Menyelami Spiritualitas Nahdlatul Wathan, Dari Hizib, Tarekat, hingga Penunjukkan Maulana Syaikh Atsani sebagai Sang Pengganti

0
Maulana Syaikh TGKH Lalu Gede Zainuddin Atsani bersama dengan para tuan guru lainnya. (Suara NTB/rus)

ORGANISASI Nahdlatul Wathan (NW) didirikan pada 1 Maret 1953 oleh Pahlawan Nasional Sulthanul Auliya Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Sang pendiri ini memiliki akar spiritualisme Islam yang sangat kuat.

Nahdlatul Wathan didirikan Maulana Syaikh dengan fokus pada perjuangan bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah. Nahdlatul Wathan mengikuti manhaj Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan mengamalkan tarekat Hizib Nahdlatul Wathan.

Menurut tokoh agama Lombok Timur, Dr. TGH. Khairi Yasri, spiritualisme Nahdlatul Wathan dibuat oleh Maulana Syaikh untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam mencapai kesucian batin dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menekankan bahwa melalui spiritualisme yang kokoh, seseorang dapat mencapai ketenangan batin, integritas moral, dan cinta kasih terhadap sesama.
Hizib Nahdlatul Wathan berisi kumpulan dzikir dan doa. Hizib Nahdlatul Wathan menjadi pijakan spiritual jamaah Nahdlatul Wathan. Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menciptakan Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat yang merupakan amalan zikir dan doa 70 Auliyaullah.

“Pembacaan Hizib ini menjadi tradisi yang dijunjung tinggi oleh seluruh warga NW termasuk di tanah suci Makkah al-Mukarramah”, ujar TGH. Khairi Yasri.
Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang dibuat oleh Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, menonjol sebagai mazhab sufistik yang mencerminkan produk pemikiran mistik. Melalui amalan-amalan dalam tarekat, warga Nahdlatul Wathan dapat menjalani laku sufistik dalam rangka penyucian jiwa dan mendaki jalan spiritual tertinggi.
Senada dengan TGH Khairi, Ketua Majelis Aufiya Wal Uqola, Dr. Muhammad Thohri menyampaikan, Organisasi Nahdlatul Wathan merupakan satu-satunya organisasi Islam di Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang memiliki tarekat sendiri. Yakni tarekat yang dibuat dan diamalkannya langsung oleh pendiri organisasi Nahdlatul Wathan sendiri.

TGKH Lalu Gede Zainuddin Atsani dipanggil juga Maulana Syaikh Atsani dan Hamzanwadi II, merupakan cucu tercinta pendiri Nahdlatul Wathan. Zainuddin Atsani ditunjuk sebagai pengganti dan Khalifah Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan.

TGKH Lalu Gede Zainuddin Atsani memainkan peran sentral dalam pengembangan spiritualisme di organisasi. Sang Hamzanwadi II ini memegang teguh nilai-nilai dan prinsip dasar organisasi. Sebagai pemimpin yang diwariskan, Maulana Syaikh Atsani hadir sebagai lentera spiritual dalam membimbing umat.

Penunjukan Maulana Syaikh Atsani sebagai pengganti Sang Kakek, Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, menegaskan kesinambungan spiritualitas dan dedikasi terhadap ajaran tarekat. Sebagai pemimpin yang mencintai dan membimbing dengan semangat, Maulana Syaikh Atsani memainkan peran utama dalam menjaga eksistensi dan warisan spiritualisme Islam di Nahdlatul Wathan. (rus/*)