya maksimal 50 persen dari laba bersih perusahaan tahun lalu.

“Tahun lalu laba perusahaan sekitar Rp 1,2 miliar. Maka sesuai regulasi deviden yang disetor maksimal sekitar Rp 600 juta. Tapi karena ini perdana, kita usulkan setor Rp 101 juta dulu tahun ini,” jelasnya.

Karena memang ada beberapa program yang butuh pembiyaan juga dalam upaya peningkatan pelayanan ke pelanggan. Sehingga Perumdam Tiara Loteng tidak menyetorkan deviden sesuai standar maksimal yang ditentukan. “Mudah-mudahan usulan besar deviden ini bisa diterima oleh Pemkab Loteng. Kedepan, dengan meningkatnya perolehan laba perusahaan tentu besaran deviden yang akan disetorkan ke daerah lebih besar lagi,” tandasnya.

Terkait usulan setoran deviden perdana Perumdam Tiara Loteng tersebut, Sekda Loteng, H.L. Firman Wijaya, S.T.M.T., yang ditemui terpisah mengaku akan mengkaji dulu usulan tersebut. Dengan mempertimbangkan kemampuan Perumdam Tiara Loteng serta kebutuhan daerah. “Kita kaji dulu usulan deviden Perumdam Tiara Loteng ini. Baru setelah itu kita putuskan,” jawab Firman. (kir)