Loteng Bangun Pabrik Tepung Tapioka, Kapasitas Produksi 10 Ton Per Hari

0

Praya (Suara NTB) – Memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat, tahun ini Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) sedang membangun pabrik tepung tapioka di Pancor Dao Desa Aik Darek Kecamatan Batukaling. Pabrik ini nantinya akan mampu memproduksi tepung tapioka hingga 10 ton per hari. Dan, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan tepung tapioka di Loteng ke depannya.

“Bahkan kita berharap produksi pabrik ini bisa memehuhi kebutuhan pasar tepung tapioka di luar Loteng,” terang Kepala Badan Perencanaan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperinda) Loteng, L. Wiranata, kepada Suara NTB, di ruang kerjanya, Selasa, 19 September 2023.

Rencananya, pembangunan pabrik tepung tapioka pertama di Loteng tersebut bisa selesai akhir tahun. Sehingga awal tahun depan, pabrik sudah bisa berproduksi menghasilkan tepung tapioka yang merupakan salah satu bahan utama pembuat kue dan jajanan lainnya. Tidak hanya itu, keberadaan pabrik tersebut dinilai memiliki prospek yang baik, melihat potensi pasar yang ada.

“Bulan Desember nanti pabrik ini direncanakan sudah bisa diujicobakan. Sekaligus akan diresmikan oleh Bupati Loteng,” jelasnya.

Tidak kalah penting, pabrik tersebut bisa menyerap tenaga kerja lokal yang ada di sekitar pabrik.  Lebih luas lagi, keberadaan pabrik tepung tapioka itu bisa menyerap produksi ubi kayu di Loteng sekaligus bisa mendorong minat masyarakat untuk mengembangkan dan membudidayakan ubi kayu yang merupakan bahan baku utama tepung tapioka. Mengingat, selama ini minat masyarakat mengembangkan ubi kayu masih rendah, karena terkendala pasar serta harga jual.

Tapi dengan keberadaan pabrik tepung tapioka tersebut, selain bisa menjamin kepastian pasar bagi produksi ubi kayu masyarakat di daerah ini. Tetapi juga bisa menjaga stabilitas harga jual ubi kayu, karena nanti ada standar harga yang akan ditetapkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat bisa lebih tenang saat menjual ubi kayu.

Disinggung rencana pengelolaan pabrik tepung tapioka tersebut, Wiranata mengungkapkan, ada tiga opsi yang tengah dipersiapkan. Pertama, langsung dikelola oleh pemerintah dengan membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT). Opsi kedua dengan membentuk perusahaan daerah (perusda) serta menyerahkan pengelolaan ke pihak ketiga dengan sistem bagi hasil.

“Tiga opsi ini yang tengah dipertimbangkan. Mana yang kira-kira lebih menguntungkan. Baik itu dari sisi pemerintah maupun masyarakat,” ujarnya.

Pembangunan pabrik sendiri akan menghabiskan anggaran mencapai sekitar Rp 12 miliar. Itu sudah termasuk peralatan pendukung lainnya, sehingga produk tepung tapioka yang dihasilkanya di pabrik itu nantinya sudah dalam bentuk produk jadi dalam bentuk kemasan siap jual. (kir)