Terjadi di Seluruh Indonesia

0
Wirajaya Kusuma (suarantb)

SELAIN beras, harga bahan pokok lainnya seperti gula pasir juga mengalami kenaikan. Rabu, 29 November 2023, harga gula pasir di sejumlah pasar tradisional di NTB mencapai Rp18.167 per kilogram dari sebelumnya hanya Rp14.000 per kilogram.
Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi NTB, Wirajaya Kusuma mengatakan, fenomena kenaikan harga gula bukan hanya terjadi di NTB. Tapi di seluruh wilayah Indonesia juga mengalami kenaikan.

“Kalau di NTB memang kita punya pabrik gula, tapi masih kekurangan bahan bakunya. Sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan pasar-pasar di NTB,” Kata Wirajaya Kusumq, Rabu, 29 November 2023.

Selain itu, kenaikan harga gula juga disebabkan suplai dan permintaan tidak seimbang. Karena ketersediaan stok gula di pasaran dengan permintaan itu akan berpengaruh. “Ketika stok terbatas dan permintaan tinggi itu pasti akan naik (harganya),” ujarnya.
Adapun harga acuan penjualan (HAP) yang berlaku adalah Rp 14.500 per kg di tingkat konsumen “Kita juga berharap Bulog bisa mengintervensi lah dengan operasi pasar, sehingga harga gula dijual sesuai HET,” jelasnya.

Kendati demikian, Wirajaya mengaku, pihaknya akan mencoba komunikasi dengan pihak PT SMS selaku produsen gula yang ada di NTB, agar bisa memenuhi kebutuhan gula dengan harga terjangkau di NTB.
“Karena filosofi pabrik itu kan agar memenuhi dulu kebutuhan gula yang ada di NTB. Terutama kalau bahan bakunya kurang, tolong didatangkan oleh mereka,” ungkapnya.

Terpisah Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti mengatakan, kenaikan harga gula di NTB disebabkan kurangnya pasokan dari luar. Juga dipengaruhi kondisi pasar Internasional.
“Kita punya pabrik gula, tapi bahan bakunya juga impor, ini yang membuat pasokan gula kita berkurang. Jadi bukan tidak ada, tapi karena pasokan kurang maka harganya naik,” katanya.

Lantaran pasokan yang kurang. Nelly mengaku, pihaknya tidak bisa terlalu mengintervensi harga tersebut.
“Kalau kita mau lakukan operasi pasar juga tidak bisa. Kami hanya menyarankan untuk mengurangi konsumsi gula, dan mulai beralih ke penggunaan gula jagung,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi yang menyatakan minimnya stok gula konsumsi nasional akibat rendahnya penyerapan dalam negeri dan terlambatnya realisasi pengadaan dari luar negeri. Sehingga perlu dilakukan relaksasi di beberapa kanal perdagangan, salah satunya ritel modern.

“Kalau sekarang sudah terlanjur, harganya di luar negeri sudah tinggi. Ya sudah, kita harus sepakat bahwa ketersediaan itu nomor satu, berapa pun harganya ya sekarang harus dilakukan importasi karena nanti kalau tidak malah tidak punya stok. Tapi ini buat saya sesuatu yang tidak bagus, harusnya sudah dapat izin importasi awal ya mereka lakukan importasi, harganya waktu itu kan masih di bawah,” terang Arief.

Intervensi pemerintah terhadap pemenuhan ketersediaan gula konsumsi di tingkat konsumen dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan serta pengendalian inflasi nasional, sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan yaitu untuk menjaga kewajaran harga di tingkat produsen, pelaku usaha, dan konsumen. (ris)