Pelebaran Jalan Nasional, Dua Warga Masih Menolak Kompensasi Pemerintah

0
Jalan 2 lajur sudah mulai dibangun. Dalam prosesnya, masih ada 2 orang pemilik lahan yang menolak pembebasan lahan. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Pelebaran Jalan Nasional di Kabupaten Lombok Utara (KLU) tampaknya masih terkendala pada pembebasan lahan. Khususnya di ruas jalan protokol – Kota Tanjung dengan desain 2 lajur, pembebasan lahan masih terkendala pada 2 orang warga.

Diakui Kepala Dinas PUPR Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Lombok Utara, Kahar Rizal, ST., MT., di ruang kerjanya, Selasa, 21 November 2023, sebanyak 2 orang warga masih belum mau menerima kompensasi yang ditawarkan pemerintah sesuai harga penaksiran Tim Apraisal.

Kendati tidak menyebutkan nominal yang ditawarkan kepada pemilik lahan, namun harga taksiran yang disodorkan ke pemilik mencakup biaya kompensasi bangunan dan lahan seluas yang akan dibebaskan untuk kebutuhan jalan nasional. “Dari total 130 orang, masih ada 2 orang lagi yang belum mau menerima,’’ ungkapnya.

Ia menuturkan, mulanya terdapat 4 orang pemilik lahan yang belum bersedia menerima kompensasi. Namun setelah melalui proses komunikasi antara dinas dengan pemilik, 2 orang pemilik bersedia menerima.

Sedangkan 2 orang lagi, hingga saat ini masih bersikeras dengan mengajukan permintaan harga yang cukup tinggi, bahkan melampaui harga taksiran Tim Appraisal. Kendati demikian, dinas masih akan mencoba melanjutkan komunikasi kepada 2 orang pemilik tersisa, sehingga pelebaran jalan nasional khususnya 2 lajur dari Tanjung ke Jenggala dapat berjalan lancar.

Adapun kedua titik lokasi pembebasan lahan, masing-masing berada di depan Lapangan Tanjung (sebelah Utara jalan). Bangunan ini berupa ruko. Satu titik lagi berada di Dusun Tanak Song, Desa Jenggala.

Ketika ditanya terkait upaya pembayaran melalui Pengadilan, Kahar Rizal mengaku sedang mempertimbangkan upaya tersebut. Jika komunikasi lanjutan berujung buntu, maka Pemda akan menempuh langkah konsinyasi.  “Bagaimanapun, nilai yang disiapkan Pemda adalah senilai bangunan dan tanah yang ada di jalur pembebasan,” imbuhnya.

Ia menyambung, pada jalur yang sudah dibebaskan, Pemda sudah merekonstruksi jalan 2 lajur dari sebelah timur Jembatan Sokong. Konstruksi ini akan berlanjut hingga ke depan Masjid Tanak Song, Desa Jenggala.

“Konsep 2 lajur sudah mulai dibangun. Pembatas sudah terpasang, setelah itu selesai semua, akan diaspal ulang. Karena pengaspalan saat ini, itu baru konstruksi dasarnya saja,” pungkas Kahar. (ari)