Integrasi Pertanian dan Wisata, Djohan Instruksi Dinas Teknis Programkan Pembibitan Kurma

0
Djohan Sjamsu tengah memetik sampel Kurma untuk dibawa ke Festival di Abu Dhabi. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, mengeluarkan instruksi lisan kepada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan KLU, agar merancang program pembibitan Kurma untuk masyarakat luas. Arahan ini ia keluarkan di sela-sela panen perdana pengambilan sampel Kurma pola Nyakap di Dusun Jugil, Desa Samik Bangkol, kecamatan Gangga, Kamis, 23 November 2023.

“Untuk Pak Kadis Pertanian, supaya ke depan bisa diprogramkan pembibitan kurma ini. Berikan ke masyarakat, agar ditanam di kebun masing-masing,” ungkap Bupati.

Ia menginginkan, setiap desa dan kecamatan di Lombok Utara yang memiliki potensi dan kecocokan iklim untuk budidaya Kurma, tertanam pohon Kurma. Misi ini membawa 2 manfaat sekaligus bagi masyarakat dan pemerintah, yakni menambah alternatif daerah wisata Kurma, dan meningkatkan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.

Tahun 2023 ini, arus kunjungan wisatawan ke Lombok Utara, kata Djohan sudah mencapai 500 ribu lebih orang. Dengan hadirnya Wisata Kurma kelak, ia meyakini akan menambah daftar Wisatawan. Bahkan pengunjung bisa bervariasi, tidak hanya kawasan Eropa dan Amerika atau Asia Timur saja, tetapi juga dari Timur Tengah atau tamu dari negara-negara Arab.

“Memang banyak orang heran, Kurma biasanya tumbuh di Arab, tetapi sekarang tumbuh subur di KLU. Ya, Alhamdulillah, ini patut kita syukuri.”

“Melihat Kurma tumbuh subur dan cepat berbuah, tentu Pemda harus melanjutkan apa yang menjadi ikhtiar Ukhuwah Datu dalam mengembangkan Kurma,” sambungnya.

Djohan menyambung, berdasarkan keterangan Ukhuwah Datu selaku Pengelola Kurma, Lombok Utara sangat cocok menurut kajian klimatologi dan jenis tanah. Hadirnya budidaya secara massif akan menghadirkan dampak luar biasa, terutama pengenalan dunia luar terhadap keberadaan Lombok Utara.

“Tentu seluruh Indonesia akan melihat dan bertanya, mana Lombok Utara. Kita tidak hanya dikenal dari Pariwisata pantai saja, tapi juga kurma. Komoditas yang tadinya hanya bisa tumbuh di Arab, ternyata di KLU, tanah Arab juga ada,” terangnya.

Demikian dengan pola Nyakap, ia mendorong agar konsep tersebut dipertahankan. Sebagai sebuah warisan budaya, kearifan lokal itu tidak memiliki dampak negatif sedikit pun bagi para pihak untuk jangka panjang. Pemilik lahan tidak kehilangan tanahnya, kemudian pemodal tidak mengeluarkan investasi pembelian lahan, serta pengelola tanaman juga memiliki lahan pekerjaan untuk waktu yang lama.

“Kita mengapresiasi bahwa sudah ada (pengusaha dari) 12 Provinsi yang menjadi pemegang saham pada areal 1000 Hektar. Petani tidak rugi, hasilnya juga dibagi secara adil.”

“Kemarin ini saya didatangi dari Pengusaha asal Tunisia yang kebetulan istrinya orang Aceh. Dia datang ke rumah dan menyatakan minat untuk investasi. Saya bilang, silahkan saja,” tandasnya. (ari)