Konsep ”Nyakap” Dilirik Dunia, Kurma Lombok Utara Wakili Indonesia pada Festival Kurma Internasional di Abu Dhabi

0
Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu didampingi Pengurus Ukhuwah Datu dan instansi terkait memanen sampel Kurma yang akan dibawa Festival di Abu Dhabi akhir November mendatang. (Suara NTB/ist)

Untuk pertama kalinya, Kurma asal Kabupaten Lombok Utara (KLU) dipercaya menjadi representasi Indonesia pada Festival Kurma Internasional yang berlangsung di Abu Dhabi – akhir November mendatang. Keterwakilan ini tidak lepas dari fakta Kurma KLU mampu berbuah tanpa mengenal musim, serta dikelola dengan konsep Nyakap (kerjasama dengan pemilik lahan) dengan pola bagi hasil. Seperti apa potensinya?

PADA areal kurang lebih 1 hektar milik Amaq Lebih atau Amaq Rismaneka, asal Dusun Jugil, Desa Samik Bangkol, Kecamatan Gangga, kurma berusia 5 tahun tumbuh subur. Kurma di tempat ini, sudah mulai berbuah sejak 2021 silam atau di tahun ketiga. Terdapat 3 jenis kurma yang dibudidayakan, yaitu Sukaree, Balhe, dan Khalaz.

“Tahun ini masuk pembuahan pertama, walaupun pada 2021 sudah mulai belajar berbuah atau keluar mayang. Pentil buah saat itu masih kecil, belum normal. Istilah kita mulai belajar pecah ketuban,” kata Ketua Tim Owtani Pengelola Ukhuwah Datu Pola Nyakap, Suharman, di sela-sela panen perdana sekaligus pengambilan sampel kurma untuk festival, Kamis, 23 November 2023.

Di area ini, tertanam 38 pohon kurma. Dari jumlah itu, hanya 35 pohon sudah belajar berbuah. Ditaksir dari seluruh pohon yang sudah berbuah itu, mampu menghasilkan buah di periode 1 tahun pertama sekitar 1 ton. Dengan harga pasar saat ini berkisar Rp 250 ribu – Rp 350 ribu per kg, dalam 1 pohon bisa menghasilkan omset awal Rp 5 juta – Rp 10 juta.

Di area ini pula, Ukhuwah Datu akan mengembangkan area budidaya. Setidaknya 10 lubang tanam sudah dipersiapkan untuk ditanami bibit yang berasal dari Kultur Jaringan.

Pembina Ukhuwah Datu Lombok Utara, John Arif Munandar, mengatakan potensi kurma terbaik di Indonesia terdapat di 2 provinsi, yaitu NTB dan NTT. Untuk di NTB sendiri, titik lokasi potensialnya ada di Lombok Utara.

Pada tahun 2020 silam, potensi kurma Lombok Utara sudah tercium oleh pegiat kurma, baik dalam dan luar negeri. Ketika itu, Ukhuwah Datu diundang mengikuti festival. Hanya saja statusnya masih sebagai peserta pasif. Keadaan tersebut masih berlanjut pada 2021 dan 2022.

“Perkiraan kita, butuh waktu 5 tahunan baru bisa naik panggung. Tetapi tanpa diduga, 2023 kita sudah diundang sebagai pembicara pada Forum Internasional,” ungkapnya.

Uwaq Dolah – sapaan akrab Aris Munandar, menjelaskan hadirnya Ukhuwah Datu pada Forum Khalifa International Date Palm and Agriculture di Jakarta merupakan sebuah prestasi tersendiri. Pasalnya, organisasi penyelenggara kurma tersebut berada di bawah naungan Kementerian Pertanian dan Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA). Untuk diakui oleh asosiasi tersebut butuh proses dan pembuktian yang panjang.

“Kita diminta hadir bukan karena kualitas kurma, tetapi karena konsep Nyakap yang merupakan Kearifan Lokal dari budaya masyarakat kita,” sebutnya.

Konsep Nyakap ditiru oleh Ukhuwah Datu setelah melewati penggalian informasi dan fakta implementatif di masyarakat. Bahwa, Nyakap merupakan bentuk kerjasama antara pemilik lahan, pemodal dan pengelola dengan skema bagi hasil. Warisan budaya ini pertama kali dilaksanakan oleh leluhur masyarakat suku Bali dan suku Sasak (Lombok).

“Setelah dikaji lebih jauh, konsep pengelolaan ini ternyata sesuai dengan hukum fiqih berupa Mudharabah. Ini yang menarik, kita diminta menerangkan konsep Nyakap di hadapan perwakilan 96 negara di Jakarta yang ikut Festival di Abu Dhabi,” terangnya. “Karena memang semua investor tidak mau rusuh, mau berusaha dengan nyaman dan aman. Maka, kesimpulan kita, Nyakap-lah solusinya,” tambahnya.

Dengan konsep Nyakap itu, Ukhuwah Datu  Lombok Utara sudah mendapat komitmen investasi dari 12 provinsi (asal pengusaha dalam negeri). Dimana Ukhuwah Datu memiliki proyek pengembangan budidaya Kurma pada areal seluas 1.000 hektar di Lombok Utara.

Sementara, Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH., mengapresiasi keberhasilan Ukhuwah Datu Lombok Utara dalam eksistensi usaha budidaya kurma. Melihat besarnya apresiasi organisasi Internasional terhadap Kurma Lombok Utara dan konsep budidayanya, ia pun menekankan agar Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) KLU merancang program yang terintegrasi dengan pengembangan kurma di masa depan.

“Saya minta kepada Dinas Pertanian, tugasnya untuk mengembangkan. Tempat-tempat potensial agar diperluas,” pintanya.

Patut disyukuri menurut dia, meskipun wilayah Lombok Utara memiliki karakteristik lahan kering, namun iklimnya cocok untuk mengembangkan kurma. Komoditas yang awalnya hanya bisa dilihat di negara-negara Arab itu, kini sudah bisa ditanam di Lombok Utara. (ari)