Transformasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem di India, Kepala Bappeda: Pembelajaran untuk NTB

0
Kepala Bappeda NTB, H.Iswandi, menghadiri undangan Immersion & Learning Exchange (ILE), Program bersama BRAC di Manpur, Gaya District, Bihar, India. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Bappeda NTB, Dr.Ir. H.Iswandi, M.Si, menghadiri undangan Immersion & Learning Exchange (ILE), Program bersama BRAC di Manpur, Gaya District, Bihar, India. BRAC internasional, merupakan organisasi yang melaksanakan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dengan fokus pada pengentasan kemiskinan dengan pendekatan graduasi.

Dari transformasi kebijakan penanggulangan kemiskinan ekstrem di India ini, menjadi bahan pembelajaran yang sangat bermanfaat untuk NTB dalam mengatasi persoalan yang sama, ujar Iswandi yang dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 29 November 2023.

Iswandi hadir memenuhi undangan mengikuti Program Immersion and Learning Exchange (ILE) di Bihar, India yang dirancang oleh BRAC International. Seperti diketahui, BRAC International sedang menginisiasi Ultra Poor Graduation Initiative (UPGI) di Indonesia dan direncanakan NTB akan menjadi salah satu daerah implementasi bersama Jawa Barat, Jogyakarta dan Sumatera Barat.

Melalui Program ILE akan mendorong pertukaran pengetahuan berbagai negara maupun daerah yang sama-sama memiliki fokus pada pengentasan kemiskinan terutama seputar desain, implementasi dan evaluasi graduasi, kata Iswandi. Kegiatan Immersion & Learning Exchange (ILE), Program bersama BRAC di Manpur, Gaya District, Bihar, India ini berlangsung dari Tanggal 26 November- 2 Desember 2023.

Dikatakan Iswnadi bahwa mewujudkan masyarakat yang sejahtera, bebas dari kemiskinan dan lingkungan yang asri dan Lestari menjadi tujuan pemerintah daerah. Kemajuan Negeri India untuk menurunkan tingkat kemiskinan dari 55.1% menjadi 16.4% selama periode 2005-2021. Hasil studi United Nations Development Programe (UNDP) dan Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) terkini menunjukkan bahwa India berada pada proporsi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan rendah (<20%)dan intensitas kemiskinan diatas 33%, seperti terlihat pada gambar berikut ini.

BRAC Internasional, suatu lembaga non-pemerintah yang mendorong akselerasi penanggulangan kemiskinan melaksanakan Program ILE (the Immersion and Learning Exchange) untuk delegasi dari negara-negara dengan tingkat kemiskinan tinggi. Program the Ultra-Poor Graduation Initiative (UPGI). Merupakan implementasi pendekatan graduasi untuk penanggulangan kemiskinan berbasis kepemimpinan pemerintah daerah.

Menurut Iswandi, sejak tahun 2002, Bangladesh menjadi negara pertama yang menerapkan Program Graduasi dari BRAC untuk mengeluarkan 2.1 juta rumah tangga miskin dari kemiskinan ekstrem. Saat ini, Program Graduasi telah diimplementasikan di 16 negara di Benua Afrika dan Asia melalui implementasi langsung, bantuan teknis, dan jasa konsultasi, jelasnya.

Upaya yang dilakukan Pemerintah India sangat proaktif untuk mengurangi jumlah penduduk miskin. Mengunjungi Satat Jeevikoparjan Yojana (SJY) di Bihar, India untuk melihat secara langsung implementasi kepemimpinan pemerintah daerah untuk akselerasi penanggulangan kemiskinan. BRAC Internasional, bekerja sama dengan JEEVika, organisasi pelaksana Program UPGI.

Pemerintah Bihar telah melaksanakan pembangunan pedesaan melalui pemberdayaan perempuan dalam berbagai kegiatan ekonomi produktif dan sosial. Pengembangan kapasitas pada organisasi lokal dan investasi pada peluang mata pencaharian untuk rumah tangga miskin ekstrem menjadi elemen kunci program graduasi.

Lebih dari 150,000 rumah tangga miskin ikut terlibat dalam program penanggulangan kemiskinan berbasis desa ini. Penyediaan layanan dasar daan peluang untuk mata pencaharian menjadi kata kunci. Organisasi bernama JEEViKA dari Satat Jeevikoparjan Yojana (SJY) menjadi mitra kerja BRAC Internasional. Program ILE yang dilaksanakan oleh BRAC Internasional ini memberikan kesempatan kepada negara-negara di Asia yang tingkat kemiskinannya tinggi, seperti di Provinsi NTB.

Program ILE memberikan peluang unik untuk meningkatkan kolaborasi dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem. Rumah tangga miskin ekstrem menjadi target sasaran dari pendekatan metode Graduasi dalam penanggulangan kemiskinan. Kunjungan lapangan ini memberikan wawasan kondisi di tingkat lokal dalam penanggulangan kemiskinan. Pembelajaran yang dapat diambil terkait dengan model pelaksanaan program, pendanaan, operasional pelaksanaan program.

Program Graduasi ini sangat menginsipirasi karena target sasaran penanggulangan kemiskinan ekstrem ini bergerak dari paling bawah yaitu level rumah tangga. Dalam implementasinya, keberadaan tenaga pendamping yang telah terlatih menjadi kunci keberhasilan. Ketepatan target sasaran program penanggulangan kemiskinan bekerja secara efektif pada kelompok penerima manfaat dari program ini.
Model pengembangan keahlian secara sistematis disusun sesuai dengan konteks lokal masyarakat, meningkatkan kemampuan masyarakat miskin dan membangun koneksi dengan ekosistem pasar. Kekuatan pada pendamping masyarakat yang terlatih menjadi kunci utama untuk mendampingi masyarakat miskin ekstrem dalam meningkatkan taraf penghidupannya, papar Iswandi.

Target pada perubahan sistem pemerintahan menjadi kunci untuk penurunan yang cepat pada masyarakat miskin ekstrem di daerah Bihar, India, dengan kombinasi strategi pada inisiasi pemerintah dan institusi berbasis masyarakat. Pemerintah daerah memiliki sumber daya dan mandat untuk fokus pada penanggulangan kemiskinan dan mata pencaharian penduduk miskin ekstrem. Pemerintah daerah memiliki peluang untuk melakukan aksi, sumber daya dan pengetahuan untuk mencapai tujuan SDGs 2030.

Implementasi Program Graduasi di Bihar India, pada saat identifikasi awal adalah pendapatan bulanan rumah tangga kurang dari 40.19 dolar Amerika, pada umumnya perempuan sebagai kepala keluarga. Kemudian keamanan pangan sangat rentan, tidak memiliki lahan, okupasi kepemilikan lahan sangat rentan, mengalami ekslusi sosial. Sangat rentan terhadap kejadian luar biasa terkait kesehatan dan bencana alam dan memiliki keterbatasan akses untuk program pemerintah dan skema yang dilaksanakan oleh pemerintah.

Setelah Program Graduasi dilaksanakan, capaian keberhasilan meliputi kemampuan perempuan kepala keluarga untuk membiaya kehidupan rumah tangga, membangun organisasi berbasis masyarakat (Self-Help Groups), masyarakat miskin ekstrem mulai memiliki tabungan, memiliki kader unggulan dari masyarakat, dapat mengakses kredit perbankan, memiliki mata pencaharian untuk penghidupan sehari-hari, meningkatnya kesehatan, nutrisi dan sanitasi, dan jumlah generasi muda yang memiliki keterampilan hasil training meningkat.

Pembelajaran yang dapat diambil untuk penanggulangan kemiskinan di Provinsi NTB adalah perbaikan desain program penanggulangan kemiskinan di daerah, implementasi, dan evaluasi dari Program Graduasi, ujar Iswandi.

Program Graduasi diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk upaya penanggulalngan kemiskinan dan mengurangi jumlah penduduk miskin. Manajemen Program Graduasi ini berupaya menggabungkan kekuatan sumber daya manusia, manajemen sistem informasi, dan manajemen pengetahuan.

Ketiga kekuatan kunci ini digerakkan oleh kepemimpinan yang kuat dari sisi sistem pemerintahan daerah di Bihar. Pemerintah Provinsi NTB dapat menerapkan desain penanggulangan kemiskinan melalui Program Graduasi ini, kata Iswandi.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi faktor penyebab kemiskinan ekstrem di kantong-kantong kemiskinan di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa pada level rumah tangga. Hasil identifikasi ini menjadi dasar untuk desain Program Graduasi untuk menerapakan pendekatan pemberdayaan dan peluang peningkatan mata pencaharian melalui analisis kebutuhan pengembangan kapasitas di tingkat rumah tangga dan pelatihan pendamping masyarakat yang bergerak di level desa. (049)