“Abu Macel” Jadi “Gubernur”

0
H.L.Gita Ariadi (Suara NTB/ist)

 

Oleh :
Lalu Gita Ariadi

KAGET dan kehilangan. Ini dua kata yang menyeruak ketika terima berita duka. Meninggalnya sahabat Fairuz Abadi yg lebih dikenal sebagai ” Abu Macel “.
Kaget karena Rabu pagi kemarin kami masih saling WA (Whatsapp). Siang hari Jam 11 an saling telpon, juga bersama Dokter Jack ( Dirut RSUP Provinsi NTB ). Jam 15.03 saya terima WA nya yang terakhir. Kabarkan sedang bertemu salah seorang Ketum Parpol NTB. Jam 16.59 menerima berita duka. Lalu secara bergelombang berita berpulangnya Abu Macel ramai di medsos dan group WA. Innalillahi wainnailaihirojiun.

Hubungan saya dengan almarhum Abu Macel dekat sekali. Baik sebagai teman, staff dan juga sebagai guru saya. Dengan usia sepantaran, kami tidak ada jarak komunikasi. Banyak teman Abu Macel adalah teman saya juga. Baik sesama alumni SMANSA Mataram, teman di kampung maupun teman di berbagai komunitas.

Pertemanan kian intens ketika saya menjabat Kabag Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB. Abu Macel jadi salah seorang staff yang hebat. Sebagai staff Humas, Abu Macel piawai menulis. Melek IT dan paham mainkan berbagai alat audio visual. Public relations nya juga bagus. Sehingga sering saya tugaskan mewakili dalam misi-misi khusus.
Kalau saya dampingi Gubernur Mik Serinata tugas dinas ke Pulau Sumbawa, Abu Macel wajib ikut. Abu Macellah yang mendampingi Gubernur Mik Serinata bejorak dalam perjalanan. Khususnya saat 2 jam penyeberangan Pelabuhan Kayangan – Pelabuhan Poto Tano.

Abu Macel lebih sering saya tugaskan kerja malam hari menjaring informasi. Berdiskusi dengan teman-teman aktivis dan jurnalis. Hasilnya dilaporkan sebagai info deteksi dini. Banyak orang kemudian kaget. Dikiranya Abu Macel bukan PNS. Karena nyaris / jarang berbaju seragam kedinasan. Kerjanya under cover. Ini sangat dinikmati Abu Macel yang merasa merdeka berinteraksi dengan berbagai elemen masyarakat.

Pada saat jadi staff di Humas, Abu Macel rajin menulis cerita-cerita jenaka hingga serempet-serempet bahaya. Saya teringat tiga nama tokoh imajiner yang selalu dijadikan background ceritanya. Abu Macel, Abu Bongoh dan Abu Mardud. Yang paling terkenal kemudian adalah Abu Macel.

Penamaan Abu Macel ini adalah hasil diskusi kami. Awalnya, tokoh imajiner tersebut selalu menggunakan si Fulan. Saya katakan, ganti nama tokoh si Fulan itu menjadi tokoh yang lebih melokal dan lebih familiar dengan nuansa orang NTB. Dari pembahasan yang cukup lama, akhirnya diputuskan nama tokoh imajiner dalam tulisan bejoraknya Fairus Abadi menjadi Abu Macel. Macel refleksi sebuah karakter yang nakal, nyelekit tapi cerdas.

Di bidang organisasi kemasyarakatan, Fairuz Abadi pernah menjabat dua periode sebagai Ketua PCNU Kota Mataram. Sebagai Ketua organisasinya orang nahdliyin, acapkali saya memposisikan diri sebagai “santrinya” Abu Macel. Lewat Abu Macel saya banyak kenal Kiai, Nyai dan Gus Durian (Komunitas Nahdliyin pengagum Gus Dur ) utamanya di Jawa Timur.

Abu Macel, suami dari Siti Zakiatun Fahriani, ayah dari Farah Bunga Nurani, Aulia Cyrriel Fatihah dan Muhammad Ibar Daiwani ( Ibang – Mahasiswa ISI Jogja ) ini, adalah orang kuat. Tidak pernah mengeluh sakit dan seakan menyembunyikan penyakitnya. Bulan Oktober 2023, Abu Macel sempat dirawat di RSUP NTB. Gangguan jantung kata dokter.

Awal November kemarin, jelang tengah malam, kami bertiga dengan sahabat Adhar Hakim, ngobrol ngalor ngidul. Abu Macel cerita tentang penyakitnya. Sesungguhnya tyang tidak sakit. Rasanya biasa-biasa saja kok. Cuma waktu itu situasi didramatisir sedemikian rupa seakan tyang sakit. Tyang tidak sakit miq, katanya meyakinkan. Dan kalau pun sakit, dokter katakan tyang sudah sembuh.

Saya hafal gaya Abu Macel menjustifikasi pendapatnya. Dengan cepat saya potong. Hib, walaupun dokter sudah katakan ente sembuh, tapi ana ini dokterandus katakan belum sembuh. Ente percaya dokter atau dokterandus? Seketika meledak tawanya. Saya percaya dokterandus. Karena lebih panjang gelarnya. Dokter dulu baru dokterandus. Ya, begitulah cara kami bercanda. Yang penting Asbun Toha ( Asal Bunyi Tolol tapi Hangat ). Asbun Toha, kalimat favorit Abu Macel.

Adhar Hakim, Edo, Tri Budi Prayitno dan rekan-rekan wartawan tua lainnya rajin mengingatkan Abu Macel agar tetap jaga kesehatan dan rajin kontrol. Abu Macel biasa berkelit. Menimpali dengan dalil-dalil Asbun Toha. Kalau kita berobat maka kita harus mendapatkan sugesti dari proses pengobatan yang kita lakukan. Kita berobat kepada yang bisa memberikan “sugesti”. Selesai mengucapkan kata sugesti, Abu Macel lalu lemas, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kemudian tak sadarkan diri. Demikian cerita Tri Budi Prayitno – Kadis Dikpora NTB, teman ngobrol Abu Macel sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ya, Abu Macel memang mampir ke Dispora NTB karena ada rapat panitia lomba stand up comedy untuk meriahkan HUT Korpri dan HUT ke-65 NTB. Dengan kejenakaannya, Abu Macel didaulat sebagai nara sumber dan juri acara kocak kocok perut ini. Ini memang bidang spesialisasinya Abu Macel.

Abu Macel oleh teman-temannya di Monjok, dikenal sudah lucu dari kecil. Putra Pak Abhan ini dulu berdomisili di Jalan Gelatik 23 Monjok Baru. Rani, putri sulung saya tampak kaget dan sedih mendengar berita meninggalnya Abu Macel. Orangnya baik. Nampak tidak kenal susah. Selalu bikin ketawa dan heboh. Persis Bang “One”, kreatif, sindirannya nyelekit tapi tetap jenaka. Abu macel sangat dekat dengan anak-anak dan keluarga saya. Waktu acara pelantikan dan pengambilan sumpah sebagai Penjabat Gubernur di Kemendagri, Abu Macel tercatat dalam rombongan keluarga yang ikut ke Jakarta.

Setelah saya dilantik sebagai Penjabat Gubernur, malam harinya di sebuah pojok Cafe & Bar Churcill Hotel Borobudur, Abu Macel bercanda tentang nama-nama jabatan yang dikaitkan dengan kematian. Kata Abu Macel, kita ini semuanya Camat alias Calon Mati. Dan jabatan yang paling tinggi adalah Gubernur. Saya ikuti secara seksama apa kelanjutan penjelasan candaan tentang Jabatan Gubernur kok dibilang paling tinggi?

Saya agak gengsi untuk mengejar dan bertanya langsung. Hingga akhirnya Abu Macel menguraikan dan jelaskan akronim dari kata “Gubernur”.
Gubernur akronimnya diplesetkan menjadi batur GUbuk BERiuk NURutin. Artinya teman se GUbuk ( kampung, keluarga, kolega, kerabat, sahabat ), BERiuk ( bersama-sama ), NURutin ( mengikuti ) mengiring jenazah kita. Kata Abu macel dengan ekspresi serius.
Kamis, 30 November 2023, ba’da Salat Ashar, setelah mensalatkanmu, kuiringi dan turut jalan di belakang jenazahmu sahabat. Menuju tempat istirahatmu yang abadi. Selamat jalan Abu Macel……Fairuz Abadi….di tempat istirahatmu nan abadi. (*)