Menikmati Indahnya Pantai Pink, Masih Alami dan Jadi Favorit Pengunjung

0
Sejumlah pengunjung sedang menikmati indahnya Pantai Pink, di Lotim. (Suara NTB/ham)

PANTAI Tangsi atau dikenal dengan Pantai Pink yang berlokasi di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) merupakan salah satu pantai yang masih alami. Pantai yang di sekelilingnya masih ditumbuhi banyak pepohonan ini memiliki pasir pantai yang cukup indah. Bahkan, pada pagi hari hingga sore hari, pasir pantai seperti berwarna pink dan menambah eksotisme pantai.

Sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke lokasi ini memanfaatkannya untuk berswafoto dengan berbagai latar belakang pantai.  Di pantai ini kita bisa berfoto-foto, bersantai, dan berenang karena ombak yang tenang. Pengunjung juga bisa melakukan snorkeling dengan menyewa boat dari nelayan sekitar dan dibawa ke beberapa gili yang ada di sekitarnya untuk bersantai di pantainya dan snorkeling di perairan sekitar pulau-pulau tersebut.

Di salah satu bagian Pantai Pink dan dekat dengan parkiran kendaraan terlihat sebuah gua yang pintu penutup dari besinya sudah rusak. Masih ada satu pintu yang agak bagus. Sementara, pintu yang lain sudah rusak akibat berkarat dan cuaca yang berubah setiap saat.

Di bagian dalam gua ini terlihat agak bersih seperti sudah dibersihkan. Namun, di bagian pintu gua, terlihat sampah yang berasal dari daun pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Meski demikian, para pengunjung harus waspada, karena masih banyak monyet yang berasal dari hutan sekitarnya yang mengganggu. Jika tidak ingin diganggu, maka pengunjung harus menyiapkan makanan atau buah yang bisa dilemparkan pada monyet yang datang menghampiri.

Tidak hanya itu, para pengunjung yang membawa kendaraan juga harus menutup rapi pintu kendaraannya, jika tidak ingin barang bawaan nanti diacak-acak sama monyet liar di sekitar pantai. Begitu juga saat menaruh barang bawaan di berugak yang ada di Pantai Pink mesti dijaga agar tidak diambil sama kawanan monyet liar.

Sejumlah pengunjung dari Mataram yang kebetulan menghadiri acara groundbreaking Eco Region Tanjung Ringgit, Selasa, 28 November 2023 memanfaatkan waktunya untuk hanya melihat dan menikmati indahnya Pantai Pink. Tidak lupa mereka memanfaatkannya untuk berswafoto dengan latarbelakang Pantai Pink.

‘’Mumpung lagi di Pantai Pink,’’ ujar Zubaidi, salah satu pengunjung.

Zubaidi bersama rombongannya tidak lama menikmati Pantai Pink. Sekitar 30 menit berada di Pantai Pink, mengeksplore Pantai Pink dari berbagai sisi di kamera DLSR dan smartphonenya. Diakuinya, Pantai Pink cukup indah dan berbeda dengan pantai yang lainnya. Meski demikian, harapnya, pemerintah mesti memperhatikan kondisi infrastruktur jalan ke Pantai Pink, karena jalan menuju pantai ini masih tidak terlalu lebar. Bahkan, banyak jalan yang berlubang yang cukup mengganggu para pengunjung yang datang.

Beda halnya dengan Wahyu, justru jalan rusak menuju Pantai Pink dan selatan Lombok Timur ini sangat bagus bagi wisatawan minat khusus. Apalagi sudah ada beberapa hotel yang dibangun seperti Jeeva Beloam Beach Camp yang sudah memiliki minat khusus. ‘’Jadi kalau ke sini dengan jalan yang seperti ini, hanya bagi wisatawan peminat khusus saja. Berapapun biaya yang dihabiskan untuk berlibur ke sini, tidak masalah, karena sudah terbayar dengan indahnya pantai yang ada di tempat ini,’’ ujarnya.

Meski demikian, pihaknya mengharapkan pemerintah memperbaiki jalan yang rusak, sehingga bagi wisatawan lokal bisa datang ke pantai di wilayah selatan dengan nyaman. Terlebih pada akhir pekan, kawasan ini banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

Dalam membangun Pantai Pink, Tanjung Ringgit dan beberapa kawasan di Hutan Sekaroh, PT. Eco Solution Lombok (ESL) seperti disampaikan Direktur Utama (Dirut) John Higson siap melibatkan masyarakat sekitar dan memberikan pemasukan buat daerah dan negara. Di atas Pantai Pink akan dibangun glamping dan merehabilitasi peninggalan sejarah yang ada di tempat tersebut, seperti meriam dan gua Jepang.

Pihaknya ingin objek-objek wisata yang ada di tempat ini menjadi salah satu favorit pengunjung dan mampu meningkatkan pendapatan bagi daerah dan masyarakat sekitarnya. Apalagi dalam proses pembangunan hingga bangunan sudah jadi, pihaknya memprioritaskan warga di sekitarnya. Begitu juga sejumlah spesies yang ada di kawasan hutan Sekaroh juga akan mendapat perhatian, seperti rusa, kupu-kupu dan lainnya akan dikembangbiakkan bersama tim ahli.

Penjabat Gubernur NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., mendukung penuh rencana pengembangan pembangunan hutan Sekaroh oleh PT. ESL. Pihaknya tidak ingin investasi yang sudah tertunda 13 tahun tersebut terganggu hanya karena ada benturan kepentingan. Untuk itu, pihaknya mengharapkan masyarakat yang ada di sekitar hutan Sekaroh harus dirangkul, termasuk difasilitasi, jika memiliki kerbau atau hewan peliharaan agar tidak masuk kawasan hutan. (ham)