Polda Dalami Dugaan TPPO Warga Kabupaten Lombok Utara

0
Kuasa hukum korban saat melaporkan kejadian yang menimpa BH.(SuaraNTB/ils)

Mataram (Suara NTB) – Kepolisian Daerah (Polda) NTB, tengah mendalami kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) salah seorang warga berinisial BH dari Kabupaten Lombok Utara. “Iya, laporannya sudah kita terima. Tetapi masih kita pelajari dulu apakah sudah masuk unsur TPPO atau tidak,” kata Kasubdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTB, AKBP Ni Made Pujawati, Senin, 25 September 2023.

Pujawati pun meminta kepada pihak keluarga korban untuk diberikan waktu dalam mengungkap fakta di peristiwa tersebut. Selain itu, dia juga meminta agar diberikan surat rujukan kesehatan. “Nanti itu sebagai dasar kami untuk berkoordinasi dengan pihak kesehatan untuk mendapatkan faktanya seperti apa di kasus yang dilaporkan itu,” jelasnya.

Kuasa hukum korban Muhammad Saleh yang ditemui wartawan usai melaporkan kasus tersebut menjelaskan, bahwa korban direkrut oleh  Suryati dengan negara tujuan Timur Tengah pada Mei 2022 lalu. “Namun belum sampai di tempat kerja, dia dikabarkan tak sadarkan diri setelah jatuh di Bandara Riyadh, Arab Saudi saat mengantre untuk mengambil koper,” ujarnya.

Korban kemudian dibawa ke RS tedekat untuk menjalani pengobatan. Teman-teman korban, tidak ada yang menemani BH selama di RS karena mereka sudah ditunggu majikannya. “Kami dapat info itu dari temannya melalui sosial media pada 6 Juni 2022,” sebutnya.

Setelah kejadian tersebut keluarga tidak pernah mendapat kabar dari korban. Beberapa bulan selanjutnya, tepatnya 3 September 2022 BH dijemput keluarga bersama calo pergi menjemput korban. “Saat ingin menjemput korban, keluarga belum ada yang tahu kondisinya karena calo tidak memberikan informasi,” ujarnya.

Keluarga korban yang menjemput langsung kaget. Karena saat berangkat BH dalam keadaan sehat, cantik dan penuh semangat. Tetapi kondisinya saat ini sudah tidak bisa berbicara dan lumpuh. “Tidak bisa duduk. Badan dan tangan kanan sakit tidak bisa digerakkan bahkan disentuh, berbicara pun tidak bisa hanya bahasa isyarat,” tambahnya.

Keluarga korban kemudian mengadakan audiensi dengan calo. Hasilnya, pihak calo akan membiayai seluruh biaya pengobatan BH. Namun, iktikad baik itu pihak keluarga tidak diindahkan. “Kita meminta agar Suryati, segera memberikan biaya ganti rugi seperti yang dijanjikan,” tukasnya. (ils)