The Yunnan Model: Sebuah Resep Pengentasan Kemiskinan

0

Oleh: Mohammad Azhar

Provinsi Yunnan, pernah jadi salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di China. Provinsi ini juga jadi medan perang utama dalam perang China melawan kemiskinan. Bagaimana hasilnya?

Tentu saja, di manapun, substansi pengentasan kemiskinan adalah sama. Meningkatkan standar hidup kaum miskin, hingga melampaui garis kemiskinan.

Tapi, China menempuh jalan pengentasan kemiskinan dengan bermodalkan sistem yang khas. Yaitu, sistem pemerintahan dan ekonomi sosialis berkarakter Tiongkok.

Sejak era kepemimpinan Deng Xiaoping, hingga di bawah kepemimpinan Xi Jinping saat ini, ekonomi China belum berhenti mencatatkan capaian menakjubkan. Tak hanya pertumbuhan ekonomi yang pesat. China juga mencapai kemajuan yang mengesankan dalam mengurangi kemiskinan selama tiga dekade terakhir.

Menurut data Bank Dunia, pada 1990, lebih dari 750 juta penduduk China hidup di bawah garis kemiskinan internasional. Pada 2015, jumlah penduduk China yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah turun hingga di bawah 10 juta jiwa.

Kantor berita xinhua melaporkan, selama lebih dari 40 tahun reformasi dan keterbukaan, lebih dari 700 juta orang di Tiongkok telah bebas dari kemiskinan. Berkat pencapaian ini, China turut berkontribusi terhadap lebih dari 70 persen pengentasan kemiskinan dunia.

Di China, Yunnan menjadi salah satu daerah terpenting dalam perang melawan kemiskinan.

Daerah Otonom Lancang Lahu di Yunnan Selatan adalah salah satu contoh nyata bagaimana strategi pengentasan kemiskinan dijalanankan. Di sini, warganya biasa menanam kentang di musim dingin. Komoditas kentang adalah tonggak utama kehidupan ekonomi mereka selama bertahun-tahun lamanya.

Pada 2015, pemerintah mendorong Akademi Teknik Tiongkok untuk berkolaborasi dengan Lancang dalam pengentasan kemiskinan. Mereka memulai dengan mengirimkan peneliti ke wilayah tersebut untuk menyusun rencana pengembangan industri lokal.

Para peneliti menyarankan untuk terus menanam kentang di musim dingin. Tapi, mereka juga mulai melatih petani untuk mengoptimalkan budidaya kentang tersebut.

Petani setempat, Liu Zhapi, menuturkan, mereka dulunya menganggap budidaya kentang sesederhana menanam benih, lalu menunggu panen. Bersama peneliti, mereka belajar berbagai varietas kentang, cara menghilangkan virus dari benih serta menyuburkan lahan.

Hasilnya luar biasa.

Beragam pendekatan baru yang diajarkan para peneliti membuat panen mereka lebih maksimal. Liu Zhapi kini bisa memanen kentang berbobot lebih dari 1 kg. “Dulu kentang yang saya tanam hanya sebesar telur,” ujarnya, seperti dilansir situs resmi Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok (SCIO).

Hasil panen yang meningkat, tentu saja berdampak signifikan pada penghasilan Liu Zhapi. Ekonominya mulai terangkat. Pada paruh pertama 2019, Liu Zhapi mendapat lebih dari 20.000 yuan, atau Rp43,6 juta (kurs saat ini) dari menjual kentang.

Akademisi di Chinese Academy of Engineering, Zhu Youyong mengaku sangat senang melihat hasil penelitiannya dapat diterapkan di lahan pertanian Lancang. Ia begitu bangga karena dapat berkontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan di kabupaten tersebut.

“Ini bahkan lebih baik daripada menerima penghargaan atau melihat makalah diterbitkan,” kata Zhu.

*

Seperti di Lancang, saya juga mencatat temuan serupa dalam dalam kunjungan kami di daerah Baoshan, Yunnan. Di salah satu pusat pertanian di Baoshan, petani setempat menanam wortel organik, sebuah komoditas yang bernilai tinggi di pasaran.

Ye Lu, pendamping kami menyampaikan, wortel-wortel organik dari daerah tersebut punya nilai jual sekitar 46 yuan atau setara 100.000 rupiah per kilogram. Dengan metode budidaya yang modern, para petani dapat menghasilkan 10 ton wortel organik dalam satu hektar lahan. Artinya, nilai jual komoditas yang dihasilkan mencapai 460.000 yuan atau setara 1.003.164.305 rupiah.

Selain pasar lokal, komoditas-komoditas seperti wortel organik tadi, dijual juga di pasar internasional, dengan berbagai aplikasi e-commerce besar di China.

Sejumlah terobosan pemerintahan Yunnan dalam memajukan berbagai komoditas unggulan ini, menjadi salah satu topik diskusi kami dengan para petinggi Biro Revitalisasi Kawasan Pedesaan Provinsi Yunnan, di kantor mereka, Selasa, 21 November 2023.

Deputi Direktur Pusat Pembangunan dan Kerja Sama Biro Revitalisasi Kawasan Pedesaan Provinsi Yunnan, Liu Yejun menyampaikan, pihaknya memang mendorong desa-desa yang memiliki banyak penduduk miskin, untuk mengembangkan produk atau komoditas khas mereka sendiri.

Satu desa, diwajibkan punya satu komoditas unggulan.

Pendekatan tersebut sangat efektif. Sebab, masyarakat setempat tidak perlu beralih atau belajar tentang hal yang sama sekali baru. Mereka hanya diminta untuk memperbaiki teknik atau pola lama dalam budidaya dan produksi. Dengan demikian, mereka mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

“Setiap desa atau kampung harus ada produk yang primadona. Misalnya ada desa yang bisa ekspor bunga. Jangan banyak produk, fokus satu produk saja. Saya mengharapkan kunjungan ini bisa ada tindak lanjutnya, Denpasar dan Yunnan bisa jadi kota kembar, kami siap untuk membantu,” ujar Yejun, seperti disampaikan penerjemah sekaligus pendamping kami, Ye Lu.

Dalam dokumen laporan yang disampaikannya, Yejun mengutarakan bahwa pada akhir 2020, sebanyak 9,33 juta masyarakat miskin pedesaan di provinsi Yunnan telah bebas dari kemiskinan. Sebanyak 88 kabupaten, 8.502 desa yang dilanda kemiskinan telah lepas dari jerat kemiskinan.

Ia menyebutkan, pendapatan bersih per kapita penduduk pedesaan di daerah yang dilanda kemiskinan, telah meningkat dari 4.749 yuan pada tahun 2012 menjadi 13.027 yuan pada tahun 2021.

Pendapatan bersih per kapita masyarakat yang berhasil keluar dari kemiskinan telah meningkat dari 2.785 yuan pada tahun 2015 menjadi 12.267 yuan pada tahun 2021. Pendapatan bersih per kapita provinsi ini telah meningkat dari 2.785 yuan pada tahun 2015 menjadi 12.267 yuan pada tahun 2021.

“Setiap desa yang dilanda kemiskinan telah mencapai 100% akses terhadap jalan yang diperkeras, listrik dan listrik, serta cakupan penuh jaringan serat optik. Masalah-masalah penting yang menghantui masyarakat seperti kesulitan bepergian, air minum, listrik, komunikasi, sekolah, perawatan medis, dan perumahan secara historis telah terpecahkan.”

Selama bertahun-tahun, lanskap daerah-daerah miskin di China telah berubah begitu dramatis. Menurut Yejun, pembangunan ekonomi dan sosial tak hanya berdimensi ekonomis. Dampaknya jauh melampaui wilayah ekonomi, namun juga mendorong tercapainya masyarakat yang lebih stabil dan lebih harmonis.

Provinsi Yunnan memperlihatkan bahwa perjuangan melawan kemiskinan, adalah sesuatu yang juga bisa menjadi warisan tak ternilai. Setelah perang melawan kemiskinan dimenangkan, Yunnan kini ingin memberikan andil lain, yaitu sebuah resep yang dapat diadaptasi di berbagai belahan dunia, yang punya problem serupa.

“Kami secara bersamaan dengan seluruh negeri, merintis jalan pengentasan kemiskinan dengan ciri khas Tiongkok, menulis bab Yunnan tentang keajaiban pengentasan kemiskinan Tiongkok, dan menyumbangkan “The Yunnan Model” yang menjadi resep pengentasan kemiskinan bagi umat manusia,” pungkas Yejun. (aan)

Artikel ini adalah bagian penutup catatan kunjungan wartawan Suara NTB, Mohammad Azhar, ke Provinsi Yunnan, China. Agenda kunjungan ini digelar atas undangan Kantor Urusan Luar Negeri Provinsi Yunnan. Kunjungan dari tanggal 15 hingga 21 November 2023 melibatkan delegasi beranggotakan 10 orang yang terdiri dari para kepala desa dan wartawan dari Bali, NTB dan NTT. Kunjungan digelar untuk melihat langsung capaian Provinsi Yunnan dalam membangun kawasan pedesaan, serta menjajaki peluang kolaborasi di masa depan.