YRE Gelar Learning Event Pro Women untuk Energi Terbarukan, Bangkitkan Ekonomi Perempuan di NTB

0
Rebekka Angelyn, Tavip Rubiyanto

Mataram (Suara NTB)-Yayasan Rumah Energi (YRE) dengan dukungan Ford Foundation dan Kementerian Dalam Negeri telah melaksanakan proyek Pro Women untuk Energi Terbarukan atau Pro Women for Renewable Energy di Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Setelah melaksanakan kegiatan di lapangan, YRE dan mitra kerja menggelar agenda Learning Event Pro Women for Renewable Energy yang berlangsung di Lombok Plaza Mataram, Selasa, 28 November 2023.
Hadir dalam kegiatan ini Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Ir.H. Sahdan, Tavip Rubiyanto dari Ditjen Bina Pembangunan Kementerian Dalam Negeri, Mariaty Abdullah dari Ford Foundation, dan pihak terkait lainnya.

Program Pro Women di tahun 2023 ini merupakan tahap kedua setelah sebelumnya di tahun 2018-2020 telah dilaksanakan program penguatan kapasitas kaum perempuan NTB.

Executive Director Yayasan Rumah Energi Rebekka Angelyn mengatakan, total penerima manfaat program ini di tahun 2023 sebanyak 118 orang di Lombok. Mereka berasal dari 15 Kelompok Wanita Tani (KWT) dan perempuan wirausaha.

Pihaknya membuat percontohan instalasi dua unit solar dryer serta satu unit PLTS Atap. Dari PLTS Atap ini sebanyak 97 orang telah menggunakan manfaat dari pembangkit listrik energi hijau ini.

Efeknya secara ekonomi, produksi mereka meningkat maksimal sampai empat kali lipat. Dan yang bikin saya kagum, produksinya terserap semua. Dari biasanya 50 Kg produksi kopi jadi 200 Kg dan itu terserap semua. Program ini juga meningkatkan pendapatan masyarakat yang memanfaatkan biogas, kata Rebekka Angelyn dalam kesempatan tersebut.

Proyek Pro Women for Renewable Energy bertujuan untuk pengarusutamaan kesetaraan gender dalam transisi energi yang berkelanjutan di wilayah pedesaan Indonesia Bagian Timur, termasuk di NTB. Dengan program ini diupayakan kesetaraan akses energi bagi perempuan terutama perdesaan khususnya dalam mengatasi tantangan yang dihadapi dalam transisi energi serta dapat menghemat perekonomian sehari-hari.

Proyek ini menyasar tiga Kelompok Wanita Tani (KWT), yaitu KWT Kaki Rinjani Desa Karang Sidemen, KWT Suli Asli Desa Aiq Berik, dan KWT Elong Tune Desa Lantan. Ketiga KWT tersebut memproduksi kopi yang merupakan produk potensial.

Intervensi yang dilakukan dalam proyek ini diantaranya adalah pelatihan, pendampingan, monitoring dan evaluasi, serta teknologi. Dengan intervensi tersebut penerima manfaat dapat memiliki wawasan yang utuh terkait transisi energi yang adil dan mempermudah proses pekerjaan yang mereka lakukan, sehingga dapat meningkatkan kualitas untuk produk yang dihasilkan.

Analis Kebijakan Ahli Madya pada Substansi Energi dan Sumber Daya  Mineral,  Direktorat  SUPD  I  Ditjen  Bina  Pembangunan Daerah Kemendagri Tavip Rubiyanto mengatakan, pemerintah saat ini memang sedang menyikapi dengan serius fenomena pemanasan global.

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca mencapai 31,89 persen pada 2030. Komitemen tersebut dapat meningkat hingga 43,2 persen apabila mendapat dukungan dunia internasional.

Dengan adanya fenomena pemanasan global tersebut telah menumbuhkan kesadaran banyak pihak agar mengurangi aktivitas-aktivitas yang dapat memberi kontribusi bagi peningkatan emisi rumah kaca. Misalnya dengan pembatasan penggunaan energi fosil dan mendorong pemanfaatan energi rendah karbon melalui transisi energi.
“Pencapaian target indikator porsi energi baru terbarukan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, namun juga menjadi tanggung jawab Pemda,” kata Tavip.

Ia menilai kegiatan Yayasan Rumah Energi (YRE) yang melaksanakan proyek Pro Women untuk Energi Terbarukan telah melibatkan masyarakat dalam upaya transisi energi. Di mana komunitas Kelompok Wanita Tani telah difasilitasi untuk memanfaatkan potensi energi baru terbarukan untuk meningkatkan produktifitas hasil pertaniannya.

“Masyarakat secara perorangan maupun secara kelompok dapat berperan dalam pengembangan energi untuk kepentingan umum. Ini sudah ada dasar hukumnya. Masyarakat diminta berperan aktif dalam pengembangan energi baru terbarukan,” katanya.
Untuk diketahui, NTB sendiri memiliki target capaian untuk penggunaan energi terbarukan sebesar 60% pada tahun 2030, dan target 100% penggunaan energi terbarukan pada tahun 2040. Dengan target-target tersebut, diharapkan pada tahun 2050 NTB akan mencapai target Net Zero Emission.(ris/*)