Pembangunan Jalan Lingkar Kawasan Gili Gede Sekotong Mangkrak

0
Wisatawan menikmati pemandangan dengan mengayuh sepeda di jalur Lingkar Gili Gede, Sekotong. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Pemkab Lombok Barat (Lobar) didesak serius untuk mengembangkan kawasan pariwisata Sekotong sebagai salah satu sumber penghasilan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dengan membangun fasilitas pendukung seperti jalan dan air bersih. Terutama di kawasan Gili Gede. Jalan lingkar atau ring road yang telah lama dibuka di kawasan itu mandek akibat tak dianggarkan Pemda. Padahal penataan kawasan itu sudah ditetapkan dalam Peraturan Bupati (Perbup).

Anggota DPRD Lobar Dapil Sekotong – Lembar H Abubakar Abdullah mengatakan pihaknya sudah sering menyampaikan dan mengusulkan melalui rapat maupun sidang paripurna ke TAPD agar Pemda mengembangkan destinasi wisata Sekotong yang masih perawan. “Seperti Gili- gili yang ada di sana, pilih salah satu dikembangkan. Siapkan infrastruktur, SDM, dan bangun aksesibilitasnya, PAD sudah itu,” tegasnya, kemarin.

Pengembangan kawasan Gili Gede sudah ada Dasar hukum yang jelasnya, yakni Perbup Nomor 21 tahun 2019 tentang Penataan dan Pengembangan Kawasan Pariwisata Gili Gede.

Bahkan desain atau masterplan penataan kawasan itu sudah ada disiapkan pemerintah. Akan tetapi itu tidak dilaksanakan secara serius. Akibatnya, jalan lingkar kawasan yang sudah dibangun tahap awal mandek, tidak dilanjutkan Pemda.

Dari desainnya, jalan itu mengitari pulau atau Gili, dan membelah pulau serta ada jalan  penghubung kawasan. Selain soal jalan, kawasan itu juga sangat butuh air bersih. Air bersih menjadi kendala tidak saja bagi pengembangan wisata, namun yang jauh lebih penting adalah bagi warga sekitar yang berjumlah 1.000 jiwa.

Menurutnya, kawasan itu banyak pilihan wisata dan penginapan. Mulai dari biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah per malam. Kalau itu dikembangkan, maka dalam sebulan Pemda mendapatkan pajak lebih besar baik dari hotel, restoran dan PBB. Kalau ada 1.000 kamar, dari akomodasi saja Rp1 juta per malam, maka ada uang yang masuk Rp1 miliar. Kemudian pajak ke daerah 10 persen atau Rp100 juta, dalam waktu sehari saja. “Tapi infrastruktur balum ada,”tegasnya.

Belum lagi bicara pengunjung dari Nusa Penida  dan Sanur Bali, kalau saja serius Pemda ini serius membuka kapal cepat, maka PAD akan maksimal diperoleh Pemda. “Pemda harus serius  membuka rute baru melalui Jalur laut,” tegasnya.

Ia sudah memetakan, terdapat 19 fast boat di Nusa Penida yang mengangkut 10 ribu pengunjung tiap hari. Namun seolah Pemda tidak ada daya upaya untuk menggaet itu. “Karena belum ada legalitas formal rute penyeberangan ini, tapi tidak boleh peluang ini dibuang,” imbuhnya.

Bahkan kalau melihat jalur Bali – Trawangan hampir 1.000 pengunjung yang masuk ke Gili tersebut. Bahkan, sudah dibuka rute baru dari Trawangan langsung ke Kuta – Mandalika. “Ini peluang untuk Lobar,” katanya.

Sementara itu, Kadispar Lobar HM Fajar Taufik, mengatakan pihak Pemda serius mengembangkan kawasan Sekotong. “Kita berupaya , namun lagi-lagi soal anggaran,” jawabnya singkat. (her)