Istri Diduga Dihamili Oknum Kepala KUA, Suami Lapor Polisi

0
Mardiansyah (baju putih) menyerahkan laporan dugaan perzinahan istrinya dengan oknum Kepala KUA di Kabupaten Bima di Polda NTB, belum lama ini.(Suara NTB/Ist)

Bima (Suara NTB) – Seorang suami diketahui bernama Mardiansyah membongkar dugaan perselingkuhan istri inisial SM, dengan oknum Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di wilayah Kabupaten Bima, inisial IRW.

Dugaan hubungan asrama terlarang antara sang istri dengan atasannya itu sudah berlangsung selama tiga tahun. Parahnya lagi, dari hubungan itu istri sampai hamil, namun bayi yang dikandung meninggal karena terlahir prematur.

“Persoalan ini, sudah saya laporkan di Polda NTB untuk diproses hukum. Dan saya melalui pengacara juga mengajukan talak cerai di Pengadilan Agama Bima hari ini” kata Mardiansyah kepada Suara NTB, Rabu, 29 November 2023.

Ia mengaku melaporkan persoalan itu ke jalur hukum hingga mengajukan talak cerai istri, karena menilai perbuatan SM dan IRW tidak bisa ditolerir lagi, meski keduanya telah menyampaikan permohonan maaf lantaran telah melakukan perzinahan dibelakangnya.

“Keduanya telah mengakui perbuatannya dan sampaikan maaf,” ujarnya.

Ia mengaku awal mula mengetahui dugaan istri berselingkuh dengan oknum Kepala KUA yang menikahkan keduanya itu, setelah tak sengaja membuka handphone istri. Di dalamnya banyak berisi pesan hingga rekaman yang tidak lazim. Termasuk juga membahas tentang anak didalam perut SM.

“Dari handphone istri, saya jadi tahu semuanya. Bahkan IRW ini meminta agar SM berhubungan dengan saya, agar anak dalam perutnya seolah-olah darah daging saya,” katanya.

Ia mengaku selama ini kerap berada di luar daerah persisnya di Kota Mataram sejak Covid-19 kemarin. Bahkan sejak 2023 telah menetap di Mataram karena berstatus asisten Dosen di Universitas Mataram (Unram). Meski demikian, Ia mengaku tetap aktif bolak balik dari Mataram ke Bima, terkadang juga istri yang demikian.

“Saya menetap di Mataram karena bekerja sebagai asisten dosen. Tapi tetap aktif balik ke Bima,” ujarnya.

Selama menetap di Mataram dan sudah menjalani hubungan dengan istri selama 7 tahun hingga menghasilkan satu orang anak, Ia mengaku sama sekali tidak pernah menaruh curiga apapun. Sebab Ia mengenali istrinya lugu dan baik, bahkan tidak pernah terjadi keributan.

“Pada tahun 2023 ini saya sempat merawatnya dengan usai melahirkan. Tapi ternyata anak yang lahir prematur dan meninggal dunia ini justru hasil perselingkuhan dengan oknum Kepala KUA yang merupakan atasannya,” ujarnya.

Karena persoalan itu telah dilaporkan ke polisi, Ia menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum untuk memberikan efek jera. Selain dihukum secara sosial, Ia juga berharap keduanya dipecat dari KUA. Apalagi yang laki-laki kerap menyampaikan dakwah dan ceramah tentang pernikahan.

“Saat ini semua akses saya tutup, untuk menghindari upaya perdamaian secara kekeluargaan. Saya ingin kasus diproses hukum, keduanya dipecat dari KUA,” tegasnya. (uki)