PT. STM Tanam Lebih Dari 13.500 Pohon Dalam 5 Tahun Terakhir

0
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT STM, Yan Fuadi didampingi manajemen STM saat melakukan penanaman pohon di area Proyek Hu’u, Minggu (26/11). Sebanyak 300 bibit pohon berhasil ditanam dan dalam 5 tahun terakhir sebanyak 13,525 bibit pohon yang ditanam.(Suara NTB/ist)

Dompu (Suara NTB) – PT Sumbawa Timur Mining (STM) pemegang Kontrak Karya Proyek Hu’u di Kabupaten Dompu memperingati Hari Menanam Pohon Nasional tahun 2023. Puncak peringatan kali ini dilaksanakan di sekitar area Proyek Hu’u, Dusun Nangadoro, Kabupaten Dompu pada Minggu, 26 November 2023.

Kegiatan yang melibatkan karyawan dan kontraktor STM, berhasil menanam 300 bibit pohon jenis alpukat, puspa, cemara gunung, sengon, dan kemiri. Selain penanaman pohon di area Proyek, STM juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Dompu untuk merayakan Hari Penanaman Pohon bersama masyarakat untuk menanam pohon di sepanjang ruas Jalan Raya Pajo.

PT STM rutin memperingati Hari Menanam Pohon sejak 2019 dan didukung oleh fasilitas pembibitan (nursery) berkapasitas 12.500 bibit di area Wadubura dan Nangadoro. Pembibitan ini untuk mendukung upaya pengelolaan hutan di area eksplorasi.

Razky Akbar, External Relations & Sustainability Manager mengatakan, dalam proses pembangunan tambang mineral yang berkelanjutan diperlukan tata kelola kehutanan yang tepat untuk meminimalisir dampak pada area hutan. Sejak 2017 hingga 2023, STM telah menanam 13,525 bibit pohon yang melingkupi area seluas 68.1356 hektar yang tersebar di 97 lokasi area eksplorasi Proyek Hu’u.

“Seluruhnya bertujuan untuk revegetasi dan rehabilitasi hutan atau bukaan lahan bekas pemboran eksplorasi yang sudah tidak dipergunakan. Juga untuk menggantikan tegakan pohon di area lain yang mungkin terdampak,” jelasnya.

Penanaman pohon juga dimaksudkan untuk antisipasi perubahan iklim global, mencegah menurunnya daya dukung lingkungan, mengatasi deforestasi, dan mencegah kerusakan lingkungan lainnya yang mengakibatkan penurunan produktivitas alam dan kelestarian lingkungan.

Peserta peringatan hari menanam pohon kali ini juga nampak antusias. Keterlibatan seluruh karyawan dan kontraktor menginsipirasi kebiasaan baik. “Kami harapkan langkah konsisten yang kita lakukan memberikan warisan yang baik bagi generasi mendatang, serta menumbuhkan kesadaran cinta lingkungan dalam diri kita semua,” harapnya.

Pengelolaan Kehutanan PT STM —

Terhadap upaya meminimalisir dampak terhadap kerusakan hutan selama kegiatan eksplorasi, STM tidak hanya dilakukan dengan kegiatan penanaman pohon. Tapi dengan mengadopsi praktek manajemen kehutanan yang berkelanjutan dengan menerapkan pendekatan komprehensif. Manajemen Kehutanan ini meliputi perencanaan pembukaan lahan, penerapan sistem manajemen pohon, perawatan bibit tanaman hutan, rehabilitasi pasca-pembukaan lahan, dan kegiatan reklamasi.

STM senantiasa berupaya untuk mengembalikan area terbuka dan area yang tidak lagi diperlukan untuk eksplorasi ke kondisi awal dengan secara rutin melakukan kegiatan rehabilitasi, reklamasi, dan revegetasi sebagai bagian dari komitmen tersebut. Perencanaan untuk kegiatan-kegiatan ini dimulai dengan dokumen rancangan teknis, yang disiapkan oleh tim kehutanan STM. Rencana ini kemudian berfungsi sebagai panduan untuk memastikan tujuan rehabilitasi tercapai.

STM bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Toffo Pajo Soromandi (KPH TOPASO) dalam menjaga kawasan hutan area PPKH STM. Bentuk kerja sama ini tertuang dalam MoU yang berisikan kegiatan pengelolaan kehutanan, seperti patroli dan penjagaan gerbang kehutanan PPKH mineral dan Ex-geotermal, membantu dalam mencegah kebakaran hutan, mengembangkan budidaya madu hutan, dan menyukseskan program  NTB Hijau. Selain menjaga area PPKH STM, STM pula mendukung dalam penjagaan area hutan sekitar kawasan RTK 65. KPH TOPASO juga membantu dalam memberikan sosialisasi dan asistensi ke masyarakat tentang pengelolaan dan penjagaan kawasan hutan.

Selain bentuk pengelolaan kehutanan di atas paparnya, STM juga melakukan penilaian rutin sebagai bentuk mitigasi resiko pohon tumbang pada tanaman dewasa di area kerja atau di sekitar fasilitas pendukung. Kekuatan fisik pohon dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk usia, kerusakan yang disebabkan oleh hama dan genetik, dan lemahnya struktur batang internal. Ini berarti bahwa pohon mungkin tidak sekuat yang terlihat kuat seperti yang terlihat.

STM menggunakan resistograf untuk memberikan informasi yang komprehensif tentang kondisi pohon. Alat ini dapat menunjukkan apakah adanya kerusakan internal tanpa harus menebang atau merusak pohon. Informasi ini memungkinkan tim kehutanan STM untuk mengevaluasi dan memantau kondisi pohon-pohon di sekitar kamp dan fasilitas operasional. Seluruh upaya pengelolaan kehutanan yang dilakukan oleh STM semata-mata untuk memastikan kelestarian hutan dan pembangunan operasional penambangan dapat berjalan beriringan. (ula)