Intervensi Kekeringan, Sekda Setuju Tambah Anggaran

0

Tanjung (Suara NTB) – Sekda Kabupaten Lombok Utara (KLU), Anding Duwi Cahyadi, S.STP., MM., mengindikasikan untuk menyetujui menambah anggaran untuk mengintervensi dampak kekeringan di Lombok Utara. Ia tak menampik, dampak kekeringan tahun ini mendorong masyarakat untuk mengajukan permintaan distribusi air bersih secara berkala.

“Untuk mengatasi dampak kekeringan, mau tak mau, anggaran harus kita siapkan. Kemarin Pak Kalak BPBD sudah datang ke saya, meminta distribusi air ditambah,” ungkap Sekda, Jumat, 6 Oktober 2023.

Pada kesempatan itu, Sekda tak menyebut alokasi anggaran persis yang nanti disiapkan dalam anggaran APBD perubahan. Hanya saja, pihaknya akan mencoba untuk menyesuaikan dengan permintaan masyarakat serta kemampuan keuangan daerah.

Sekda juga mendorong, agar seluruh instansi yang memiliki sarana transportasi air bersih untuk turun secara rutin memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Pasalnya, jumlah warga yang terdampak kekeringan pada tahun ini masih cukup banyak, yaitu mendekati 19.000 jiwa.

Menurut Anding, penanganan dampak kekeringan tidak cukup mengandalkan anggaran Kabupaten saja. Daerah dalam hal ini, berharap adanya dukungan dari NGO, Lembaga Zakat, PMI, baksos parpol hingga instansi vertikal seperti Polres, maupun dukungan BPBD Provinsi NTB.

Terpisah, Kalak BPBD KLU, H. M. Zaldy Rahadian, ST., menyampaikan jumlah warga terdampak kekeringan di Kabupaten Lombok Utara masih cukup tinggi. Berdasarkan data validasi BPBD Lombok Utara, warga yang terdampak kekeringan sebanyak 18.963 jiwa atau setara 5.899 Kepala Keluarga (KK). Mereka tersebar di 48 dusun yang ada di 15 desa dan 5 kecamatan.

“Pada APBD murni, alokasi air bersih untuk masyarakat sejumlah 300 tangki. Kita berharap ada tambahan pada APBD – Perubahan,” aku Zaldy.

Zaldy menyebutkan, warga terdampak kekeringan masih berada di semua kecamatan. Rincian menurut kecamatan meliputi, 2 desa di Kecamatan Pemenang dengan sebaran warga terdampak di 4 dusun. Jumlah warga terdampak sebanyak 247 KK atau setara 740 jiwa.

Di Kecamatan Tanjung, jumlah warga terdampak paling sedikit hanya ada di 1 dusun di Desa Sokong yaitu Dusun Tuti. Jumlah warga terdampak 150 KK atau setara 460 jiwa.

Selanjutnya di Kecamatan Gangga, terdapat 3 desa terdampak, yaitu Genggelang, Rempek dan Rempek Darussalam, dengan jumlah dusun terdampak yaitu 8 dusun. Di wilayah ini, jumlah warga terdampak sejumlah 1.345 KK atau setara 4.454 jiwa.

Di Kecamatan Kayangan, terdapat 3 Desa terdampak, yaitu Gumantar, Salut dan Selengen, dengan sebaran jumlah dusun terdampak sebanyak 15 dusun. Warga terdampak kekeringan mencapai 1.952 KK atau setara 5.992 jiwa.

Terakhir di Kecamatan Bayan, terdapat 6 desa terdampak yaitu Andalan, Gunjan Asri, Akar-Akar, Mumbulsari, Sukadana dan Anyar. Sebaran warga terdampak kekeringan berada di 20 dusun, dengan jumlah 2.232 KK atau setara 7.317 jiwa.

“Selama proses distribusi, ada beberapa titik yang meminta diantarkan air bersih secara mendadak. Misalnya hari libur, mau tidak mau, petugas lapangan kita harus melayani karena air adalah kebutuhan dasar,” tandasnya. (ari)