Perkuat Cadangan Pangan, Dampak Perang Palestina-Israel Bisa Merambat ke NTB

0

Mataram (Suara NTB)– Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry A Harahap mengingatkan, Nusa Tenggara Barat juga harus mewaspadai dampak dari perang Palestina dan Israel, ditengah ketidakpastian kapan akan berakhir.

Ditambah lagi perang Rusia dan Ukraina yang belum juga menuunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Salah satu dampak dari perang-perang tersebut adalah terhambatnya distribusi kebutuhan antar negara.
“Apalagi Timur Tengah adalah penghubung antar negara-negara dunia yang ada di utara dan selatan. Begitu juga dengan perang Rusia dan Ukraina sangat mempengaruhi distribusi barang-barang kebutuhan antar negara,” katanya.

Kendati saat ini belum terlihat dampak langsung, karena pergerakan distribusi barang antar negara masih berjalan. Tetapi menjadi kekhawatiran adalah kedepannya.
“Karena kita ndak tau hasilnya kayak apa ini. Mungkin yang paling dikhawatirkan adalah ekspor bahan makanan itu dibatasi sekali. Seperti terigu, beras. Itu yang mengkhawatirkan sebenarnya kalau ada kelangkaan,” imbuhnya.

Berry menambahkan, pengaruh perang bisa juga berdampak ke nilai tukar mata uang. Biaya impor akan menjadi naik. Sebagai antisipasi dampak perang, menurutnya, Nusa Tenggara Barat sebagai daerah yang masih subur untuk produksi pangan harus melakukan antisipasi dengan menjaga produksi pangan lebih baik.

Sehingga bisa menekan kenaikan-kenaikan harga. Bilamana, kebutuhan yang didatangkan dari luar negeri tersendat karena perang.
“Pemerintah daerah bersama semua stakeholders di daerah ini bisa sama-sama menguatkan untuk memproduksi komoditas pangan,” imbuhnya.

Menurutnya, peningkatan produksi pangan di Nusa Tenggara Barat masih sangat memungkinkan dilakukan. Apalagi, tingkat produktivitas pangan di daerah ini masih lebih rendah dibandingkan di Pulau Jawa.

Artinya, solusi-solusi pertanian pangan harus digalakkan. Misalnya, dengan mendorong petani menggunakan benih komoditas yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, atau menggunakan benih yang tidak membutuhkan air cukup banyak.

Begitu juga penerapan teknologi pertanian pangan harus semakin massif digalakkan. Selain itu, manajemen pengelolaan hasil produksi pangan juga harus dilakukan lebih baik. Sehingga cadangan pangan Nusa Tenggara Barat menjadi lebih kuat menghadapi situasi apapun.

Bank Indonesia sendiri, menurut Berry tetap berada di pasaran untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap kuar terhadap nilai tukar mata asing.
“Kita akan menjaga nilai tukar itu di fundamentalnya. Tidak hanya dikita. Di banyak negara juga nilai tukar melemah karena ketidakpastian. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan sejumlah langkah-langkah strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas sumber daya alam,” demikian Berry.(bul)